Minggu, 14 Agustus 2011

Ilustrasi Para Birokrat

Mulla Nasruddin didatangi Komisi Pencari Fakta untuk kasus hilangnya para anggota parlemen: “Bis-bis yang mengangkut mereka melewati rumahmu Mulla, kau pasti melihat mereka”.
Mulla agak kesal... justru karena tidak mau diganggu, ia pindah ke desa, jauh dari keramaian kota, ternyata kota tetap mendatanginya juga.
“Ya, ya, saya melihat mereka. Mereka semua mati,” jawab Mulla masih dengan nada kesal.
“Mati, mati, Mulla? Dari mana kau tahu, mana mayat-mayat mereka?” Tanya ketua Komisi yang dulu pernah menjadi Ketua sebuah komisi lain di parlemen yang karena dianggap berperilaku “baik” – setorannya kepada “............” dianggap cukup – maka dipercaya lagi dengan tugas baru.
“Mati, ya mati. Semua orang tahu kalau mati itu seperti apa”. Terasa Mulla enggan membahas “kasus” itu.
Sang Ketua Komisi penasaran, ia mulai menaruh rasa curiga terhadap Mulla. Dari dulu, Mulla memang selalu vokal, tidak disukai banyak orang. “Apa maksudmu Mulla? Bila kau tidak membantu, terpaksa harus kita laporkan kepada pihak yang berwajib”.
“Berwajib? Siapa lagi yang berwajib? Bukankan ente berada di atas mereka semua? Pihak berwajib pun takut sama ente,” tanggap Mulla santai.
Ketua Komisi tersinggung, tapi bahagia juga. Ia mendapatkan pengakuan atas keberhasilan dirinya dan para koleganya menaklukan pihak berwajib. Komisi-komisi di parlemen memang sudah lebih berkuasa dari “pihak berwajib tempo doeloe”. “Sudah, sudah Mulla, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Darimana kau tahu mereka semua mati?”
“Aku melihatnya sendiri. Bis-bis yang mereka tumpangi itu masuk ke dalam jurang. Mereka semua mati, aku sendiri yang menguburkan mereka.”
“Kau menguburkan mereka? Waaduuh, waaduuh, waaduuh, tanpa pemeriksaan dokter, tanpa melaporkannya kepada pihak ber...., eh, setidaknya kepada kami?” Sang Ketua mulai mempercayai dirinya berada di atas pihak-pihak yang pernah disebut “berwajib”.
“Ya, mereka sudah mati. Mau lapor juga tidak akan menghidupkan kembali mereka kan?”
“Tetapi, saat menguburkan mereka apa kau pasti dan yakin bahwa semuanya sudah mati? Mulla, jumlah mereka lebih dari 200, empat bis penuh, dengan cara apa kau memastikan bahwa semuanya mati?”
“Mati, ya, mati..... Pakai cara apa saja, kan sama,” jawab Mulla lugu.
“Aduuuuh Mulla, terpaksa aku harus melaporkan kamu. Di penjara itu nggak enak loh. Jawablah pertanyanku, saat kau menguburkan mereka, apakah tidak seorang pun yang menjerit, meminta bantuan, semuanya mati?”
“Ya, yang menjerit sih banyak, minta bantuan pun banyak. Tapi, pikir saya, anggota parlemen kan selalu berbohong, saat itu pun pasti bohong. Maka, saya tegur mereka supaya tidak berbohong, ‘Kalian semua sudah mati, janganlah berbohong dan berpura-pura masih hidup! Aku kenal baik sifat kalian. Sepanjang hidup berbohong , saat kematian pun tetap berbohong. Insyaflah, sadarlah!’
“Mereka semua sungguh sudah mati, aku tinggal menguburkan saja!”

...... Anan Khrisna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar