Tahun Baru; Deviasi Konsep Resolusi
Malam pergantian tahun selalu diharapkan mampu menjadi momentum kelahiran serta kebangkitan sosok, situasi, kondisi, dan ketercapaian harapan-harapan di tahun mendatang. Kemeriahan menjelang detik-detik bergantinya angka penanda tahun tersebut akan berangsur menggema melalui segala hiruk-pikuk persiapan kegiatan yang disiapkan dan akan semakin menggelegar lewat dentuman petasan, kembang api, dan terompet saat jarum jam menunjukan pukul dua belas. Kekakuan langit malam seketika itu runtuh, malam yang biasanya hanya berteman bulan serta taburan bintang-bintang yang berkelipan mendadak menjadi berwarna-warni. Malam pun tak lagi sunyi, dengan berbagai aktivitas serta teriakan yang mengiringi dentuman kembang api seolah menggantikan suara-suara hewan nokturnal yang biasanya menggunakan waktu ini untuk mengais rezeki. Sebuah perayaan yang harusnya sangat monumental, ketika semangat yang terbungkus dalam letupan kepercayaan diri untuk menyongsong massa baru mampu dengan begitu baik terucap serta tercermin di raut-raut wajah yang optimis dapat merubah serta membuat dirinya bangkit dari keterpurukan. Namun ketika pagi menjelang, apakah semangat kebangkitan itu masih ada?
Ilustrasi di atas seolah menjadi realita yang secara tidak sadar selalu terjadi dan menjangkiti alam bawah sadar kita. Istilah resolusi akhir tahun sebagai sebuah refleksi atas harapan atau mimpi-mimpi yang akan kita lakukan di tahun yang akan datang telah begitu fasih dan mudahnya terucap, namun sudah berapa banyak resolusi yang berhasil kita wujudkan? Bahkan ada sebuah kalimat sindiran yang mengatakan bahwa resolusi tahun 2012 adalah resolusi yang sama dengan resolusi tahun 1978. Resolusi selama ini seolah hanya menjadi instrumen pelengkap dalam perayaan tahun baru tanpa tindak nyata untuk segera bergerak mewujudkannya, padahal kita tidak akan pernah berhasil dalam dunia rencana. Berhasil itu ada dalam dunia nyata, untuk mampu berhasil maka segera sadarlah untuk jangan hanya membiasakan diri hidup dalam dunia rencana tapi hiduplah di dunia nyata melalui gerakan nyata untuk mewujudkan rencana itu.
Resolusi pun terkadang memiliki kecenderungan berupa repetisi dialektika. Disadari atau tidak, saat malam tahun baru yang lalu kita pernah mengucapkan sebuah resolusi untuk kehidupan kita di tahun yang mendatang. Malam tahun baru sekarang pun, mungkin kita akan mengucapkannya lagi. Sebuah apologi yang dianggap rasional adalah karena kita belum mampu mewujudkan resolusi di tahun yang lalu, padahal yang seharusnya kita sadari bersama-sama adalah bukan menyalahkan waktu yang membuat kita tidak/belum mampu mewujudkannya tetapi menanyakan pada diri kita tentang apa yang telah kita lakukan selama kurun waktu setahun yang lalu untuk mewujudkan resolusi tersebut. Mari kita melihat masalah ini dengan menggunakan kacamata logika kritis dimana kecenderungan kita untuk mudah mengucapkan harapan namun malas untuk mewujudkan, sesungguhnya nanti akan terimpilkasi dalam kebiasaan kita untuk melanggar janji ataupun amanah.
Resolusi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sebuah janji kepada diri sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Berdasarkan definisi tersebut, ketika kita mengucapkan sebuah resolusi saat itulah sesungguhnya diri kita sedang menjadi jaminan untuk ketercapaian resolusi tersebut. Ketika resolusi yang kita ucapkan di malam tahun baru itu tidak tercapai hingga saat malam tahun baru berikutnya, maka diri kita sendiri telah tercederai oleh resolusi yang kita buat.
Berkaitan dengan definisi di atas, hal terpenting lain yang kita lupakan adalah resolusi berhubungan dengan komitmen untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Misalnya, ketika kita memiliki resolusi untuk mampu menjadi ranking 1 di kelas, maka kita telah berjanji untuk melakukan (jujur, belajar keras, mengerjakan tugas-tugas dengan maksimal, dll) dan berjanji untuk tidak melakukan (malas belajar, mencontek, dll). Resolusi yang kita ucapkan adalah sama dengan penggadaian terhadap diri sendiri, karena resolusi adalah janji yang tidak melibatkan orang lain tetapi diri sendiri.
Mempertimbangkan penjelasan definisi tersebut dengan tesis yang mengatakan bahwa kegagalan mewujudkan resolusi pribadi akan terimplikasi dalam kebiasaan melanggar janji dan amanah memiliki cukup keterkaitan. Ketika kita berani mengucapkan resolusi pribadi (dengan menggadaikan diri sendiri) dan kemudian kita justru hanya menjadikan itu sebatas dialektika semata tanpa adanya tindak nyata yang bertujuan mewujudkan resolusi tersebut dan tidak ada penyesalan ketika tidak mampu mencapainya bahkan mengucapkannya lagi di tahun mendatang, maka dapat kita bayangkan bagaimana jika kita diamanahi oleh seseorang untuk menduduki sebuah jabatan (dengan konsekuensi harus melakukan sesuatu dan tidak boleh melakukan sesuatu), kita akan terbiasa untuk melanggar batasan-batasan yang seharusnya tidak kita lakukan dan justru melupakan hal-hal yang seharusnya kita lakukan untuk mewujudkan amanah tersebut
Geertz (1994) pernah mengatakan bahwa ketakutan-ketakutan sekitar masalah suksesi segala hal, cukup nyata terlihat ketika hal-hal yang diungkapkan terbukti tak berdasar. Faktor-faktor yang memengaruhi ketidakmampuan kita dalam mewujudkan resolusi terkadang adalah masalah rasionalitas dan hal yang mendasari terciptanya sebuah resolusi.
Sebagai konklusi, resolusi mungkin hanya masalah kecil yang sesungguhnya tidak harus dibicarakan sedemikian serius. Namun, hal yang harus selalu diingat ketika mengucapkan resolusi adalah hal yang mendasari hasrat untuk mewujudkan keinginan tersebut ditambah dengan rasionalitas yang berdasarkan kepada kemampuan diri untuk berjuang dan konsisten dalam usaha-usaha pencapaian resolusi, karena resolusi adalah janji kepada diri sendiri, dan janji adalah hutang, dan hutang akan mengganjal pintu surga yang sama-sama ingin kita lalui. Selama kita tidak mencapai resolusi yang kita ucapkan, maka selama itu kita berhutang pada diri sendiri. Mulailah dengan mengganti kata “semoga” dalam resolusi menjadi “harus”, agar secara tidak sadar saraf otak kita menjadi seolah-olah dipaksa untuk bekerja keras memformulasikan ide untuk selalu melakukan apa yang kita resolusikan.
Syarifuddin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar