Premanisme Dalam Alunan Musik
Tulisan ini merupakan sebuah bentuk kegelisahan serta kekecewaan saya terhadap bergesernya karakter bangsa kita yang katanya ramah, sopan, santun, kekeluargaan, beradab. Karakter bangsa kita saat ini telah tergadaikan oleh urusan perut yang selalu menuntut untuk diisi tiga kali dalam sehari. Kegagalan pemerintah kah? (semoga kita tetap optimis bahwa pemerintah kita selalu bekerja dengan sepenuh hati demi perbaikan keadaan bangsa).
Sebuah kisah pribadi yang saya alami ketika beberapa bulan yang lalu (bukan ketika musim mudik lebaran) saya pulang ke Cirebon, pengalaman yang saya rasa biasa namun akhir-akhir ini mengusik ketentraman nurani. Saya mencoba menuangkan pengalaman ini berdasarkan kronologis kejadian sesungguhnya dan narasi yang sedikit figurativ agar dapat terdeskripsikan dengan jelas.
Inilah kisahnya !
Cirebon, ............ 2011
Pukul 13.00, Bhineka Sangkuriang berwarna merah itu memasuki gerbang Terminal Harjamukti Cirebon. Terlihat pantulan matahari yang begitu menyengat di luar sana, sangat kontradiktif dengan keadaan di dalam yang sejuk oleh semilir lembut hembusan angin dari AC yang terletak tepat di atas kepala. Penumpang yang tersisa saat itu tidak lebih dari sepuluh orang, namun suasana sangat ramai oleh tangisan seorang bayi kecil yang merengek meminta sang ayah untuk menggendongnya.
Bunyi rem berdenyit, diikuti oleh suara khas sang kondektur “Terminal abis, terminal abis!”. Satu persatu penumpang turun, namun saya tidak terburu-buru untuk turun karena sibuk oleh bungkus tahu sumedang yang berserakan di kursi saya dan tentu saja harus saya bereskan terlebih dahulu. Setelah selesai, saya berdiri kemudian menggendong tas hitam yang entah berapa kilogram beratnya saat itu namun yang pasti sangat terlihat berisi, saya berjalan di belakang seorang ibu yang saya terka usianya berkisar 50 tahun an. Ketika si ibu itu berada tepat di samping sang supir, si ibu dengan lembut mengatakan “Terimakasih pak...” kepada sang supir diiringi dengan senyuman kemudian mengatakan “Bismillah” seraya menginjakan kakinya ke tanah. Jiwa saya saat itu seolah tertiup hembusan energi batiniah yang secara luar biasa ditiupkan dengan halus oleh Tuhan melalui kejadian yang sangat sederhana, sang ibu begitu berterimakasih kepada sang supir yang dengan ikhlas mengemudikan sebongkah besi bermesin ini selama kurang lebih 5 jam perjalanan (manusia tidak akan mungkin hidup seorang diri, sang ibu bisa sampai tempat tujuan karena Tuhan memberikan kekuatan bagi sang supir untuk selalu terjaga dan mengemudikan kendaraan ini dengan baik), sang ibu begitu menyadari bahwa Tuhan memiliki kuasa atas hal terkecil di dunia ini, ketika akan menurunkan kakinya yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari tanah, ia masih menyebut nama Tuhan (sebuah pengakuan diri bahwa manusia tidak akan pernah mampu mengatur durasi hidupnya sendiri, meskipun hanya berjarak beberapa sentimeter saja, belum tentu kita masih mampu menghembuskan nafas ketika kaki kita telah menyentuh tanah).
Kesejukan batin yang saya rasakan ketika mencoba menghayati kejadian tersebut sesaat kemudian tersadarkan oleh bau khas suasana Cirebon, semilir angin AC segera digantikan oleh teriknya matahari siang itu. Panas, begitulah satu-satunya kata yang dapat mendeskripsikan daerah pesisir pantai utara ini (teman-teman saya selalu berkata begitu).
Langkah pertama saya ketika turun dari bus diikuti oleh beberapa tukang becak yang menawarkan jasanya, namun wajah mereka menunjukan kekecewaan ketika saya dengan terpaksa harus menolak jasa yang mereka tawarkan karena memang tempat yang akan saya tuju sangat tidak mungkin untuk ditempuh menggunakan becak. Ketika semakin mendekati pintu gerbang terminal, para kondektur mobil elf seolah berlomba menawarkan trayek yang mereka miliki “Babakan, Ciledug, Kuningan, Sindang” sehingga seolah nama-nama trayek itu berjejal masuk ke dalam telinga saya. Saya menganggukan kepala ketika seorang kondektur elf menawarkan trayeknya “Babakan bos?” Wajah sumringah dari kondektur paruh baya itu tidak bisa ditutupi, dengan seksama ia mengantarkan saya ke sebuah elf dengan warna oranye yang cukup menyala. Hanya empat orang saja yang berada di dalam elf itu, “Pantas si kondektur begitu senang ketika saya mengatakan tempat yang ingin saya tuju, penumpangnya masih sedikit” (Pikir saya dalam hati)
Bersambung....
Sebuah Interpretasi sederhana terhadap masalah yang sederhana namun sesungguhnya sangat kompleks untuk diperbincangkan. Kita terkadang terjebak oleh berbagai hal yang dianggap umum dan menganggap itu sebagai sebuah kebenaran.
Selasa, 27 September 2011
Rabu, 21 September 2011
Gelap
Ketika matahari tertutup awan mendung...
Ketika gerhana menyelimuti gelap malam...
Ketika bintang seolah enggan menampakan elok rupanya...
Dunia hilang!
Hembus angin meniup lembut kemesraan dunia...
Tuhan turun bersama tetesan keringat dunia, menegur umatnya dengan gemuruh...
Dunia itu pasti kembali...
Seelok lantunan doa pagi..
Seriang celoteh bayi..
Matahari itu pun muncul..
Menyinari setiap sinar-sinar yg sempat tidak nampak bersinar..
Kehidupan...
Ketika gerhana menyelimuti gelap malam...
Ketika bintang seolah enggan menampakan elok rupanya...
Dunia hilang!
Hembus angin meniup lembut kemesraan dunia...
Tuhan turun bersama tetesan keringat dunia, menegur umatnya dengan gemuruh...
Dunia itu pasti kembali...
Seelok lantunan doa pagi..
Seriang celoteh bayi..
Matahari itu pun muncul..
Menyinari setiap sinar-sinar yg sempat tidak nampak bersinar..
Kehidupan...
Langganan:
Komentar (Atom)