Selasa, 24 Mei 2011

Binatang Dalam Bahasa Manusia

Binatang Dalam Bahasa Manusia

Berbahasa merupakan kegiatan rutin yang selalu dilakukan oleh  manusia. Menggunakan bahasa tidaklah sulit, setiap orang pasti menggunakannya sebagai media komunikasi. Bahasa pula dapat menjadi alat pengembangan budaya bagi suatu bangsa serta sebagai pencitraan identitas diri. Tanpa adanya bahasa maka tidak akan terjadi kemajuan budaya di dunia ini.
Bahasa adalah seperangkat bunyi yang sistematik. Hal tersebut berarti bahasa memiliki seperangkat sistem tertentu yang dimiliki oleh para penuturnya. Hal inilah yang menentukan struktur apa yang akan diucapkan. Bukti bahwa bahasa itu sistematik adalah dengan pemakaian bahasa dan kebiasaan berbahasa yang tidak diatur oleh lembaga tertentu. Aturan pemakaian dan kebiasaan berbahasa diatur oleh penggunanya masing-masing.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat, pengertian bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.
Bahasa itu arbiter, artinya bahasa disusun secara manasuka sesuai dengan konversi para penggunanya. Arbiter juga dapat diartikan secara kebetulan. Jadi bahasa lahir secara kebetulan akibat adanya interaksi komunikasi oleh para penuturnya. Namun demikian bunyi bahasa yang manasuka dan lahir secara kebetulan ini tentunya tetap memiliki arti. Oleh sebab itu arbiter bahasa juga simbolik. Hal ini berarti bahasa merupakan simbol-simbol tertentu yang memiliki makna bagi para penuturnya.
Bahasa sebagai alat pengembangan budaya tentu saja menjadi representasi karakter, kepribadian serta kearifan lokal penutur bahasa dalam budaya tersebut, ketika bahasa dituturkan dengan cara yang baik serta sistem yang begitu baik maka bahasa tersebut mampu membuat pendengarnya begitu menghargai dan mengakui keluhuran bahasa dan budaya yang diwakilinya. Dewasa ini masalah bahasa begitu kompleks bagi bangsa kita untuk diperbincangkan serta berusaha menemukan solusi pemecahannya, Indonesia belum siap untuk bersaing dalam era pasar bebas yang menuntut kemampuan berbahasa asing (tidak hanya bahasa Inggris) yang baik. Jangankan berbahasa asing, masih banyak rakyat Indonesia di penjuru negeri yang tidak memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia padahal mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia, mereka hanya memahami bahasa daerahnya saja. Namun bahasa daerah pun saat ini menyimpan banyak masalah yang begitu mendasar namun dapat merusak tatanan kebudayaan serta keluhuran budaya yang diwakilinya.
Memang bahasa dituturkan secara manasuka namun tetap memiliki makna, saya ingin mencoba membicarakan tentang penggunaan bahasa dalam cara berkomunikasi remaja yang sering menyisipkan nama binatang dalam obrolan mereka yang seolah telah menjadi kata pelengkap wajib yang apabila dihilangkan akan memengaruhi makna dan tujuan yang ingin disampaikannya.
Kita mungkin sudah begitu sadar bahwa ketika seseorang sedang dikuasai amarah yang begitu besar akan sulit mengontrol ucapan yang keluar dari mulutnya yang terkadang begitu kasar dengan berbagai umpatan yang menyertakan nama binatang sebagai penegasan akan kemarahannya, itu sudah dianggap wajar (meskipun sangat salah ketika tingkah laku yang buruk dianggap wajar) sebagai ekspresi kemarahan. Namun di zaman sekarang nama binatang seolah telah menjadi kata wajib dalam komunikasi remaja, bukan hanya ketika marah namun dalam komunikasi sehari-hari yang sebenarnya tidak memberikan makna apapun dalam konteks kalimat dan justru merusak tatanan kebahasaan baku yang selama ini digunakan dan menghilangkan keluhuran serta kearifan budaya lokal.


Paradigma yang berkembang di masyarakat sejak dulu adalah yang menggunakan bahasa kasar ketika sedang dikuasai amarah atau dalam komunikasi sehari-harinya adalah orang yang tidak berpendidikan, anak jalanan, supir angkutan umum, dan sebagainya. Namun saat ini justru para remaja sekolah bahkan tidak sedikit mahasiswa yang begitu fasih menggunakan kata-kata binatang dalam komunikasi diantara mereka yang sebenarnya tidak mencerminkan keluhuran ilmu pengetahuan yang telah didapatnya di bangku sekolah selama ini. Masalah inilah yang akan dikaji sebagai sebuah bentuk kepedulian akan perkembangan bahasa-bahasa dan keragaman kebudayaan di Indonesia, ketika kelompok masyarakat yang dianggap berpendidikan saja tidak mengaplikasikan hasil pendidikannya dalam unsur terkecil yaitu tingkah laku dalam berbicara (yang sebenarnya bahasa sangat mencerminkan karakter pengguna dan kebudayaan) maka apa jadinya bangsa kita, yang sangat ekstrim adalah berhenti dan hilangnya proses transformasi ilmu kepada masyarakat. Ketika anak jalanan mendengarkan pelajar atau mahasiswa menggunakan bahasa binatang dalam komunikasinya, mungkin yang akan dikatakan mereka adalah “apa bedanya dia dengan saya?”.
Saya hidup dan bergaul dengan dua komunitas sosial dan budaya yang berbeda sejak saya masuk sekolah menengah, komunitas yang berbahasa jawa/cirebon dan sunda. Saya sempat heran dan merasa tidak nyaman ketika rekan saya dari komunitas yang berbahasa jawa/cirebon mengumpat ketika marah dan mengeluarkan kata kirik yang berarti anjing, namun ternyata setelah semakin lama saya bergaul dengan mereka, kata kirik itu pun menjadi kata yang mereka gunakan sebagai alat berkelakar dan saling bercanda dengan sesama rekannya seperti menyebutkan nama rekannya dengan kirik, namun itu ditanggapi wajar dan dianggap sebagai alat perekat hubungan pertemanan, ironis memang. Saya hidup di daerah Kabupaten Cirebon yang notabene memiliki dua bahasa pergaulan yaitu jawa/cirebon dan sunda dan saya begitu jarang mendengar kata kirik atau anjing itu berseliweran dalam sistem komunikasi rekan-rekan saya mungkin hanya sekali-kali terdengar. Saya tercengang ketika saya mulai menjalin komunikasi dan bergaul dengan rekan-rekan di wilayah kota Cirebon, kata kirik digunakan dalam setiap akhir kalimat yang mereka ucapkan yang sebenarnya tidak memberikan pengaruh apapun bagi konten kalimat yang disampaikan dan justru menjadi terdengar aneh dan tidak efektif, contohnya sebagai berikut:
1.      “Kirik, kita maen futsal kalah bari kelase si Doni, tapi ora apa-apalah lumayan bisa deleng bocah wadon ning kelase si Doni, wadone ayu-ayu kirik”, mari kita coba menerjemahkannya ke bahasa sehari-hari dalam bahasa Indonesia “Anjing, saya main futsal kalah lawan kelasnya si Doni, tapi gak apa-apalah lumayan bisa ngeliat anak perempuan kelasnya si Doni, perempuannya cantik-cantik anjing”.
2.      “Sira maen gitare sih apik kirik kah”, terjemahan dalam bahasa Indonesia “Kamu  maen gitarnya sih bagus Anjing tuh”.
Kalimat-kalimat di atas hanya sebagian contoh kecil penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari yang aneh dan agak tidak nyaman di telinga, mari kita cermati kalimat-kalimat tersebut. Kalimat di atas semuanya sebenarnya secara tersirat memberikan pujian kepada lawan bicara atau objek pembicaraan namun kata Kirik dalam kalimat tersebut sangat tidak berkaitan dengan konteks memuji, justru menyebabkan kalimat itu menjadi memiliki makna yang tumpang tindih.
Keseharian mendengarkan cara berkomunikasi seperti itu menyebabkan saya harus selalu mencoba berusaha keras mengerti maksud dari setiap kalimat yang diucapkan  karena terkadang begitu cepat diucapkan dan kata Kirik itulah yang membingungkan (fungsi dan makna) harus ditempatkan sebagai apa.
Keanehan saya tidak berhenti disitu, ketika saya memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi di Bandung, saya menemukan sebuah kecenderungan yang sama tingkat keanehannya. Ketika saya mendengar rekan kampus saya berbicara dan berkomunikasi dengan sesamanya, mereka menggunakan kata Anjing disetiap akhir kalimat yang mereka ucapkan dan begitu sering. Sebagai contoh:
1.      “Maneh dicukur atuh buukna Anjing, urang ge dicukur. Ngabaturan urang atuh Anjing”
2.      “Urang tadi keur mangkat, labuh ti motor Anjing”
3.      “Arsitek teh cita-cita urang Anjing, tapi babeh urangna teu ngjinan Anjing, padahal mah indung urang ngjinan”
4.      “Alah, urang can ngerjakeun tugas Anjing. Keur peuting kasarean, cape Anjing geus maen futsal”
Kasus yang sama terjadi dalam kalimat-kalimat tersebut, kata Anjing berperan sebagai apa?. Tidak hanya sebagai penegasan kemarahan namun dalam memberikan informasi pun tetap menggunakan kata  Anjing. Bahkan kalimat-kalimat tersebut tidak hanya diucapkan oleh laki-laki, kaum perempuan pun sering mengatakannya namun dengan cara yang mereka anggap lebih halus, seperti: Anjis, Anjrit, Anying yang tetap saja merujuk kepada Anjing.
Oleh karena itu, menurut saya sangat tidak tepat ketika bahasa yang demikian disebut bahasa terminal atau anak jalanan namun telah menjadi bahasa yang menjalar ke tempat-tempat pendidikan dan tidak hanya digunakan oleh orang-orang dewasa atau remaja namun anak-anak diusia sekolah dasar pun sering menggunakannya, silahkan dengarkan cara berkomunikasi mereka. Padahal jika kita sadar, efek dari penggunaan bahasa yang demikian akan menyebabkan bergesernya pula kebanggaan kita akan bahasa itu sendiri. Mungkin kita sadar, kita hanya menggunakannya ketika berkomunikasi dengan  teman sebaya saja karena kita mengerti apabila kita menggunakannya kepada orang yang lebih tua akan membuat kita menjadi manusia yang tidak sopan. Namun ketika kita menyandingkan nama orang yang lebih tua dengan kata Anjing ketika kita berkomunikasi dengan teman sebaya, apakah itu sopan?.
Saya pun tidak memungkiri, terkadang terpengaruh untuk berkata-kata seperti yang disebutkan di atas. Karena memang lingkungan pergaulan dan begitu intensifnya mendengarkan kata-kata tersebut. Bahasa memang berkembang melalui pergaulan, hal-hal yang negatif dalam berbahasa pun dapat dengan begitu cepat berkembang didalam pergaulan. Selain itu kita harus sadar bahwa Tuhan menganugerahkan kepada diri kita dua telinga dan satu mulut, yang berarti kita memang akan lebih banyak mendengar segala macam bunyi yang bervariasi dengan ragam makna, ada yang baik dan buruk yang tentu saja semuanya akan masuk dan diterima oleh dua telinga yang kita miliki namun satu mulut yang kita miliki berarti kita akan lebih sedikit berbicara karena seharusnya apa yang kita ucapkan tidak akan sebanyak apa yang kita dengar karena ketika kita akan berucap harus ada koordinasi dengan hati dan akal kita, apakah yang akan kita ucapkan berupa kata-kata yang baik dan bermanfat atau sebaliknya. Alangkah indahnya ketika satu mulut yang kita miliki hanya mampu mengucapkan kalimat-kalimat yang terdiri dari kata-kata yang baik meskipun kita mendengar kata-kata yang begitu jelek dan tidak baik karena kita memiliki akal dan hati untuk menyaring segala keburukan yang kita dengar.
Kata Anjing menyebabkan konteks kalimat yang menjadi kabur dan justru menyebabkan kalimat tersebut menjadi tidak efektif  karena sesungguhnya tanpa kata Anjing pun makna kata tersebut tetap dapat tersampaikan. Sangat ironis ketika melihat sekelompok mahasiswa atau pelajar-pelajar sekolah menengah sedang berkumpul sambil minum kopi atau merokok dengan masih menggunakan seragam atau identitas institusi pendidikannya sedang berbincang satu sama lain dengan menggunakan bahasa yang seperti itu, seolah-olah telah hilang kebanggaannya akan ilmu pendidikan yang dimiliki dan sangat tidak mencerminkan sikap sebagai calon pemimpin bangsa. Kita harus sadar bahwa apa yang kita ucapkan adalah apa yang kita dapat dan sesungguhnya mewakili karakter dan kepribadian diri kita, sebenarnya ada dalih yang mengatakan bahwa penggunaan kata-kata seperti itu hanya diucapkan ketika dengan teman sebaya dan di luar itu tetap berbahasa normal seperti biasanya, namun apa salahnya kita mempertahankan sesuatu yang baik ditengah keburukan yang terjadi, karena ketika kita justru mengikuti keburukan sama saja sebenarnya kita tidak melakukan kebaikan karena telah mengalah atau mungkin kalah dan gagal mencegah keburukan.
Permasalahan ini mungkin sebenarnya sepele dan biasa saja karena ini hanya masalah berkomunikasi dan tidak berpengaruh apa-apa kepada sistem kebahasaan formal, namun saya melihat dari perspektif berbeda yaitu menyangkut akibat yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Bahasa sebagai media pengembangan budaya dan representasi dari karakter seseorang akan begitu sangat menarik perhatian bagi seseorang yang baru pertama kali berada dalam komunitas bahasa tertentu atau mungkin sedang berniat mempelajari kebudayaan tertentu, bahasa begitu mengambil peran dalam kasus ini. Saya teringat ketika seorang teman wanita saya yang berasal dari Aceh dan sangat tidak mengerti bahasa sunda kemudian mendengarkan sekelompok anak lelaki yang berbincang di kelas dengan menggunakan kata Anjing di setiap akhir kalimat, ia bertanya “Apa sih maksudnya anjing-anjing terus?” dan ada yang menjawab “Itu sebagai penegasan aja, gak ada artinya”. Lucu memang, tidak punya arti tetapi tetap digunakan dan begitu asyik menggunakan sesuatu yang tidak berarti. Salah satu akibat yang mungkin terjadi dari hasil komunikasi itu adalah mungkin rekan saya yang tidak mengerti bahasa sunda itu akan beranggapan negatif terhadap penggunaan bahasa sunda yang terkesan kasar (karena menyertakan binatang), dan menurut saya hal ini menyebabkan rusaknya pandangan seseorang terhadap sebuah budaya secara keseluruhan.
Bahasa begitu memiliki peran penting dalam segala aspek kehidupan tidak hanya masalah kebudayaan, karena kita akan sangat mudah menilai seseorang dari caranya berkomunikasi ataupun kata-kata yang keluar dari mulutnya. Apalagi ketika kita bertemu dengan seseorang yang baru kita kenal, caranya berbicara dan aksen yang digunakan akan sangat mempengaruhi serta mempermudah penilaian kita terhadapnya, kita akan dapat mengetahui dari mana asal, latar belakang pendidikan, karakter, dan lebih jauh lagi adalah lingkungan dan kebudayaan asalnya. First impression akan berpengaruh kepada apa yang kita nilai tentang sesuatu, ketika kita melihat dan menganggap sesuatu itu buruk ketika kita melihatnya untuk pertama kali, maka kita akan cenderung menganggapnya selalu jelek. Oleh karena itu, lebih baik selalu berkata-kata yang baik agar siapapun yang mendengarnya akan dapat dengan senang hati menilai segala yang kita miliki dan budaya yang kita bawa adalah baik.
Sunda yang selalu direpresentasikan dengan orang-orangnya yang lemah lembut, berirama ketika berbicara dan memiliki sopan santun yang baik mungkin saat ini hanya bisa dilihat pada segala tingkah laku orangtua kita karena para pemudanya begitu sulit meniru segala kebaikan yang dicontohkan oleh orangtuanya, jangankan dalam bertingkah laku yang sangat penuh dengan aturan, dalam berbahasa pun kita sangat sulit untuk menirunya, menghilangkan kata Anjing dalam komunikasi kita pun bagaikan sesuatu yang sulit karena mungkin kita akan merasa ada sesuatu yang kurang dan tidak lengkap.
Sebagai kesimpulan dari segala yang saya lihat, dengar dan rasakan bahwa cara berkomunikasi remaja dan orang-orang dewasa saat ini begitu jauh dari ekspektasi orangtua kita terdahulu, saya sangat terganggu dan merasa miris bahkan mungkin tidak nyaman ketika sekelompok pemuda (pelajar dan mahasiswa) sedang duduk melingkar ataupun nongkrok dengan didampingi kopi dan rokok yang dijepit menggunakan tangan kanan diantara telunjuk dan jari tengah kemudian dihisap secara perlahan dan mengepulkan asapnya ke udara (mungkin terlihat keren), kemudian mereka berbincang satu sama lain dengan kata-kata yang begitu kasar dan sangat tidak nyaman di telinga padahal mereka adalah remaja-remaja usia sekolah bahkan mahasiswa yang notabene calon pemimpin sebuah bangsa yang besar yaitu Indonesia. Memang tidak ada yang melarang hal tersebut dilakukan dan tidak ada dalam ayat al-quran yang menyatakan kopi dan rokok haram dan tidak ada Undang-undang yang mengatur bahwa penggunaan kata Anjing akan diberikan hukuman penjara seumur hidup ataupun mati. Tetapi mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, jangan dari masalah kebebasan ataupun hak yang dimiliki oleh masing-masing individu tetapi dari norma kepantasan atau sesuatu yang harus kita jaga. Status pendidikan yang kita sandang atau seragam yang kita gunakan merupakan tanggungjawab yang kita miliki, meskipun kita tidak bisa melakukan perubahan bagi bangsa kita secara keseluruhan alangkah baiknya kita minimal melakukan perubahan pada diri kita sendiri dengan menjaga perilaku, sikap dan kata-kata yang keluar dari mulut kita, karena kita sesungguhnya tidak hidup untuk diri kita sendiri, setiap langkah kaki kita sesungguhnya mewakili dan membawa tanggungjawab yang besar karena sesungguhnya diri kita membawa nama orangtua, guru-guru, institusi pendidikan, lingkungan, budaya dan citra daerah bahkan karakter sebagai bangsa Indonesia, itulah yang harus saya dan kita sadari kemudian coba realisasikan meskipun begitu sulit untuk melakukannya, hal yang harus saya dan kita lakukan adalah dengan memulai menjaga kata-kata yang keluar dari mulut kita dan menghilangkan kata Anjing dalam komunikasi karena sama sekali tidak bermanfaat dan berpengaruh bagi bahasa yang kita gunakan bahkan merusak keluhuran budaya yang kita miliki.

6 Mei 2011






Syarifuddin
Syarifuddin23@gmail.com





                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar