Rabu, 30 November 2011

Sedikit Sumbangsih " Karakter Bangsa; Kaya Dialektika, Miskin Tindak Nyata"

Sosial









Karakter Bangsa; Kaya Dialektika, Miskin Tindak Nyata
(Syarifsays.blogspot.com)






Rangkuman:
Karakter bangsa menjadi sebuah masalah yang menjadi jawaban bagi alasan keterpurukan kondisi bangsa saat ini, kondisi pelik yang dihadapi menyebabkan pemerintah bekerja keras dalam menemukan akar masalah yang sesungguhnya. Pemuda sebagai generasi penerus seolah menjadi objek yang mengalami dampak keterpurukan karakter bangsa, padahal ketika pejabat yang korupsi, terlibat narkoba, suap-menyuap, mereka seolah tidak dianggap sebagai pelaku kemerosotan karakter. Kondisi tersebut diperparah dengan paradigma yang berkembang bahwa masalah karakter bangsa ini seolah hanya menjadi ajang berdialektika teori serta konsep penyelesaian masalah, dan yang terlupakan oleh kita adalah karakter sangat berkaitan dengan tindakan bukan teori. Oleh karena itu, kita dapat mewujudkan perubahan karakter bangsa ketika kita mampu melakukan tindakan-tindakan yang baik dalam ruang lingkup yang kecil namun memancarkan kesamaan ucapan, tindakan, dan perbuatan.














Karakter bangsa dalam antropologi (khususnya masa lampau) dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat tersebut. Memang harus diakui bahwa bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis karakter, Indonesia seolah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang memiliki prinsip ideologi kebangsaan yang eksklusif, berkebudayaan tinggi, memiliki tata krama, sopan santun, toleransi, gotong royong, semangat juang, dan nasionalisme. Nilai-nilai luhur yang berakar dari pengkajian kebudayaan nenek moyang kita tersebut, saat ini telah mulai tergantikan oleh produk-produk perkembangan zaman yang memungkinkan masuknya pengaruh-pengaruh budaya asing yang secara tidak sadar sesungguhnya mulai menggeser eksistensi budaya bangsa Indonesia sebagai karakter di kalangan masyarakatnya sendiri. Kita harus menyadari bahwa karakter menjadi sangat penting bagi suatu bangsa karena ia adalah kombinasi dari kualitas-kualitas khusus masyarakatnya yang akan membuat bangsa tersebut berbeda dari bangsa-bangsa yang ada di dunia ini, apa jadinya suatu bangsa yang tidak memiliki karakter? Hal-hal yang mungkin terjadi, antara lain: hilangnya identitas nasional, mudah terombang-ambing dalam polemik yang bermuara pada konflik, memungkinkan retaknya semangat kesatuan bangsa, hilangnya semangat kecintaan serta kebanggaan terhadap bangsa, dan mudah dimasuki oleh tujuan-tujuan negatif dari negara-negara adikuasa.
Permasalahan karakter bangsa saat ini telah menjadi isu nasional, karena hal tersebutlah yang menjadi penyebab keterpurukan bangsa Indonesia di berbagai bidang kehidupan, sehingga memaksa pemerintah untuk melahirkan adanya kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa yang diwujudkan dengan dibentuknya sejumlah lembaga nasional seperti Badan Koordinasi Pembangunan Karakter Bangsa serta Satuan Kerja Pembangunan Karakter Bangsa dari tingkat pusat sampai daerah serta banyak dilaksanakan seminar-seminar yang mengangkat isu karakter bangsa sebagai tajuk utamanya. Efektifkah kegiatan-kegiatan tersebut?
Kita memang harus tetap mengapresiasi pencapaian dari program serta usaha-usaha pemerintah dan berbagai organisasi untuk berkontribusi dalam usaha rediscovery of our national character/identity. Namun, mari kita melihat menggunakan kacamata hati yang lebih jujur dalam menjustifikasi keefektivitasan metode penyelesaian masalah karakter bangsa ini. Seberapa seringkah kita melihat berita tentang penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, demonstrasi yang berakhir anarkis, bentrok antar suku, ricuh antar kelompok masyarakat, korupsi, suap-menyuap, kecurangan birokrasi, jual beli hukum, dan berbagai tindakan tercela yang sering menjadi headline di media massa saat ini. Kita tidak bisa menutup mata tentang masalah ini, inilah potret nyata merosotnya karakter bangsa yang mulai tergantikan oleh paradigma-paradigma anarkis dan keserakahan lymbic individualisme (pusat insting hewani manusia).
Sesungguhnya ada kegelisahan yang menyeruak tentang metode penemuan kembali karakter bangsa yang selama ini digunakan, yaitu :
1. Dewasa ini, karakter bangsa seolah hanya menjadi sebuah objek kajian dari para pakar berbagai cabang keilmuan yang kemudian disampaikan dalam seminar-seminar, namun tidak menyentuh inti permasalahan yang sebenarnya terjadi di kalangan masyarakat.
2. Seolah ada rumus baku dalam penamaan judul sebuah seminar, yaitu menempatkan “Karakter Bangsa” di akhir kalimat. Hal ini sebuah bentuk kesadaran diri bahwa kita ingin mengembalikan karakter bangsa kita yang hilang atau sebuah bukti bahwa karakter bangsa memang hanya menjadi objek dialektika.
3. Ada tendensi yang negatif ketika kemerosotan karakter bangsa selalu dihubungkan dengan kaum muda. Padahal jika karakter bangsa itu berkaitan dengan tindakan-tindakan yang baik, maka kita harus dengan besar hati mengatakan bahwa para pejabat yang menyalahgunakan wewenang, korupsi, menerima suap, terlibat penyalahgunaan narkoba, berdebat demi kepentingan golongan, mereka pun telah mengalami kemerosotan karakter. Oleh karena itu, sangat tidak fair jika ada yang mengatakan bahwa pemuda bangsa Indonesia telah kehilangan karakter bangsa, karena sesungguhnya penyakit itu telah menjangkit ke semua lapisan masyarakat dari segala usia.
4. Karakter itu berkaitan dengan moral, moral itu terlahir dari nilai-nilai yang baik, dan nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat adalah rembesan dari didikan para orangtua kita yang mengedepankan kebaikan dari hal-hal yang kita anggap kecil. Sadarlah bahwa kita tidak akan mampu mewujudkan perubahan karakter bangsa ketika kita justru melupakan hal-hal kecil yang sesungguhnya bernilai bak mutiara.
Sudah habis teori di gudang; demikian ungkapan Profesor Mahfud MD ketika menjawab pertanyaaan mahasiswanya tentang teori apa lagi yang bisa digunakan untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis (Kompas, 11 Oktober 2005). Inilah kelemahan bangsa kita, terlalu mengedepankan teori dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sesungguhnya lebih membutuhkan tindakan nyata daripada diskusi serta rumusan konsep yang hanya akan menjadi dokumen semata. Karakter bangsa tidak akan bisa diselesaikan hanya melulu melalui dialektika tentang konsep-konsep, ingatlah bahwa karakter seseorang itu akan dapat kita lihat dari tindakan yang dilakukannya, ketika yang dilakukannya baik maka kita akan dapat menilai bahwa karakternya baik. Begitupun dalam ruang lingkup kebangsaan, sebuah bangsa dapat dikatakan memiliki karakter yang baik, ketika masyarakatnya (bukan hanya pemuda) melakukan hal-hal yang baik. Janganlah menghabiskan waktu kita untuk berdialektika dalam polemik tentang karakter bangsa, karena hanya akan menjadi kenihilan jika tanpa aplikasi. Oleh karena itu, ayo kita bertindak!
Mari kita bersama-sama berkaca diri tentang apa yang telah kita lakukan sebagai wujud manifestasi internalisasi karakter bangsa dalam perilaku kita sehari-hari. Perubahan karakter bangsa harus berangkat dari tindakan nyata yang kita lakukan dalam mencapai sebuah bentuk karakter bangsa indonesia yang berasal dari nilai-nilai luhur kebudayaan yang sesungguhnya. Seperti yang saya tuliskan di atas, kesalahan terbesar kita yang menyebabkan mulai hilangnya karakter bangsa adalah terlupakannya nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan oleh orangtua kita semenjak kita dalam masa kanak-kanak, berawal dari melupakan hal-hal kecil tersebutlah berakibat pada penghalalan terhadap kesalahan besar yang dilakukan ketika kita mulai beranjak dewasa.
Kapan terakhir kali kita membuang sampah pada tempatnya? Kapan terakhir kali kita menyeberang jalan di jembatan penyeberangan? Sudah berapa kali kita berbohong? Kapan terakhir kali kita mengatakan “permisi” di depan kerumunan orang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sebuah sentilan yang mungkin kita anggap tidak ada substansinya dengan masalah karakter bangsa, namun perhatikanlah, jika kita telah begitu sering membuang sampah sembarangan, tidak menyeberang pada tempatnya, dan berjuta kali melakukan kebohongan, kemudian sangat jarang untuk mengatakan “permisi” di depan kerumunan orang, maka itulah fakta bahwa kita telah hidup dalam paradigma individualisme yang menyimpang dari karakter bangsa kita yang mengedepankan persatuan dan gotong royong. Kita begitu tidak peduli pada kondisi lingkungan, kita menyalahi aturan dan menjegal hak serta kenyamanan orang lain, dan dengan santainya melakukan berbagai jenis kebohongan untuk menutupi aib pribadi. Hal tersebutlah yang menyebabkan mulai hilangnya ikatan sosial antar masyarakat bangsa kita.
Aristoteles mengatakan bahwa seseorang yang baik tidak hanya mempunyai satu kebajikan, sikap dan tindak tanduk orang tersebut adalah panduan moralita dalam segala hal (Hersh, et.al., 2009). Seorang yang berkarakter harus mampu memancarkan kebajikan yang berasal dari kesamaan antara ucapan, sikap, dan perbuatan. Apa yang selama ini dilakukan oleh bangsa kita untuk menemukan kembali karakter bangsa yang berada pada titik nadir ini adalah baru pada tahap ucapan. Para teoritikus kita begitu asyik berdialektika dan berucap bahwa bangsa kita sedang terpuruk, namun secara tidak sadar sikap dan perbuatannya justru menyalahi teori-teori yang diucapkannya. Selama Indonesia hanya mampu mengucapkan “karakter bangsa” dan sulit untuk bersikap serta berbuat sesuai dengan apa yang diucapkan, maka selama itu pula Indonesia menjadi bangsa yang tidak berkarakter.
Hentikanlah segala angan-angan kita dalam dunia teori tentang karakter, bangun dan segera sadarlah untuk melakukan tindak nyata yang meskipun kecil akan mampu memberikan dampak yang signifikan dalam perubahan wajah bangsa di masa yang akan datang. Lebih jujurlah kepada hati nurani, ketika kita sedikit saja menyimpang dan melakukan hal-hal yang tidak baik, maka ketika itulah karakter bangsa yang kita miliki telah kita khianati. Bersegeralah merubah diri kita ke arah perbaikan, tanpa harus beretorika terlebih dahulu, mulailah dengan mengahargai sesama, menjaga ketertiban lingkungan, dan mematuhi hukum. Itulah karakter bangsa yang selama ini kita cari.

Syarifuddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar