Ketika kita mendengar nama-nama seperti Al Qaeda, JI (Jamaah Islamiyah) dan yang sedang hangat sekarang adalah NII (Negara Islam Indonesia) pasti yang akan terlintas dalam pikiran kita adalah gerakan separatis, pengeboman, teroris, pemberontakan, Osama bin Laden, Abu Bakar Baasyir, dan sebagainya. Organisasi atau kelompok-kelompok islam radikal tersebut dan berbagai jenis kelompok yang berhaluan dan bertujuan sebagai wadah pergerakan menegakan hukum islam memang begitu identik dengan cara-cara kekerasan, penyaderaan, penculikan serta pencucian otak untuk memaksakan kehendaknya agar diikuti dan mendapat dukungan dari orang-orang di luar komunitas kelompoknya.
Segala bentuk kegiatan mereka memang begitu terkesan negatif dan kurang mendapat simpati bagi kita sebagai orang yang hidup dengan jalur normal yang mengikuti sistem yang telah diatur oleh pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Namun menurut saya tidak ada yang sia-sia di dunia ini, Tuhan menciptakan segala hal yang ada di dunia sebagai media pembelajaran bagi manusia, meskipun berasal dari hal yang kita anggap buruk tetap saja ada pelajaran dan hal positif yang bisa kita ambil. Mari kita lihat celah-celah positif yang bisa kita adopsi dalam kehidupan kita secara personal ataupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bersumber dari apa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok separatis yang bernaung dibawah nama agama tersebut, hasilnya sebagai berikut:
- Keyakinan terhadap ideologi
Indonesia mempunyai ideologi Pancasila yang merupakan hasil dari pengkajian jati diri bangsa yang sesungguhnya dan telah membuktikan kesaktiannya dengan tidak mampu digoyahkan oleh pembantaian keji G30S/PKI, bangsa kita tetap menjaga pancasila sebagai dasar negara kita hingga saat ini. Namun yang menjadi permasalahan besar bangsa kita adalah penghayatan dan tindakan masyarakatnya dalam kehidupan yang belum berdasarkan pancasila. Mengapa pancasila yang telah kita sepakati sejak dulu sebagai ideologi bangsa namun belum mampu membawa kepada pengelolaan bangsa dan sikap masyarakatnya yang mencerminkan keluhuran pancasila? Mengapa para anggota gerakan separatis begitu bangga dan memperjuangkan mempertahankan ideologinya hingga tetes darah penghabisan dengan cara menjaga tindakannya agar tetap merepresentasikan ideologi yang diyakininya. Hal ini cambuk bagi kita sebagai masyarakat dari bangsa yang besar namun miskin ini, pancasila sebagai ideologi harus dipegang sebagai pedoman dalam setiap langkah kita ketika hidup bernegara, karena pancasila adalah milik kita dan kita adalah pancasila. Ketika pancasila mampu diaplikasikan dengan baik maka kejayaan bangsa kita akan dapat terwujud.
- Menghidupi, bukan mencari penghidupan
“Janganlah bertanya apa yang bisa negara berikan kepadamu, tapi pikirkanlah apa yang telah kau berikan kepada negara” (Soekarno). Kalimat dari Bung Karno tersebut harusnya dapat menjadi pelecut semangat bagi kita, janganlah selalu memikirkan tentang apa yang akan kita dapatkan dari negara, tapi berikanlah potensi terbaik kita bagi ketercapaian kemajuan bangsa, laksanakan kewajiban kita sebagai warga negara yang baik. Saya ingin mengambil sebuah contoh kasus yang berkaitan dengan uang yang harus diberikan kepada negara, tentu kasusnya berbeda dengan NII. Indonesia sebagai negara yang berdaulat memiliki pendapatan negara yang mayoritas berasal dari pajak, namun masalah perpajakan sendiri saat ini menyimpan banyak masalah pelik tentang sistem pengelolaan didalamnya, masih banyaknya permainan ketika pembayaran pajak, masih banyak penyimpangan dalam pendistribusian hasil pajak yang tidak tepat sasaran dan tidak menyentuh secara langsung kepada kebutuhan masyarakat. Uang yang begitu banyak sebagai hasil dari pajak banyak yang masuk ke kantong-kantong pribadi pengurus pajak, mereka lebih memikirkan penghidupan bagi diri sendiri dan tidak memikirkan untuk menghidupi negara (>200 Juta masyarakat). Tentu kita memang memiliki hak sebagai seorang pekerja mendapat gaji yang tentu saja sudah disesuaikan dengan aturan yang ada, maka janganlah mencoba mencari penghidupan dari sumber-sumber yang tidak seharusnya, masih banyak masyarakat yang sulit untuk sekedar makan setiap harinya. Jika kita merasa tidak ikhlas memberikan uang secara langsung bagi negara sebagai infak, maka setidaknya berikanlah kesungguhan kita dalam mengelola negara dengan sebaik mungkin dan sebagaimana mestinya, tanggungjawab dan kecintaan terhadap bangsa adalah modal yang harus tetap dijaga apabila kita ingin mencapai kesejahteraan.
