Selasa, 27 Desember 2011

Aku Tak Mau Kamu Ikut

Aku Tak Mau Kamu Ikut
Syarifuddin
Kupu-kupu bermain lincah dengan bunga kuning di taman itu, sekali waktu pergi namun ia hinggap kembali dan mencumbui sang penghias taman itu. Hembusan angin tak sempat mengganggu kepak sayap kupu-kupu menggapai sang penghias. Itukah cinta?
Ardi terpaku dalam heningnya suasana taman sore itu, meresapi angin yang menjadi dingin serta ditemani daun-daun tua yang telah lelah menenempel pada ranting pohon, terlepas, melayang terbawa angin, dan jatuh diperaduannya. Kejadian kemarin masih terekam jelas di memori otaknya yang terkadang mampu menjelma bak mimpi buruk yang selalu menghinggapi tidur malamnya.
Sebuah kabar di sore hari kemarin mengawali runtuhnya pondasi diri yang sekian lama dibangun dari serpihan-serpihan mimpi berbalut kepercayaan diri. Kabar yang seketika membuat segala mimpi-mimpi itu terasa semakin jauh, jauh, dan menghilang entah kemana. Semilir angin sore itu seolah semakin membawa mimpi-mimpi itu tertiup menghilang terbawa ke ujung mata. Wajah murung Ardi tergambar jelas di air kolam yang tenang tanpa sedikit pun gelombang. Seolah menyindir isi hatinya yang sedang dilanda dahsyatnya gelombang serta badai perasaan yang berkecamuk semalaman.
“Ayahmu lebih memilih wanita itu nak!”, kalimat itu yang masih terngiang di telinga Ardi. Ia tak menyangka bahwa ayah yang selama ini ia banggakan, kini tega meninggalkan ibu serta adik-adiknya. Air mata perlahan mengalir seiring dengan kesedihan yang ia rasakan “Apakah aku sekarang hidup tanpa ayah? Siapa yang akan membiayai sekolahku? Uang ayah pasti habis untuk perempuan itu, sekarang saja sudah 3 bulan aku tak dikiriminya” Pikiran itu yang hilir mudik di pikiran Ardi.
Terbayang tentang mimpi-mimpinya yang ia ceritakan kepada sang ayah dulu, tentang kenangan saat berkumpul, tentang nasehat yang diberikan ayah. Namun kenangan itu perlahan berganti dengan kebencian yang sangat kepada sosok lelaki paruh baya itu.
Getaran handphone sesaat menyadarkan lamunannya, terlihat pesan singkat dari Indah kekasihnya. Namun pesan itu tak digubrisnya, langsung saja Sony Ericsson itu ia masukan ke dalam saku kemeja birunya.
Pesan singkat seolah tanpa henti masuk ke ponsel milik Ardi, namun tak ia gubris. Nampaknya Ardi masih senang meratapi masalah yang sedang ia hadapi, meskipun ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ia ratapi. Hingga ia akhirnya merogoh ponselnya dan mendapati 6 pesan singkat dan 3 panggilan tak terjawab, kesemuanya berasal dari orang yang sama yaitu Indah.
Satu persatu pesan singkat dari Indah ia baca,
“Kamu kemana aja sih?”
“Sebenernya kamu di mana?”
“Kenapa telpon aku gak kamu angkat?”
“Ardi...! Kamu gak ngehargain aku banget sih”
“Mau kamu tuh sebenernya apa? Aku nanya baik-baik gak dijawab”
“Kamu lagi selingkuh ya? Makanya sms aku gak kamu bales”
Sebenanrnya Ardi masih enggan untuk membalas pesan singkat itu, namun ia tak mau Indah sampai menyangka yang tidak-tidak. Jarinya mulai mengetik pesan untuk Indah “Maaf ndah, aku lagi pengen sendiri, tolong maafin aku” dan segera ia mengirimkannya.
Tak berselang lama balasannya diterima oleh Ardi. “Emang ada apa sih? Kalau ada masalah tuh ngomong, aku ini kan pacar kamu..apa salahnya kamu cerita sama aku..jangan kaya gini”
Ardi tak membalasnya, ia segera memasukan kembali ponselnya ke saku. Ardi mulai merenung dan berkata sendiri dalam hatinya “Ndah, aku bukannya gak mau cerita sama kamu. Aku gak mau kamu larut dalam kesedihan yang aku rasain sekarang.. Aku tau masalahku ini kecil buat kamu. Tapi jujur Ndah, aku gak kuat kalau harus kehilangan Ayahku dengan cara seperti ini, aku sekarang benci banget sama ayahku..Hati aku lagi gak karuan Ndah, aku takut kalau aku ketemu kamu, kamu bakal jadi korban dari sikap dari emosi aku yang lagi gak stabil.. Aku gak mau kamu sedih Ndah, aku gak mau kamu ikut masuk ke masalah aku, aku gak mau kamu ikut Ndah”
Ponsel Ardi kembali berbunyi, dan lagi-lagi sebuah pesan singkat dari Indah. “Kamu pergi gda kabar kaya gni, seenaknya. Kamu ini nganggap aku apa di?” Namun Ardi tetap tak membalasnya.
Suasana taman mulai ramai oleh anak-anak yang berlarian sambil bermain, Ardi mulai merasa terganggu dan tidak nyaman. Ia ingin sepi, ia ingin sepi. Ia berdiri dan bergegas meninggalkan taman itu dan melangkahkan kakinya entah kemana, ia ingin mencari tempat yang sepi bahkan jika itu ada di ujung dunia sekalipun.
Ia berjalan sambil menunduk dan tidak memperhatikan jalan yang ia lalui, hingga ia tak menyadari bahwa ternyata ia mulai mendekati jalan raya yang penuh dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Handphone Ardi kembali berbunyi, pesan singkat Indah kini wujudnya berbeda “SEMUANYA TERSERAH KAMU DEH, SMS AKU GAK PERNAH KAMU BALES..AKU KURANG APA SAMA KAMU? MULAI SEKARANG KAMU URUS HIDUP KAMU SENDIRI...KITA PUTUS, TERSERAH KAMU MAU NGAPAIN AJA...MAU MATI KE, MAU KETABRAK TRONTON KE..AKU BUKAN SIAPA2 KAMU KO”
Ia tak menggubrisnya, dan masih dengan tertunduk ternyata ia berjalan menyeberangi jalan raya hingga ia tersadar oleh suara deruman mesin mobil truk. Ia berusaha mencari sumber suara itu dengan menolehkan kepala ke kiri namun tak ada kendaraan apapun. Namun ketika ia menoleh ke kanan dengan tak sempat mengedipkan matanya, truk itu menyambar tubuh ringkiknya seketika dan membuatnya terlempar dan membentur aspal hitam jalan itu dengan sangat keras. Benturan itu menghasilkan aliran darah segar dari kepala Ardi yang seketika tewas dengan cara yang mengenaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar