Pelajaran di Jalan
Tuhan memang memiliki kekuatan yang sangat besar yang tentunya kekuatan tersebut tidak akan pernah mampu dimiliki oleh makhluk-makhluknya, Tuhan mempunyai cara-cara yang tidak pernah kita fikirkan untuk menunjukan kebesaranNya melalui kejadian-kejadian yang terkadang kita anggap tidak penting atau luput dari perhatian kita. Sesungguhnya kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu itu dengan sia-sia, Tuhan selalu menjadikannya sebagai media bagi kita untuk memaksimalkan kualitas serta potensi terbaik kita untuk beranjak dari kondisi kehidupan kita sekarang menjadi manusia yang selalu berubah menjadi manusia yang baik. Sebuah kejadian sederhana yang beberapa hari lalu saya alami namun mampu membuat saya menjadi kesal, marah dan begitu merasa ironis menyaksikan potret asli masyarakat Indonesia saat ini. Mengapa saya berani menyebutkan kejadian tersebut sebagai potret asli masyarakat Indonesia? Kejadian tersebut saya anggap sebagai sebuah indikasi perubahan watak dan karakter bangsa yang cenderung menjadi individualis dan tidak peka terhadap kondisi sesamanya. Ungkapan bahwa seluruh masyarakat Indonesia laksana satu tubuh yang berarti ketika salah satu anggota tubuhnya mengalami luka, maka anggota tubuh yang lain merasakannya, tampaknya telah semakin memudar. Kejadian tersebut sebagai berikut:
Minggu, 19 Juni 2011. Hari minggu, hari yang selalu dinantikan oleh setiap insan yang selama satu minggu telah bergelut dengan berbagai aktivitas dan selalu ingin memanfaatkan hari tersebut untuk beristirahat ataupun melakukan kegiatan di luar aktivitas sehari-harinya dengan tujuan ingin memperoleh ketenangan secara batin dan menghilangkan penat. Sebuah hari yang cerah dan menyenangkan bagi seorang mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kewajibannya yaitu menempuh UAS (Ujian Akhir Semester) selama satu minggu dan ingin memanfaatkannya untuk berlibur. Hari itu saya putuskan untuk pergi ke Gasibu-an (sebuah kegiatan pasar mingguan yang menawarkan wisata belanja murah meriah yang berlangsung di Lapangan Gasibu) dengan harapan dapat menemukan barang yang ingin saya beli dan tentu saja dengan harga yang cocok dengan kantong saya sebagai mahasiswa dari kelas menengah.
Perjalanan dimulai dengan menaiki angkot jurusan Cicaheum – Ledeng yang berangkat dari Terminal Ledeng, angkot yang saya naiki cukup ramai oleh penumpang dari berbagai kalangan yaitu mahasiswa dengan tas besar (mungkin akan pulang kampung), ibu beserta anaknya, seorang wanita setengah baya dengan pakaian formal, dll. Meskipun penumpangnya cukup banyak, namun suasananya sepi karena semua penumpang diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing serta tidak ada komunikasi yang berarti diantaranya. Suasana mulai berubah ketika empat orang wanita yang saya pikir sebaya dengan saya menghentikan laju angkot di depan sebuah kampus universitas swasta yang berada di Jalan Dr. Setiabudhi. Keempat wanita tersebut menaiki angkot tersebut dan segera mengisi kursi yang masih tersedia, saya yakin bahwa mereka adalah seorang mahasiswi karena obrolan mereka pada waktu itu membicarakan masalah UAS yang telah mereka laksanakan dengan berbagai serba-serbi di dalamnya yang tentu saja membahas masalah dosen, pengawas dan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan. Mereka berbicara dengan volume suara yang saya pikir sangat tinggi sehingga setiap orang di dalam angkot tersebut dapat mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas.
“ Masa gue dapet B dong buat mata kuliah dia, gak bangetlah”
“Iya..udah mah ngajarnya gitu, gk jelas..gimana bisa ngerti materinya, eh nilainya susah”
Kurang lebih begitulah percakapan diantara mereka, secara pribadi saya cukup terganggu dengan cara berkomunikasi mereka karena suaranya yang cukup keras namun saya sadar bahwa ini adalah angkutan umum dan tentu saja kondisi tersebut adalah sesuatu yang wajar. Meskipun seharusnya ketika menggunakan fasilitas umum, kitapun harus memikirkan kenyamanan para pengguna yang lain. Obrolan dari keempat wanita tersebut masih berjalan normal dan masih membicarakan seputar kegiatan perkuliahan yang mereka jalani hingga entah bagaimana awalnya mereka menceritakan kegiatan liburan mereka masing-masing.
“Gue waktu ke Sumatera tujuh hari dong di jalannya aja, kan lewat darat tuh, gue senagaja biar nyantai”
“Serem bangetlah waktu di Aceh masih rame-ramenya GAM, tiap malem rumah-rumah pada diketokin, terus mayat-mayat tuh pada berjejer di jalanan kayak yang kejadian di Sampit tuh”
“Gue udah ngedatengin semua tempat wisata di Sumatera tapi gue belum pernah ke Danau Toba..haha”
“Tapi jujur, gue lebih suka Pulau Sumatera daripada Jawa, tempatnya lebih bagus-bagus”
“Iya, Sumatera tuh lebih nyaman”
Itulah sebagian percakapan mereka yang masih saya ingat, dan pada waktu itu saya semakin merasa tidak nyaman karena mereka berbicara seolah-olah semakin meninggikan suara mereka yang tentu saja sebenarnya ketidaknyamanan itu dirasakan oleh penumpang lain yang dapat saya lihat dari ekspresi wajah mereka dan bahasa tubuh yang mereka tunjukan. Sejujurnya saya masih memaklumi tingkah laku mereka yang berbicara dengan teman-temannya tanpa menghiraukan kenyamanan para penumpang lain, namun hal yang membuat saya semakin sedih dan sejujurnya sakit hati adalah ketika mereka dengan begitu santainya menceritakan kegiatan travelling mereka ke Singapura yang diiringi dengan kegiatan-kegiatan lain sebagai pengisi liburan mereka di sana.
“Waktu di Singapur, jam 8 itu masih gelap ya, pas gue turun dari hotel gue kaget lah kok masih kaya jam 6 pagi di Indonesia, pantesan orang singapur males-males”
“Gue waktu ribut sama nyokap, langsung aja gue cabut ke Soekarno-Hatta terus ke Singapur, bodo amat nyokap gue telpon terus-terusan. Gue angkat telponnya waktu gue udah nyampe di sana aja, eh dia malah katanya nitip beli piring-piringan gitu, yaudah gue beliin aja oleh-oleh dulu buat dia”
“Waktu gue ke Universal Studio tuh, kan di depannya banyak yang jual coklat ya, gue beli aja di situ, murah-murah banget lah, tapi adik gue gak suka yang manis-manis, jadi gue belinya sedikit deh”
“Yang tempat perlindungan hewan-hewan langka itu loh, bagus banget, lo pernah kesana gak?”
“pernah, tapi yang paling asyik yang waktu ke kampung chinanya itu loh, gue gak ngerti mereka ngmong apaan, haha...”
Mengapa saya sakit hati? Mengapa saya sedih? Dan apa hubungannya dengan indikasi perubahan watak dan karakter bangsa yang saya katakan di awal tulisan ini. Inilah yang mendasari pemikiran saya.
Bercerita tentang kegiatan bersenang-senang yang dilakukan oleh seseorang merupakan hak dan sesuatu yang lumrah dilakukan dan bisa jadi itu menambah referensi kegiatan yang dapat memberikan kesenangan dan mengisi waktu liburan yang kita miliki dengan kegiatan yang dapat memberikan kepuasan batin dan dapat menghilangkan kepenatan yang kita alami. Hal tersebut diwujudkan dengan baik dalam ilustrasi yang coba saya gambarkan melalui penggalan-penggalan percakapan di atas, mereka saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman tentang liburan mereka ke Sumatera dan Singapura, tempat-tempat yang memiliki pemandangan cantik, wahana permainan yang mengasyikan, dan tempat membeli souvenir-souvenir dengan berbagai variasi bentuk dan harga. Semua hal tersebut diceritakan dengan begitu detail oleh mereka di atas angkot dengan suara tinggi dan seolah-olah ingin didengar oleh penumpang lain.
Saya menganggap itu sebuah masalah dan bukti telah berubahnya watak masyarakat Indonesia yang menjadi acuh tak acuh terhadap sesamanya. Keempat wanita tersebut seolah tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka perbincangkan itu didengar oleh semua penumpang angkot yang terdiri dari berbagai macam latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi. Mungkin saja ada diantara penumpang angkot tersebut yang memiliki latar belakang ekonomi yang lemah, untuk makan hari ini saja masih harus menunggu ayah ataupun suami yang membawa uang hasil bekerja sebagai pedagang, buruh tani, dll. Sedangkan yang saya rasakan pada waktu itu adalah sakit hati karena saya belum pernah merasakan segala yang mereka ceritakan, jangankan untuk berlibur ke luar negeri, hanya untuk membeli sesuatu yang ingin saya beli saja saya harus menyisihkan sebagian rupiah yang saya miliki sebagai biaya makan saya sehari-hari, barulah saya dapat membeli barang yang saya inginkan. Saya menyadari bahwa itulah dinamika hidup, ada yang kaya tentu ada yang miskin, namun yang ingin saya soroti adalah sudah tidak mampukah kita menjaga perasaan kita satu sama lain, ketika yang kaya sebisa mungkin jangan dengan sengaja menonjolkan kekayaan yang mereka miliki dihadapan orang-orang yang secara strata ekonomi berada di bawah mereka, karena tentu saja tidak bermanfaat. Cobalah untuk sedikit memikirkan perasaan rakyat-rakyat yang hidup menggelandang di luar sana, yang mengais-ngais sisa makanan di tempat sampah yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi namun menjadi hidangan istimewa bagi mereka sebagai pengganjal perut dan mampu membuat mereka bertahan hidup minimal sampai mentari esok hari terbit.
Saya menganggap bahwa sikap seperti yang disebutkan di atas adalah elemen dasar dalam perubahan watak bangsa kita saat ini, watak yang akan terbawa dalam segala aspek kehidupan bangsa saat ini. Para birokrat yang memegang kekuasaan di pemerintahan saat ini mungkin akan sangat bangga ketika mereka menggunakan mobil-mobil mewah yang mereka miliki serta fasilitas hidup lainnya yang sudah begitu terjamin. Padahal sesungguhnya di luar tembok rumah mereka, pemulung sedang mengais-ngais sampah dan berharap ada sedikit rezeki di dalamnya. Kita tentu ingat pernyataan dari Ketua DPR Marzuki Ali yang begitu kontroversial tentang bersikukuhnya anggota DPR untuk membangun gedung baru bagi mereka, karena kita tentu tahu bahwa anggaran pembangunan itu sangat fantastis sedangkan disisi lain kondisi ekonomi masyarakat begitu morat-marit. Beliau mengatakan bahwa kebutuhan para anggota dewan jangan disamakan dengan kebutuhan rakyat biasa, sebuah pernyataan yang menjadi bukti bahwa saat ini masyarakat Indonesia hanya memikirkan kepentingan pribadinya saja, kita satu bangsa namun tidak satu tujuan.
Manusia memang memiliki kehidupannya masing-masing, namun yang ingin coba saya sampaikan disini adalah minimal kita memberikan perhatian kepada orang-orang yang nasibnya tidak seberuntung kita dengan cara menjaga perasaan mereka. Tidak menunjukan apa yang kita miliki, kelebihan harta, serta mempertontonkan otoritas kekuasaan kita dihadapan orang-orang yang tidak memiliki nasib yang sama, karena bisa jadi hal tersebut hanya akan menggoreskan sembilu di hati orang-orang yang sedang begitu tertekan untuk hidup di negara kaya namun miskin ini.
Sesuatu yang besar berawal dari munculnya sesuatu yang kecil dan sederhana, begitu pula sebuah kebiasaan serta karakter kepemimpinan bangsa dapat dibentuk. Ketika kita sebagai rakyat saja tidak mampu menjaga perasaan orang-orang di sekitar kita, maka tidak aneh ketika nantinya kita diberi amanah untuk memimpin bangsa ini hal lumrah yang kita lakukan adalah korupsi, pemerasan dan suap akan menjadi keseharian dalam sistem birokrasi bangsa ini, karena kita telah terlatih untuk tidak memikirkan perasaan serta nasib orang lain yang akan menanggung akibat dari perilaku kita. Pada awalnya kita tidak sadar telah menyakiti orang lain, namun seiring berjalannya waktu kita akan dengan sadar melakukan hal tersebut demi tercapainya keinginan pribadi.
Mental-mental seperti inilah yang harus dicegah oleh para calon penerus bangsa saat ini, tumbuhkan sikap simpati kita terhadap masalah-masalah sensitif yang ada di masyarakat. Tentu saja tidak dengan melalui jalan anarkis, namun akan lebih bijaksana ketika kita mengupayakan kebaikan bagi diri sendiri terlebih dahulu sehingga nantinya kita akan secara otomatis selalu berupaya memberikan kebaikan bagi orang lain melalui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, yaitu menjaga perasaan.
29 Juni 2011
Syarifuddin
Syarifuddin23@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar