Tahun Baru; Deviasi Konsep Resolusi
Malam pergantian tahun selalu diharapkan mampu menjadi momentum kelahiran serta kebangkitan sosok, situasi, kondisi, dan ketercapaian harapan-harapan di tahun mendatang. Kemeriahan menjelang detik-detik bergantinya angka penanda tahun tersebut akan berangsur menggema melalui segala hiruk-pikuk persiapan kegiatan yang disiapkan dan akan semakin menggelegar lewat dentuman petasan, kembang api, dan terompet saat jarum jam menunjukan pukul dua belas. Kekakuan langit malam seketika itu runtuh, malam yang biasanya hanya berteman bulan serta taburan bintang-bintang yang berkelipan mendadak menjadi berwarna-warni. Malam pun tak lagi sunyi, dengan berbagai aktivitas serta teriakan yang mengiringi dentuman kembang api seolah menggantikan suara-suara hewan nokturnal yang biasanya menggunakan waktu ini untuk mengais rezeki. Sebuah perayaan yang harusnya sangat monumental, ketika semangat yang terbungkus dalam letupan kepercayaan diri untuk menyongsong massa baru mampu dengan begitu baik terucap serta tercermin di raut-raut wajah yang optimis dapat merubah serta membuat dirinya bangkit dari keterpurukan. Namun ketika pagi menjelang, apakah semangat kebangkitan itu masih ada?
Ilustrasi di atas seolah menjadi realita yang secara tidak sadar selalu terjadi dan menjangkiti alam bawah sadar kita. Istilah resolusi akhir tahun sebagai sebuah refleksi atas harapan atau mimpi-mimpi yang akan kita lakukan di tahun yang akan datang telah begitu fasih dan mudahnya terucap, namun sudah berapa banyak resolusi yang berhasil kita wujudkan? Bahkan ada sebuah kalimat sindiran yang mengatakan bahwa resolusi tahun 2012 adalah resolusi yang sama dengan resolusi tahun 1978. Resolusi selama ini seolah hanya menjadi instrumen pelengkap dalam perayaan tahun baru tanpa tindak nyata untuk segera bergerak mewujudkannya, padahal kita tidak akan pernah berhasil dalam dunia rencana. Berhasil itu ada dalam dunia nyata, untuk mampu berhasil maka segera sadarlah untuk jangan hanya membiasakan diri hidup dalam dunia rencana tapi hiduplah di dunia nyata melalui gerakan nyata untuk mewujudkan rencana itu.
Resolusi pun terkadang memiliki kecenderungan berupa repetisi dialektika. Disadari atau tidak, saat malam tahun baru yang lalu kita pernah mengucapkan sebuah resolusi untuk kehidupan kita di tahun yang mendatang. Malam tahun baru sekarang pun, mungkin kita akan mengucapkannya lagi. Sebuah apologi yang dianggap rasional adalah karena kita belum mampu mewujudkan resolusi di tahun yang lalu, padahal yang seharusnya kita sadari bersama-sama adalah bukan menyalahkan waktu yang membuat kita tidak/belum mampu mewujudkannya tetapi menanyakan pada diri kita tentang apa yang telah kita lakukan selama kurun waktu setahun yang lalu untuk mewujudkan resolusi tersebut. Mari kita melihat masalah ini dengan menggunakan kacamata logika kritis dimana kecenderungan kita untuk mudah mengucapkan harapan namun malas untuk mewujudkan, sesungguhnya nanti akan terimpilkasi dalam kebiasaan kita untuk melanggar janji ataupun amanah.
Resolusi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sebuah janji kepada diri sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Berdasarkan definisi tersebut, ketika kita mengucapkan sebuah resolusi saat itulah sesungguhnya diri kita sedang menjadi jaminan untuk ketercapaian resolusi tersebut. Ketika resolusi yang kita ucapkan di malam tahun baru itu tidak tercapai hingga saat malam tahun baru berikutnya, maka diri kita sendiri telah tercederai oleh resolusi yang kita buat.
Berkaitan dengan definisi di atas, hal terpenting lain yang kita lupakan adalah resolusi berhubungan dengan komitmen untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Misalnya, ketika kita memiliki resolusi untuk mampu menjadi ranking 1 di kelas, maka kita telah berjanji untuk melakukan (jujur, belajar keras, mengerjakan tugas-tugas dengan maksimal, dll) dan berjanji untuk tidak melakukan (malas belajar, mencontek, dll). Resolusi yang kita ucapkan adalah sama dengan penggadaian terhadap diri sendiri, karena resolusi adalah janji yang tidak melibatkan orang lain tetapi diri sendiri.
Mempertimbangkan penjelasan definisi tersebut dengan tesis yang mengatakan bahwa kegagalan mewujudkan resolusi pribadi akan terimplikasi dalam kebiasaan melanggar janji dan amanah memiliki cukup keterkaitan. Ketika kita berani mengucapkan resolusi pribadi (dengan menggadaikan diri sendiri) dan kemudian kita justru hanya menjadikan itu sebatas dialektika semata tanpa adanya tindak nyata yang bertujuan mewujudkan resolusi tersebut dan tidak ada penyesalan ketika tidak mampu mencapainya bahkan mengucapkannya lagi di tahun mendatang, maka dapat kita bayangkan bagaimana jika kita diamanahi oleh seseorang untuk menduduki sebuah jabatan (dengan konsekuensi harus melakukan sesuatu dan tidak boleh melakukan sesuatu), kita akan terbiasa untuk melanggar batasan-batasan yang seharusnya tidak kita lakukan dan justru melupakan hal-hal yang seharusnya kita lakukan untuk mewujudkan amanah tersebut
Geertz (1994) pernah mengatakan bahwa ketakutan-ketakutan sekitar masalah suksesi segala hal, cukup nyata terlihat ketika hal-hal yang diungkapkan terbukti tak berdasar. Faktor-faktor yang memengaruhi ketidakmampuan kita dalam mewujudkan resolusi terkadang adalah masalah rasionalitas dan hal yang mendasari terciptanya sebuah resolusi.
Sebagai konklusi, resolusi mungkin hanya masalah kecil yang sesungguhnya tidak harus dibicarakan sedemikian serius. Namun, hal yang harus selalu diingat ketika mengucapkan resolusi adalah hal yang mendasari hasrat untuk mewujudkan keinginan tersebut ditambah dengan rasionalitas yang berdasarkan kepada kemampuan diri untuk berjuang dan konsisten dalam usaha-usaha pencapaian resolusi, karena resolusi adalah janji kepada diri sendiri, dan janji adalah hutang, dan hutang akan mengganjal pintu surga yang sama-sama ingin kita lalui. Selama kita tidak mencapai resolusi yang kita ucapkan, maka selama itu kita berhutang pada diri sendiri. Mulailah dengan mengganti kata “semoga” dalam resolusi menjadi “harus”, agar secara tidak sadar saraf otak kita menjadi seolah-olah dipaksa untuk bekerja keras memformulasikan ide untuk selalu melakukan apa yang kita resolusikan.
Syarifuddin
Sebuah Interpretasi sederhana terhadap masalah yang sederhana namun sesungguhnya sangat kompleks untuk diperbincangkan. Kita terkadang terjebak oleh berbagai hal yang dianggap umum dan menganggap itu sebagai sebuah kebenaran.
Jumat, 30 Desember 2011
“Agent of Change” in The Name of Democracy
“Agent of Change” in The Name of Democracy
Nowadays, democracy is not merely about a special term of political activity but it has had many vague interpretations of the popular idea (Dahl, 1992: 12). Indonesia government stated that democracy is the basic of every single one of social and political activities, moreover Indonesia have Pancasila as a political system which had organized and united political, religious, and cultural pluralism. Ironically, Indonesian people which are represented by their young educated people unconsciously have broken those principles in terms of their way of arguing and delivering ideas especially in a demonstration.
According to philosophy of democracy that said democracy is not equal to free society but related to ethic. The ethics of politics do not focus on legitimating of the authority, but consider the contribution and participation of all people (Nurtjahjo, 2006: 26). The Contribution and participation of Mahasiswa are implemented by protecting all governments programs, and it worked in the past. Suharto’s regime was overthrown when there are many corruption, collusion, and nepotism cases in the programs by an extraordinary demonstration. How about nowadays? Demonstration does not exist in contribution and participation, but it can be said just as criticism without giving solution. The reason is that Mahasiswa do not know the core of the problem but always see the way of the government to solve the problems pessimistically.
Regarding demonstration, Abdalla (2008) stated that nowadays democracy is going to kill happiness of political activity as a vocation to be replaced by the criticism said routinely but it will break the form wanted but not be able to be realized. In this era, when the young educated people do a demonstration, it has two results; negative assumptions and anarchy. What I mean with negative assumptions is demonstration looks like an instant criminal justice system when the demonstrators can say everything and do judgement to direct person. They can decide that the programs are wrong, the government are corruption, the systems are lack, and the president has to be overthrown. It will end the good programs earlier caused by wrong method of criticism. It may keep the negative psychological sense or over distrustful of government. Consequently, there is no conducive democracy environment because what they do is not related to criticism. Criticism must produce optimism point of view (Indrayana, 2011: 15).
Talking about anarchy, mass media are never bored of showing the violent confrontation between police and demonstrators. Police as an institution that is responsible for protecting people and property, making people obey the law, finding out about and solving crime, and catching people who have committed a crime has done the right procedure. Why police do repressive action absolutely because there is a wrong action of the demonstrator which can disturb other people. On the other hand, Mahasiswa will use the law of human right to protect them from repressive action of police even though they do a wrong action. Let us take a look at the recently case in Bima. Mahasiswa think that there was an infraction of human rights whereas they did anarchy first. They did annoying activity and broke the buildings around there; this had the effect of making police must do a repressive action in order to prevent negative impact. Is what mahasiswa did democracy? Democracy has to be implemented in positive way based on ethic. We can do democracy when we can appreciate the differences among of us and do everything in right attitude.
Indonesian people seem to have forgotten why they are fighting this problem; they really need to return to first principles. Democracy is a system of government which places the ethics as the highest rule. Indonesian people also have Pancasila that have power to control and appreciate the pluralism (different perception of national problem). Mahasiswa should do everything in ethic, because what they do is representative of what they get in college. If Mahasiswa stated that they are an agent of change, they have to be aware that they cannot change something wrong by using wrong method.
References
Dahl, Robert A. 1992. Demokrasi dan Para Pengkritiknya (Terjemahan dari Democracy and Its Critics). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Geertz, Clifford. 1994. Politik Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Indrayana, Denny. 2011. Indonesia Optimis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Nurtjahjo, Hendra. 2008. Filsafat Demokrasi. Jakarta: PT Bina Aksara.
Nowadays, democracy is not merely about a special term of political activity but it has had many vague interpretations of the popular idea (Dahl, 1992: 12). Indonesia government stated that democracy is the basic of every single one of social and political activities, moreover Indonesia have Pancasila as a political system which had organized and united political, religious, and cultural pluralism. Ironically, Indonesian people which are represented by their young educated people unconsciously have broken those principles in terms of their way of arguing and delivering ideas especially in a demonstration.
According to philosophy of democracy that said democracy is not equal to free society but related to ethic. The ethics of politics do not focus on legitimating of the authority, but consider the contribution and participation of all people (Nurtjahjo, 2006: 26). The Contribution and participation of Mahasiswa are implemented by protecting all governments programs, and it worked in the past. Suharto’s regime was overthrown when there are many corruption, collusion, and nepotism cases in the programs by an extraordinary demonstration. How about nowadays? Demonstration does not exist in contribution and participation, but it can be said just as criticism without giving solution. The reason is that Mahasiswa do not know the core of the problem but always see the way of the government to solve the problems pessimistically.
Regarding demonstration, Abdalla (2008) stated that nowadays democracy is going to kill happiness of political activity as a vocation to be replaced by the criticism said routinely but it will break the form wanted but not be able to be realized. In this era, when the young educated people do a demonstration, it has two results; negative assumptions and anarchy. What I mean with negative assumptions is demonstration looks like an instant criminal justice system when the demonstrators can say everything and do judgement to direct person. They can decide that the programs are wrong, the government are corruption, the systems are lack, and the president has to be overthrown. It will end the good programs earlier caused by wrong method of criticism. It may keep the negative psychological sense or over distrustful of government. Consequently, there is no conducive democracy environment because what they do is not related to criticism. Criticism must produce optimism point of view (Indrayana, 2011: 15).
Talking about anarchy, mass media are never bored of showing the violent confrontation between police and demonstrators. Police as an institution that is responsible for protecting people and property, making people obey the law, finding out about and solving crime, and catching people who have committed a crime has done the right procedure. Why police do repressive action absolutely because there is a wrong action of the demonstrator which can disturb other people. On the other hand, Mahasiswa will use the law of human right to protect them from repressive action of police even though they do a wrong action. Let us take a look at the recently case in Bima. Mahasiswa think that there was an infraction of human rights whereas they did anarchy first. They did annoying activity and broke the buildings around there; this had the effect of making police must do a repressive action in order to prevent negative impact. Is what mahasiswa did democracy? Democracy has to be implemented in positive way based on ethic. We can do democracy when we can appreciate the differences among of us and do everything in right attitude.
Indonesian people seem to have forgotten why they are fighting this problem; they really need to return to first principles. Democracy is a system of government which places the ethics as the highest rule. Indonesian people also have Pancasila that have power to control and appreciate the pluralism (different perception of national problem). Mahasiswa should do everything in ethic, because what they do is representative of what they get in college. If Mahasiswa stated that they are an agent of change, they have to be aware that they cannot change something wrong by using wrong method.
References
Dahl, Robert A. 1992. Demokrasi dan Para Pengkritiknya (Terjemahan dari Democracy and Its Critics). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Geertz, Clifford. 1994. Politik Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Indrayana, Denny. 2011. Indonesia Optimis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Nurtjahjo, Hendra. 2008. Filsafat Demokrasi. Jakarta: PT Bina Aksara.
Selasa, 27 Desember 2011
Aku Tak Mau Kamu Ikut
Aku Tak Mau Kamu Ikut
Syarifuddin
Kupu-kupu bermain lincah dengan bunga kuning di taman itu, sekali waktu pergi namun ia hinggap kembali dan mencumbui sang penghias taman itu. Hembusan angin tak sempat mengganggu kepak sayap kupu-kupu menggapai sang penghias. Itukah cinta?
Ardi terpaku dalam heningnya suasana taman sore itu, meresapi angin yang menjadi dingin serta ditemani daun-daun tua yang telah lelah menenempel pada ranting pohon, terlepas, melayang terbawa angin, dan jatuh diperaduannya. Kejadian kemarin masih terekam jelas di memori otaknya yang terkadang mampu menjelma bak mimpi buruk yang selalu menghinggapi tidur malamnya.
Sebuah kabar di sore hari kemarin mengawali runtuhnya pondasi diri yang sekian lama dibangun dari serpihan-serpihan mimpi berbalut kepercayaan diri. Kabar yang seketika membuat segala mimpi-mimpi itu terasa semakin jauh, jauh, dan menghilang entah kemana. Semilir angin sore itu seolah semakin membawa mimpi-mimpi itu tertiup menghilang terbawa ke ujung mata. Wajah murung Ardi tergambar jelas di air kolam yang tenang tanpa sedikit pun gelombang. Seolah menyindir isi hatinya yang sedang dilanda dahsyatnya gelombang serta badai perasaan yang berkecamuk semalaman.
“Ayahmu lebih memilih wanita itu nak!”, kalimat itu yang masih terngiang di telinga Ardi. Ia tak menyangka bahwa ayah yang selama ini ia banggakan, kini tega meninggalkan ibu serta adik-adiknya. Air mata perlahan mengalir seiring dengan kesedihan yang ia rasakan “Apakah aku sekarang hidup tanpa ayah? Siapa yang akan membiayai sekolahku? Uang ayah pasti habis untuk perempuan itu, sekarang saja sudah 3 bulan aku tak dikiriminya” Pikiran itu yang hilir mudik di pikiran Ardi.
Terbayang tentang mimpi-mimpinya yang ia ceritakan kepada sang ayah dulu, tentang kenangan saat berkumpul, tentang nasehat yang diberikan ayah. Namun kenangan itu perlahan berganti dengan kebencian yang sangat kepada sosok lelaki paruh baya itu.
Getaran handphone sesaat menyadarkan lamunannya, terlihat pesan singkat dari Indah kekasihnya. Namun pesan itu tak digubrisnya, langsung saja Sony Ericsson itu ia masukan ke dalam saku kemeja birunya.
Pesan singkat seolah tanpa henti masuk ke ponsel milik Ardi, namun tak ia gubris. Nampaknya Ardi masih senang meratapi masalah yang sedang ia hadapi, meskipun ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ia ratapi. Hingga ia akhirnya merogoh ponselnya dan mendapati 6 pesan singkat dan 3 panggilan tak terjawab, kesemuanya berasal dari orang yang sama yaitu Indah.
Satu persatu pesan singkat dari Indah ia baca,
“Kamu kemana aja sih?”
“Sebenernya kamu di mana?”
“Kenapa telpon aku gak kamu angkat?”
“Ardi...! Kamu gak ngehargain aku banget sih”
“Mau kamu tuh sebenernya apa? Aku nanya baik-baik gak dijawab”
“Kamu lagi selingkuh ya? Makanya sms aku gak kamu bales”
Sebenanrnya Ardi masih enggan untuk membalas pesan singkat itu, namun ia tak mau Indah sampai menyangka yang tidak-tidak. Jarinya mulai mengetik pesan untuk Indah “Maaf ndah, aku lagi pengen sendiri, tolong maafin aku” dan segera ia mengirimkannya.
Tak berselang lama balasannya diterima oleh Ardi. “Emang ada apa sih? Kalau ada masalah tuh ngomong, aku ini kan pacar kamu..apa salahnya kamu cerita sama aku..jangan kaya gini”
Ardi tak membalasnya, ia segera memasukan kembali ponselnya ke saku. Ardi mulai merenung dan berkata sendiri dalam hatinya “Ndah, aku bukannya gak mau cerita sama kamu. Aku gak mau kamu larut dalam kesedihan yang aku rasain sekarang.. Aku tau masalahku ini kecil buat kamu. Tapi jujur Ndah, aku gak kuat kalau harus kehilangan Ayahku dengan cara seperti ini, aku sekarang benci banget sama ayahku..Hati aku lagi gak karuan Ndah, aku takut kalau aku ketemu kamu, kamu bakal jadi korban dari sikap dari emosi aku yang lagi gak stabil.. Aku gak mau kamu sedih Ndah, aku gak mau kamu ikut masuk ke masalah aku, aku gak mau kamu ikut Ndah”
Ponsel Ardi kembali berbunyi, dan lagi-lagi sebuah pesan singkat dari Indah. “Kamu pergi gda kabar kaya gni, seenaknya. Kamu ini nganggap aku apa di?” Namun Ardi tetap tak membalasnya.
Suasana taman mulai ramai oleh anak-anak yang berlarian sambil bermain, Ardi mulai merasa terganggu dan tidak nyaman. Ia ingin sepi, ia ingin sepi. Ia berdiri dan bergegas meninggalkan taman itu dan melangkahkan kakinya entah kemana, ia ingin mencari tempat yang sepi bahkan jika itu ada di ujung dunia sekalipun.
Ia berjalan sambil menunduk dan tidak memperhatikan jalan yang ia lalui, hingga ia tak menyadari bahwa ternyata ia mulai mendekati jalan raya yang penuh dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Handphone Ardi kembali berbunyi, pesan singkat Indah kini wujudnya berbeda “SEMUANYA TERSERAH KAMU DEH, SMS AKU GAK PERNAH KAMU BALES..AKU KURANG APA SAMA KAMU? MULAI SEKARANG KAMU URUS HIDUP KAMU SENDIRI...KITA PUTUS, TERSERAH KAMU MAU NGAPAIN AJA...MAU MATI KE, MAU KETABRAK TRONTON KE..AKU BUKAN SIAPA2 KAMU KO”
Ia tak menggubrisnya, dan masih dengan tertunduk ternyata ia berjalan menyeberangi jalan raya hingga ia tersadar oleh suara deruman mesin mobil truk. Ia berusaha mencari sumber suara itu dengan menolehkan kepala ke kiri namun tak ada kendaraan apapun. Namun ketika ia menoleh ke kanan dengan tak sempat mengedipkan matanya, truk itu menyambar tubuh ringkiknya seketika dan membuatnya terlempar dan membentur aspal hitam jalan itu dengan sangat keras. Benturan itu menghasilkan aliran darah segar dari kepala Ardi yang seketika tewas dengan cara yang mengenaskan.
Syarifuddin
Kupu-kupu bermain lincah dengan bunga kuning di taman itu, sekali waktu pergi namun ia hinggap kembali dan mencumbui sang penghias taman itu. Hembusan angin tak sempat mengganggu kepak sayap kupu-kupu menggapai sang penghias. Itukah cinta?
Ardi terpaku dalam heningnya suasana taman sore itu, meresapi angin yang menjadi dingin serta ditemani daun-daun tua yang telah lelah menenempel pada ranting pohon, terlepas, melayang terbawa angin, dan jatuh diperaduannya. Kejadian kemarin masih terekam jelas di memori otaknya yang terkadang mampu menjelma bak mimpi buruk yang selalu menghinggapi tidur malamnya.
Sebuah kabar di sore hari kemarin mengawali runtuhnya pondasi diri yang sekian lama dibangun dari serpihan-serpihan mimpi berbalut kepercayaan diri. Kabar yang seketika membuat segala mimpi-mimpi itu terasa semakin jauh, jauh, dan menghilang entah kemana. Semilir angin sore itu seolah semakin membawa mimpi-mimpi itu tertiup menghilang terbawa ke ujung mata. Wajah murung Ardi tergambar jelas di air kolam yang tenang tanpa sedikit pun gelombang. Seolah menyindir isi hatinya yang sedang dilanda dahsyatnya gelombang serta badai perasaan yang berkecamuk semalaman.
“Ayahmu lebih memilih wanita itu nak!”, kalimat itu yang masih terngiang di telinga Ardi. Ia tak menyangka bahwa ayah yang selama ini ia banggakan, kini tega meninggalkan ibu serta adik-adiknya. Air mata perlahan mengalir seiring dengan kesedihan yang ia rasakan “Apakah aku sekarang hidup tanpa ayah? Siapa yang akan membiayai sekolahku? Uang ayah pasti habis untuk perempuan itu, sekarang saja sudah 3 bulan aku tak dikiriminya” Pikiran itu yang hilir mudik di pikiran Ardi.
Terbayang tentang mimpi-mimpinya yang ia ceritakan kepada sang ayah dulu, tentang kenangan saat berkumpul, tentang nasehat yang diberikan ayah. Namun kenangan itu perlahan berganti dengan kebencian yang sangat kepada sosok lelaki paruh baya itu.
Getaran handphone sesaat menyadarkan lamunannya, terlihat pesan singkat dari Indah kekasihnya. Namun pesan itu tak digubrisnya, langsung saja Sony Ericsson itu ia masukan ke dalam saku kemeja birunya.
Pesan singkat seolah tanpa henti masuk ke ponsel milik Ardi, namun tak ia gubris. Nampaknya Ardi masih senang meratapi masalah yang sedang ia hadapi, meskipun ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ia ratapi. Hingga ia akhirnya merogoh ponselnya dan mendapati 6 pesan singkat dan 3 panggilan tak terjawab, kesemuanya berasal dari orang yang sama yaitu Indah.
Satu persatu pesan singkat dari Indah ia baca,
“Kamu kemana aja sih?”
“Sebenernya kamu di mana?”
“Kenapa telpon aku gak kamu angkat?”
“Ardi...! Kamu gak ngehargain aku banget sih”
“Mau kamu tuh sebenernya apa? Aku nanya baik-baik gak dijawab”
“Kamu lagi selingkuh ya? Makanya sms aku gak kamu bales”
Sebenanrnya Ardi masih enggan untuk membalas pesan singkat itu, namun ia tak mau Indah sampai menyangka yang tidak-tidak. Jarinya mulai mengetik pesan untuk Indah “Maaf ndah, aku lagi pengen sendiri, tolong maafin aku” dan segera ia mengirimkannya.
Tak berselang lama balasannya diterima oleh Ardi. “Emang ada apa sih? Kalau ada masalah tuh ngomong, aku ini kan pacar kamu..apa salahnya kamu cerita sama aku..jangan kaya gini”
Ardi tak membalasnya, ia segera memasukan kembali ponselnya ke saku. Ardi mulai merenung dan berkata sendiri dalam hatinya “Ndah, aku bukannya gak mau cerita sama kamu. Aku gak mau kamu larut dalam kesedihan yang aku rasain sekarang.. Aku tau masalahku ini kecil buat kamu. Tapi jujur Ndah, aku gak kuat kalau harus kehilangan Ayahku dengan cara seperti ini, aku sekarang benci banget sama ayahku..Hati aku lagi gak karuan Ndah, aku takut kalau aku ketemu kamu, kamu bakal jadi korban dari sikap dari emosi aku yang lagi gak stabil.. Aku gak mau kamu sedih Ndah, aku gak mau kamu ikut masuk ke masalah aku, aku gak mau kamu ikut Ndah”
Ponsel Ardi kembali berbunyi, dan lagi-lagi sebuah pesan singkat dari Indah. “Kamu pergi gda kabar kaya gni, seenaknya. Kamu ini nganggap aku apa di?” Namun Ardi tetap tak membalasnya.
Suasana taman mulai ramai oleh anak-anak yang berlarian sambil bermain, Ardi mulai merasa terganggu dan tidak nyaman. Ia ingin sepi, ia ingin sepi. Ia berdiri dan bergegas meninggalkan taman itu dan melangkahkan kakinya entah kemana, ia ingin mencari tempat yang sepi bahkan jika itu ada di ujung dunia sekalipun.
Ia berjalan sambil menunduk dan tidak memperhatikan jalan yang ia lalui, hingga ia tak menyadari bahwa ternyata ia mulai mendekati jalan raya yang penuh dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Handphone Ardi kembali berbunyi, pesan singkat Indah kini wujudnya berbeda “SEMUANYA TERSERAH KAMU DEH, SMS AKU GAK PERNAH KAMU BALES..AKU KURANG APA SAMA KAMU? MULAI SEKARANG KAMU URUS HIDUP KAMU SENDIRI...KITA PUTUS, TERSERAH KAMU MAU NGAPAIN AJA...MAU MATI KE, MAU KETABRAK TRONTON KE..AKU BUKAN SIAPA2 KAMU KO”
Ia tak menggubrisnya, dan masih dengan tertunduk ternyata ia berjalan menyeberangi jalan raya hingga ia tersadar oleh suara deruman mesin mobil truk. Ia berusaha mencari sumber suara itu dengan menolehkan kepala ke kiri namun tak ada kendaraan apapun. Namun ketika ia menoleh ke kanan dengan tak sempat mengedipkan matanya, truk itu menyambar tubuh ringkiknya seketika dan membuatnya terlempar dan membentur aspal hitam jalan itu dengan sangat keras. Benturan itu menghasilkan aliran darah segar dari kepala Ardi yang seketika tewas dengan cara yang mengenaskan.
Langganan:
Komentar (Atom)