Rabu, 24 Oktober 2012

Aku Ingin Lelap

Jika tak dapat ku temui gelapnya mentari Izinkanlah ku genggam terangnya Saat bintang enggan menghias hari yang masih dini Hatiku menengadah dalam tertunduk Memohon dalam fana Untuk menyemai bulir cinta Telah banyak lelap yang kulakukan tanpa lelah Dan keluh yang hinggap tiap tetes peluh Bukan saat tawa yang sedih Namun tangis yang gembira Untuk goresan bahagia Rajutan mimpi mengerlingkan mata syahdu Memohon disematkan agar angan terselimuti Aku menoleh dan tertarik padanya Kata keindahan dan kecantikan kan ku tukar walau tak melampaui Untuknya, ku titipkan pada awan samar yang masih terjaga Cirebon dinihari, 3 Juni 2012

Mengurai Makna Kehidupan Politik Indonesia

Konsepsi baku yang menyatakan bahwa suatu sistem politik negara mencerminkan desain kebudayaannya seolah menjadi “tamparan” keras bagi setiap pelaku politik bangsa ini. Panggung politik seolah hanya menjadi tempat nyanyian nada-nada sumbang tentang korupsi, kecurangan, skandal, dan pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat yang membuat telinga rakyat terlalu sakit untuk mendengarnya. Jika hal-hal negatif tersebut yang selalu menjadi sajian dari para elit politik bangsa ini, dimana letak cara berpolitik yang mencerminkan kebudayaan bangsa? Dan makna apa yang terkandung dari peran antagonis yang sedang dimainkan oleh para politisi era sekarang? Kesadaran para politisi menyimpang ini seolah berada pada titik nadir untuk menyadari bahwa ketika mereka telah duduk sebagai pejabat publik, maka setiap gerak langkahnya haruslah menempatkan kepentingan bangsa sebagai prioritasnya dengan rasio nol persen untuk keinginan memperkaya diri. Selain itu, para pejabat publik dalam hal ini adalah para politisi juga merupakan agen pengimplementasi nilai-nilai intelektualitas kebangsaan melalui sistem politik yang berbudaya berbasis nasionalisme sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para pemimpin terdahulu. Dua konsep dasar tersebut (mendahulukan kepentingan rakyat dan agen intelektualitas kebangsaan) nampaknya sangat sulit untuk ditemukan dalam diri mayoritas politisi kita jika melihat realita yang terjadi saat ini. Padahal jika berangkat dari kayakinan bahwa tata cara berpolitik harus berangkat dari sistem kebudayaan yang berlaku di bangsa itu sendiri, Indonesia dengan pancasilanya seharusnya mampu menjadi bangsa yang memiliki kultur budaya politik modern terbaik di dunia. Pancasila sebagai ideologi hasil perasan sari pati unsur-unsur kebudayaan masyarakat Indonesia mampu menghasilkan lima pilar penting dalam mengelola suatu bangsa. Di masa awal lahirnya Pancasila, konsep-konsep luhur yang tersirat didalamnya seolah menjadi sinar dari sebatang lilin di tengah ruangan besar yang gelap gulita. Tidak menerangi seisi ruangan namun hanya area yang dekat dengan pusat sinar tersebut saja, akan tetapi dari area yang tersinari itulah yang mampu menarik perhatian orang-orang yang berada jauh dari jangkauan sinar (pancasila) untuk mendekat dan membangun kehidupan bersama-sama menggunakan satu cahaya yang digunakan dengan sebaik-baiknya. Pancasila lahir dari rahim ibu pertiwi yang belum memiliki dignity karena terjajah berabad-abad, namun dari situlah muncul hasrat untuk meraih kembali martabat bangsa dengan mengusung pancasila dalam setiap nafas kehidupan masyarakatnya. Pancasila menjadi senjata untuk menunjukan jati diri bangsa yang tidak berhaluan blok barat atau blok timur, tetapi dari Pancasila lahir sebuah pemikiran cerdas untuk BERDIKARI yang menginspirasi negara-negara bekas jajahan di Afrika untuk bangkit. Pancasila begitu berkontribusi dalam melahirkan pikiran-pikiran independen yang tidak hanya bermanfaat untuk bangsanya sendiri namun mengalirkan fikiran-fikiran keindonesiaan ke seluruh dunia. Pancasila tidak tergoyahkan dan tergantikan oleh ideologi-ideologi lain yang mencoba merasuki tubuh bangsa Indonesia, bahkan meskipun harus ditebus dengan linangan air mata darah dan nyawa sekalipun (ingat kejadian G30S/PKI) Pancasila tidak boleh runtuh dari bumi Indonesia. Sejarah membuktikan bahwa kecintaan terhadap pancasila mampu menggagalkan berbagai usaha pengambilalihan harkat dan martabat bangsa oleh pihak-pihak yang berkhianat. Dalam perkembangannya, pancasila sebagai produk budaya terbaik bangsa ini seolah termarjinalkan fungsinya. Tidak lagi menjadi dasar dalam langkah pengelolaan bangsa, tetapi hanya menjadi tameng/dalih untuk meraih simpati rakyat dan menutupi intrik-intrik busuk politisi nakal. Berbagai kasus hukum yang menjerat para politisi Indonesia saat ini seolah membuktikan bahwa mereka sudah kehilangan pemahaman terhadap bagaimana cara untuk menciptakan atmosfer “budaya” dalam kehidupan berpolitik. Di mana letak Tuhan ketika mereka mengkorup uang rakyat? Di mana kemanusiaan yang adil dan beradab ketika bersikap congkak dan acuh tak acuh dengan jeritan rakyat yang kelaparan? Di mana letak persatuan Indonesia ketika dalam panggung politik terjadi pengkotak-kotakan kepentingan hanya karena berbeda warna partai? Di mana letak kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan ketika diberikan amanat untuk mewakili rakyat bermusyawarah di parlemen justru digunakan untuk berdebat dengan lawan politik dan mengabsurdkan substansi permasalahan? Di mana letak keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ketika aksesibilitas terhadap fasilitas dan kebutuhan masyarakat umum terbentur oleh sekedar birokrasi ataupun papan nama mulia seorang pejabat? Ketika masalah-masalah itu yang selalu menjadi pertanyaan bagi nalar kritis rakyat Indonesia, maka seketika itu pula menandakan bahwa para politisi bangsa ini belum mampu mengecap apa rasanya memiliki Pancasila sehingga sulit untuk menggunakannya. Jika melihat masalah yang terurai di atas, para politisi bangsa ini seolah menjadi aktor antagonis dalam drama kehidupan kebangsaan. Politisi tercitrakan sebagaimana kaum pembual (mengobral janji saat kampanye, setelah itu amnesia akan janji yang diucapkannya), menjadikan politik sebagai tambang emas untuk mendulang harta secara instan, musuh besar bagi penegakan hukum padahal hukum itu sendiri dibuat dan disahkan oleh mereka, berpura-pura baik dan bersahaja padahal menggigit di belakang, dan lainnya. Para politisi bangsa ini harus segera mempelajari kembali esensi dan peran pancasila untuk menberikan kesadaran tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Santunlah dalam berpolitik dengan sebenar-benarnya bukan karena semata-mata pencitraan. Bagaimana untuk berpolitik dengan santun? Gunakan pancasila sebagai produk kebudayaan kita untuk kehidupan politik yang berbudaya, itu saja.

Purnama

Purnama mengintip dari rimbunnya daun mangga Menyelinap pada jendela kamar Membisik malu tentang muda-mudi di sana Yang menggunakan cahayanya sebagai alas cinta Cirebon, dini hari 2012