- Kecintaan terhadap pemimpin
Hal tersebut menjadi sebuah keinginan yang seolah-olah sangat sulit untuk diwujudkan di negeri kita ini. Presiden tidak dicintai oleh seluruh rakyatnya, mungkin hanya orang-orang yang mendukungnya saja, sisanya adalah para kaum oposisi yang selalu mencari-cari kesalahan presiden untuk menjatuhkan kewibawaan pemerintah di hadapan rakyat, oposisi yang selalu mengaku sebagai pengawas pemerintah sebenarnya saat ini berkembang menjadi kaum pembuat kesempatan untuk menggulingkan pemerintah.
Inilah wajah bangsa kita, pemilu sebagai sebuah regulasi yang sah untuk mencari sosok presiden pilihan rakyat, semua calon selalu berkata akan saling membantu siapapun yang terpilih, hakekatnya tidak ada yang kalah sehingga akan saling bahu membahu demi bangsa dan negara. Namun kenyataannya, pihak yang kalah akan menjadikan presiden yang terpilih menjadi objek kritikan dan menganggap pemerintah yang sah tidak mampu menjalankan tampuk kepemimpinan bangsa dengan baik padahal belum tentu jika ia yang menjadi presiden pun bangsa kita bisa membaik.
Kita menempatkan presiden hanya sebagai jabatan politik dalam struktur pemerintahan, bukan sebagai pemimpin bangsa. Ketika hanya dijadikan ajang politik, maka selama itu pula presiden hanya menjadi kendaraan bagi tercapainya tujuan politik dan menjadi ajang peperangan para elit politik. Kita bandingkan dengan Al-Qaeda yang begitu menjunjung tinggi Osama bin Laden, para pengikutnya begitu menjaga dan menempatkan sosok pemimpin sebagai tokoh sentral dan menjadi tempat digantungkannya harapan keberlangsungan bangsa dan menjaga kewibawaan pribadi pemimpin, tidak ada keinginan untuk merebut tampuk kepemimpinan yang ada hanyalah cinta kepada pemimpin, cinta kelebihan dan kekurangannya.
Presiden di Indonesia begitu dipuja ketika mampu melakukan program yang pro rakyat, namun ketika sedikit saja melakukan tindakan yang dianggap tidak sesuai dengan yang seharusnya dilakukan, maka berbagai kritik dan tuntutan mundur akan siap menghampiri. Padahal jika kita cinta terhadap pemimpin kita, dukunglah segala kebijakannya, jika dianggap salah tunjukanlah cinta kita dengan mengingatkan yang tentu saja menggunakan cara-cara yang baik dan sesuai dengan norma kesopanan yang kita miliki.
Tiga hal yang dijelaskan diatas, saya pikir menjadi hal-hal mendasar yang telah hilang dalam karakter masyarakat Indonesia saat ini, tiga hal yang sesungguhnya sangat penting namun terlupakan. Tiga hal tersebut ternyata diaplikasikan dengan begitu baik oleh kelompok-kelompok separatis yang secara jumlah sedikit namun berangsur-angsur mampu menghimpun kekuatan yang semakin banyak, solid dan kuat. Mari kita bayangkan, gerakan separatis saja mampu menjadi kekuatan yang sulit dihapuskan dari bangsa ini, seandainya Indonesia sebagai bangsa yang besar mampu mengaplikasikan tiga hal tersebut maka bangsa kita akan jaya dan menjadi kekuatan baru yang selama ini hanya dianggap sebagai golongan negara yang tidak diperhitungkan. Semoga seluruh elemen bangsa menyadari hal tersebut dan menggunakannya sebagai potensi besar untuk mencapai tujuan bangsa yang tertera dalam pembukaan UUD 1945.
1 Juni 2011
Syarifuddin
Syarifuddin23@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar