Tahun Baru; Deviasi Konsep Resolusi
Malam pergantian tahun selalu diharapkan mampu menjadi momentum kelahiran serta kebangkitan sosok, situasi, kondisi, dan ketercapaian harapan-harapan di tahun mendatang. Kemeriahan menjelang detik-detik bergantinya angka penanda tahun tersebut akan berangsur menggema melalui segala hiruk-pikuk persiapan kegiatan yang disiapkan dan akan semakin menggelegar lewat dentuman petasan, kembang api, dan terompet saat jarum jam menunjukan pukul dua belas. Kekakuan langit malam seketika itu runtuh, malam yang biasanya hanya berteman bulan serta taburan bintang-bintang yang berkelipan mendadak menjadi berwarna-warni. Malam pun tak lagi sunyi, dengan berbagai aktivitas serta teriakan yang mengiringi dentuman kembang api seolah menggantikan suara-suara hewan nokturnal yang biasanya menggunakan waktu ini untuk mengais rezeki. Sebuah perayaan yang harusnya sangat monumental, ketika semangat yang terbungkus dalam letupan kepercayaan diri untuk menyongsong massa baru mampu dengan begitu baik terucap serta tercermin di raut-raut wajah yang optimis dapat merubah serta membuat dirinya bangkit dari keterpurukan. Namun ketika pagi menjelang, apakah semangat kebangkitan itu masih ada?
Ilustrasi di atas seolah menjadi realita yang secara tidak sadar selalu terjadi dan menjangkiti alam bawah sadar kita. Istilah resolusi akhir tahun sebagai sebuah refleksi atas harapan atau mimpi-mimpi yang akan kita lakukan di tahun yang akan datang telah begitu fasih dan mudahnya terucap, namun sudah berapa banyak resolusi yang berhasil kita wujudkan? Bahkan ada sebuah kalimat sindiran yang mengatakan bahwa resolusi tahun 2012 adalah resolusi yang sama dengan resolusi tahun 1978. Resolusi selama ini seolah hanya menjadi instrumen pelengkap dalam perayaan tahun baru tanpa tindak nyata untuk segera bergerak mewujudkannya, padahal kita tidak akan pernah berhasil dalam dunia rencana. Berhasil itu ada dalam dunia nyata, untuk mampu berhasil maka segera sadarlah untuk jangan hanya membiasakan diri hidup dalam dunia rencana tapi hiduplah di dunia nyata melalui gerakan nyata untuk mewujudkan rencana itu.
Resolusi pun terkadang memiliki kecenderungan berupa repetisi dialektika. Disadari atau tidak, saat malam tahun baru yang lalu kita pernah mengucapkan sebuah resolusi untuk kehidupan kita di tahun yang mendatang. Malam tahun baru sekarang pun, mungkin kita akan mengucapkannya lagi. Sebuah apologi yang dianggap rasional adalah karena kita belum mampu mewujudkan resolusi di tahun yang lalu, padahal yang seharusnya kita sadari bersama-sama adalah bukan menyalahkan waktu yang membuat kita tidak/belum mampu mewujudkannya tetapi menanyakan pada diri kita tentang apa yang telah kita lakukan selama kurun waktu setahun yang lalu untuk mewujudkan resolusi tersebut. Mari kita melihat masalah ini dengan menggunakan kacamata logika kritis dimana kecenderungan kita untuk mudah mengucapkan harapan namun malas untuk mewujudkan, sesungguhnya nanti akan terimpilkasi dalam kebiasaan kita untuk melanggar janji ataupun amanah.
Resolusi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sebuah janji kepada diri sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Berdasarkan definisi tersebut, ketika kita mengucapkan sebuah resolusi saat itulah sesungguhnya diri kita sedang menjadi jaminan untuk ketercapaian resolusi tersebut. Ketika resolusi yang kita ucapkan di malam tahun baru itu tidak tercapai hingga saat malam tahun baru berikutnya, maka diri kita sendiri telah tercederai oleh resolusi yang kita buat.
Berkaitan dengan definisi di atas, hal terpenting lain yang kita lupakan adalah resolusi berhubungan dengan komitmen untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Misalnya, ketika kita memiliki resolusi untuk mampu menjadi ranking 1 di kelas, maka kita telah berjanji untuk melakukan (jujur, belajar keras, mengerjakan tugas-tugas dengan maksimal, dll) dan berjanji untuk tidak melakukan (malas belajar, mencontek, dll). Resolusi yang kita ucapkan adalah sama dengan penggadaian terhadap diri sendiri, karena resolusi adalah janji yang tidak melibatkan orang lain tetapi diri sendiri.
Mempertimbangkan penjelasan definisi tersebut dengan tesis yang mengatakan bahwa kegagalan mewujudkan resolusi pribadi akan terimplikasi dalam kebiasaan melanggar janji dan amanah memiliki cukup keterkaitan. Ketika kita berani mengucapkan resolusi pribadi (dengan menggadaikan diri sendiri) dan kemudian kita justru hanya menjadikan itu sebatas dialektika semata tanpa adanya tindak nyata yang bertujuan mewujudkan resolusi tersebut dan tidak ada penyesalan ketika tidak mampu mencapainya bahkan mengucapkannya lagi di tahun mendatang, maka dapat kita bayangkan bagaimana jika kita diamanahi oleh seseorang untuk menduduki sebuah jabatan (dengan konsekuensi harus melakukan sesuatu dan tidak boleh melakukan sesuatu), kita akan terbiasa untuk melanggar batasan-batasan yang seharusnya tidak kita lakukan dan justru melupakan hal-hal yang seharusnya kita lakukan untuk mewujudkan amanah tersebut
Geertz (1994) pernah mengatakan bahwa ketakutan-ketakutan sekitar masalah suksesi segala hal, cukup nyata terlihat ketika hal-hal yang diungkapkan terbukti tak berdasar. Faktor-faktor yang memengaruhi ketidakmampuan kita dalam mewujudkan resolusi terkadang adalah masalah rasionalitas dan hal yang mendasari terciptanya sebuah resolusi.
Sebagai konklusi, resolusi mungkin hanya masalah kecil yang sesungguhnya tidak harus dibicarakan sedemikian serius. Namun, hal yang harus selalu diingat ketika mengucapkan resolusi adalah hal yang mendasari hasrat untuk mewujudkan keinginan tersebut ditambah dengan rasionalitas yang berdasarkan kepada kemampuan diri untuk berjuang dan konsisten dalam usaha-usaha pencapaian resolusi, karena resolusi adalah janji kepada diri sendiri, dan janji adalah hutang, dan hutang akan mengganjal pintu surga yang sama-sama ingin kita lalui. Selama kita tidak mencapai resolusi yang kita ucapkan, maka selama itu kita berhutang pada diri sendiri. Mulailah dengan mengganti kata “semoga” dalam resolusi menjadi “harus”, agar secara tidak sadar saraf otak kita menjadi seolah-olah dipaksa untuk bekerja keras memformulasikan ide untuk selalu melakukan apa yang kita resolusikan.
Syarifuddin
Sebuah Interpretasi sederhana terhadap masalah yang sederhana namun sesungguhnya sangat kompleks untuk diperbincangkan. Kita terkadang terjebak oleh berbagai hal yang dianggap umum dan menganggap itu sebagai sebuah kebenaran.
Jumat, 30 Desember 2011
“Agent of Change” in The Name of Democracy
“Agent of Change” in The Name of Democracy
Nowadays, democracy is not merely about a special term of political activity but it has had many vague interpretations of the popular idea (Dahl, 1992: 12). Indonesia government stated that democracy is the basic of every single one of social and political activities, moreover Indonesia have Pancasila as a political system which had organized and united political, religious, and cultural pluralism. Ironically, Indonesian people which are represented by their young educated people unconsciously have broken those principles in terms of their way of arguing and delivering ideas especially in a demonstration.
According to philosophy of democracy that said democracy is not equal to free society but related to ethic. The ethics of politics do not focus on legitimating of the authority, but consider the contribution and participation of all people (Nurtjahjo, 2006: 26). The Contribution and participation of Mahasiswa are implemented by protecting all governments programs, and it worked in the past. Suharto’s regime was overthrown when there are many corruption, collusion, and nepotism cases in the programs by an extraordinary demonstration. How about nowadays? Demonstration does not exist in contribution and participation, but it can be said just as criticism without giving solution. The reason is that Mahasiswa do not know the core of the problem but always see the way of the government to solve the problems pessimistically.
Regarding demonstration, Abdalla (2008) stated that nowadays democracy is going to kill happiness of political activity as a vocation to be replaced by the criticism said routinely but it will break the form wanted but not be able to be realized. In this era, when the young educated people do a demonstration, it has two results; negative assumptions and anarchy. What I mean with negative assumptions is demonstration looks like an instant criminal justice system when the demonstrators can say everything and do judgement to direct person. They can decide that the programs are wrong, the government are corruption, the systems are lack, and the president has to be overthrown. It will end the good programs earlier caused by wrong method of criticism. It may keep the negative psychological sense or over distrustful of government. Consequently, there is no conducive democracy environment because what they do is not related to criticism. Criticism must produce optimism point of view (Indrayana, 2011: 15).
Talking about anarchy, mass media are never bored of showing the violent confrontation between police and demonstrators. Police as an institution that is responsible for protecting people and property, making people obey the law, finding out about and solving crime, and catching people who have committed a crime has done the right procedure. Why police do repressive action absolutely because there is a wrong action of the demonstrator which can disturb other people. On the other hand, Mahasiswa will use the law of human right to protect them from repressive action of police even though they do a wrong action. Let us take a look at the recently case in Bima. Mahasiswa think that there was an infraction of human rights whereas they did anarchy first. They did annoying activity and broke the buildings around there; this had the effect of making police must do a repressive action in order to prevent negative impact. Is what mahasiswa did democracy? Democracy has to be implemented in positive way based on ethic. We can do democracy when we can appreciate the differences among of us and do everything in right attitude.
Indonesian people seem to have forgotten why they are fighting this problem; they really need to return to first principles. Democracy is a system of government which places the ethics as the highest rule. Indonesian people also have Pancasila that have power to control and appreciate the pluralism (different perception of national problem). Mahasiswa should do everything in ethic, because what they do is representative of what they get in college. If Mahasiswa stated that they are an agent of change, they have to be aware that they cannot change something wrong by using wrong method.
References
Dahl, Robert A. 1992. Demokrasi dan Para Pengkritiknya (Terjemahan dari Democracy and Its Critics). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Geertz, Clifford. 1994. Politik Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Indrayana, Denny. 2011. Indonesia Optimis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Nurtjahjo, Hendra. 2008. Filsafat Demokrasi. Jakarta: PT Bina Aksara.
Nowadays, democracy is not merely about a special term of political activity but it has had many vague interpretations of the popular idea (Dahl, 1992: 12). Indonesia government stated that democracy is the basic of every single one of social and political activities, moreover Indonesia have Pancasila as a political system which had organized and united political, religious, and cultural pluralism. Ironically, Indonesian people which are represented by their young educated people unconsciously have broken those principles in terms of their way of arguing and delivering ideas especially in a demonstration.
According to philosophy of democracy that said democracy is not equal to free society but related to ethic. The ethics of politics do not focus on legitimating of the authority, but consider the contribution and participation of all people (Nurtjahjo, 2006: 26). The Contribution and participation of Mahasiswa are implemented by protecting all governments programs, and it worked in the past. Suharto’s regime was overthrown when there are many corruption, collusion, and nepotism cases in the programs by an extraordinary demonstration. How about nowadays? Demonstration does not exist in contribution and participation, but it can be said just as criticism without giving solution. The reason is that Mahasiswa do not know the core of the problem but always see the way of the government to solve the problems pessimistically.
Regarding demonstration, Abdalla (2008) stated that nowadays democracy is going to kill happiness of political activity as a vocation to be replaced by the criticism said routinely but it will break the form wanted but not be able to be realized. In this era, when the young educated people do a demonstration, it has two results; negative assumptions and anarchy. What I mean with negative assumptions is demonstration looks like an instant criminal justice system when the demonstrators can say everything and do judgement to direct person. They can decide that the programs are wrong, the government are corruption, the systems are lack, and the president has to be overthrown. It will end the good programs earlier caused by wrong method of criticism. It may keep the negative psychological sense or over distrustful of government. Consequently, there is no conducive democracy environment because what they do is not related to criticism. Criticism must produce optimism point of view (Indrayana, 2011: 15).
Talking about anarchy, mass media are never bored of showing the violent confrontation between police and demonstrators. Police as an institution that is responsible for protecting people and property, making people obey the law, finding out about and solving crime, and catching people who have committed a crime has done the right procedure. Why police do repressive action absolutely because there is a wrong action of the demonstrator which can disturb other people. On the other hand, Mahasiswa will use the law of human right to protect them from repressive action of police even though they do a wrong action. Let us take a look at the recently case in Bima. Mahasiswa think that there was an infraction of human rights whereas they did anarchy first. They did annoying activity and broke the buildings around there; this had the effect of making police must do a repressive action in order to prevent negative impact. Is what mahasiswa did democracy? Democracy has to be implemented in positive way based on ethic. We can do democracy when we can appreciate the differences among of us and do everything in right attitude.
Indonesian people seem to have forgotten why they are fighting this problem; they really need to return to first principles. Democracy is a system of government which places the ethics as the highest rule. Indonesian people also have Pancasila that have power to control and appreciate the pluralism (different perception of national problem). Mahasiswa should do everything in ethic, because what they do is representative of what they get in college. If Mahasiswa stated that they are an agent of change, they have to be aware that they cannot change something wrong by using wrong method.
References
Dahl, Robert A. 1992. Demokrasi dan Para Pengkritiknya (Terjemahan dari Democracy and Its Critics). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Geertz, Clifford. 1994. Politik Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Indrayana, Denny. 2011. Indonesia Optimis. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Nurtjahjo, Hendra. 2008. Filsafat Demokrasi. Jakarta: PT Bina Aksara.
Selasa, 27 Desember 2011
Aku Tak Mau Kamu Ikut
Aku Tak Mau Kamu Ikut
Syarifuddin
Kupu-kupu bermain lincah dengan bunga kuning di taman itu, sekali waktu pergi namun ia hinggap kembali dan mencumbui sang penghias taman itu. Hembusan angin tak sempat mengganggu kepak sayap kupu-kupu menggapai sang penghias. Itukah cinta?
Ardi terpaku dalam heningnya suasana taman sore itu, meresapi angin yang menjadi dingin serta ditemani daun-daun tua yang telah lelah menenempel pada ranting pohon, terlepas, melayang terbawa angin, dan jatuh diperaduannya. Kejadian kemarin masih terekam jelas di memori otaknya yang terkadang mampu menjelma bak mimpi buruk yang selalu menghinggapi tidur malamnya.
Sebuah kabar di sore hari kemarin mengawali runtuhnya pondasi diri yang sekian lama dibangun dari serpihan-serpihan mimpi berbalut kepercayaan diri. Kabar yang seketika membuat segala mimpi-mimpi itu terasa semakin jauh, jauh, dan menghilang entah kemana. Semilir angin sore itu seolah semakin membawa mimpi-mimpi itu tertiup menghilang terbawa ke ujung mata. Wajah murung Ardi tergambar jelas di air kolam yang tenang tanpa sedikit pun gelombang. Seolah menyindir isi hatinya yang sedang dilanda dahsyatnya gelombang serta badai perasaan yang berkecamuk semalaman.
“Ayahmu lebih memilih wanita itu nak!”, kalimat itu yang masih terngiang di telinga Ardi. Ia tak menyangka bahwa ayah yang selama ini ia banggakan, kini tega meninggalkan ibu serta adik-adiknya. Air mata perlahan mengalir seiring dengan kesedihan yang ia rasakan “Apakah aku sekarang hidup tanpa ayah? Siapa yang akan membiayai sekolahku? Uang ayah pasti habis untuk perempuan itu, sekarang saja sudah 3 bulan aku tak dikiriminya” Pikiran itu yang hilir mudik di pikiran Ardi.
Terbayang tentang mimpi-mimpinya yang ia ceritakan kepada sang ayah dulu, tentang kenangan saat berkumpul, tentang nasehat yang diberikan ayah. Namun kenangan itu perlahan berganti dengan kebencian yang sangat kepada sosok lelaki paruh baya itu.
Getaran handphone sesaat menyadarkan lamunannya, terlihat pesan singkat dari Indah kekasihnya. Namun pesan itu tak digubrisnya, langsung saja Sony Ericsson itu ia masukan ke dalam saku kemeja birunya.
Pesan singkat seolah tanpa henti masuk ke ponsel milik Ardi, namun tak ia gubris. Nampaknya Ardi masih senang meratapi masalah yang sedang ia hadapi, meskipun ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ia ratapi. Hingga ia akhirnya merogoh ponselnya dan mendapati 6 pesan singkat dan 3 panggilan tak terjawab, kesemuanya berasal dari orang yang sama yaitu Indah.
Satu persatu pesan singkat dari Indah ia baca,
“Kamu kemana aja sih?”
“Sebenernya kamu di mana?”
“Kenapa telpon aku gak kamu angkat?”
“Ardi...! Kamu gak ngehargain aku banget sih”
“Mau kamu tuh sebenernya apa? Aku nanya baik-baik gak dijawab”
“Kamu lagi selingkuh ya? Makanya sms aku gak kamu bales”
Sebenanrnya Ardi masih enggan untuk membalas pesan singkat itu, namun ia tak mau Indah sampai menyangka yang tidak-tidak. Jarinya mulai mengetik pesan untuk Indah “Maaf ndah, aku lagi pengen sendiri, tolong maafin aku” dan segera ia mengirimkannya.
Tak berselang lama balasannya diterima oleh Ardi. “Emang ada apa sih? Kalau ada masalah tuh ngomong, aku ini kan pacar kamu..apa salahnya kamu cerita sama aku..jangan kaya gini”
Ardi tak membalasnya, ia segera memasukan kembali ponselnya ke saku. Ardi mulai merenung dan berkata sendiri dalam hatinya “Ndah, aku bukannya gak mau cerita sama kamu. Aku gak mau kamu larut dalam kesedihan yang aku rasain sekarang.. Aku tau masalahku ini kecil buat kamu. Tapi jujur Ndah, aku gak kuat kalau harus kehilangan Ayahku dengan cara seperti ini, aku sekarang benci banget sama ayahku..Hati aku lagi gak karuan Ndah, aku takut kalau aku ketemu kamu, kamu bakal jadi korban dari sikap dari emosi aku yang lagi gak stabil.. Aku gak mau kamu sedih Ndah, aku gak mau kamu ikut masuk ke masalah aku, aku gak mau kamu ikut Ndah”
Ponsel Ardi kembali berbunyi, dan lagi-lagi sebuah pesan singkat dari Indah. “Kamu pergi gda kabar kaya gni, seenaknya. Kamu ini nganggap aku apa di?” Namun Ardi tetap tak membalasnya.
Suasana taman mulai ramai oleh anak-anak yang berlarian sambil bermain, Ardi mulai merasa terganggu dan tidak nyaman. Ia ingin sepi, ia ingin sepi. Ia berdiri dan bergegas meninggalkan taman itu dan melangkahkan kakinya entah kemana, ia ingin mencari tempat yang sepi bahkan jika itu ada di ujung dunia sekalipun.
Ia berjalan sambil menunduk dan tidak memperhatikan jalan yang ia lalui, hingga ia tak menyadari bahwa ternyata ia mulai mendekati jalan raya yang penuh dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Handphone Ardi kembali berbunyi, pesan singkat Indah kini wujudnya berbeda “SEMUANYA TERSERAH KAMU DEH, SMS AKU GAK PERNAH KAMU BALES..AKU KURANG APA SAMA KAMU? MULAI SEKARANG KAMU URUS HIDUP KAMU SENDIRI...KITA PUTUS, TERSERAH KAMU MAU NGAPAIN AJA...MAU MATI KE, MAU KETABRAK TRONTON KE..AKU BUKAN SIAPA2 KAMU KO”
Ia tak menggubrisnya, dan masih dengan tertunduk ternyata ia berjalan menyeberangi jalan raya hingga ia tersadar oleh suara deruman mesin mobil truk. Ia berusaha mencari sumber suara itu dengan menolehkan kepala ke kiri namun tak ada kendaraan apapun. Namun ketika ia menoleh ke kanan dengan tak sempat mengedipkan matanya, truk itu menyambar tubuh ringkiknya seketika dan membuatnya terlempar dan membentur aspal hitam jalan itu dengan sangat keras. Benturan itu menghasilkan aliran darah segar dari kepala Ardi yang seketika tewas dengan cara yang mengenaskan.
Syarifuddin
Kupu-kupu bermain lincah dengan bunga kuning di taman itu, sekali waktu pergi namun ia hinggap kembali dan mencumbui sang penghias taman itu. Hembusan angin tak sempat mengganggu kepak sayap kupu-kupu menggapai sang penghias. Itukah cinta?
Ardi terpaku dalam heningnya suasana taman sore itu, meresapi angin yang menjadi dingin serta ditemani daun-daun tua yang telah lelah menenempel pada ranting pohon, terlepas, melayang terbawa angin, dan jatuh diperaduannya. Kejadian kemarin masih terekam jelas di memori otaknya yang terkadang mampu menjelma bak mimpi buruk yang selalu menghinggapi tidur malamnya.
Sebuah kabar di sore hari kemarin mengawali runtuhnya pondasi diri yang sekian lama dibangun dari serpihan-serpihan mimpi berbalut kepercayaan diri. Kabar yang seketika membuat segala mimpi-mimpi itu terasa semakin jauh, jauh, dan menghilang entah kemana. Semilir angin sore itu seolah semakin membawa mimpi-mimpi itu tertiup menghilang terbawa ke ujung mata. Wajah murung Ardi tergambar jelas di air kolam yang tenang tanpa sedikit pun gelombang. Seolah menyindir isi hatinya yang sedang dilanda dahsyatnya gelombang serta badai perasaan yang berkecamuk semalaman.
“Ayahmu lebih memilih wanita itu nak!”, kalimat itu yang masih terngiang di telinga Ardi. Ia tak menyangka bahwa ayah yang selama ini ia banggakan, kini tega meninggalkan ibu serta adik-adiknya. Air mata perlahan mengalir seiring dengan kesedihan yang ia rasakan “Apakah aku sekarang hidup tanpa ayah? Siapa yang akan membiayai sekolahku? Uang ayah pasti habis untuk perempuan itu, sekarang saja sudah 3 bulan aku tak dikiriminya” Pikiran itu yang hilir mudik di pikiran Ardi.
Terbayang tentang mimpi-mimpinya yang ia ceritakan kepada sang ayah dulu, tentang kenangan saat berkumpul, tentang nasehat yang diberikan ayah. Namun kenangan itu perlahan berganti dengan kebencian yang sangat kepada sosok lelaki paruh baya itu.
Getaran handphone sesaat menyadarkan lamunannya, terlihat pesan singkat dari Indah kekasihnya. Namun pesan itu tak digubrisnya, langsung saja Sony Ericsson itu ia masukan ke dalam saku kemeja birunya.
Pesan singkat seolah tanpa henti masuk ke ponsel milik Ardi, namun tak ia gubris. Nampaknya Ardi masih senang meratapi masalah yang sedang ia hadapi, meskipun ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ia ratapi. Hingga ia akhirnya merogoh ponselnya dan mendapati 6 pesan singkat dan 3 panggilan tak terjawab, kesemuanya berasal dari orang yang sama yaitu Indah.
Satu persatu pesan singkat dari Indah ia baca,
“Kamu kemana aja sih?”
“Sebenernya kamu di mana?”
“Kenapa telpon aku gak kamu angkat?”
“Ardi...! Kamu gak ngehargain aku banget sih”
“Mau kamu tuh sebenernya apa? Aku nanya baik-baik gak dijawab”
“Kamu lagi selingkuh ya? Makanya sms aku gak kamu bales”
Sebenanrnya Ardi masih enggan untuk membalas pesan singkat itu, namun ia tak mau Indah sampai menyangka yang tidak-tidak. Jarinya mulai mengetik pesan untuk Indah “Maaf ndah, aku lagi pengen sendiri, tolong maafin aku” dan segera ia mengirimkannya.
Tak berselang lama balasannya diterima oleh Ardi. “Emang ada apa sih? Kalau ada masalah tuh ngomong, aku ini kan pacar kamu..apa salahnya kamu cerita sama aku..jangan kaya gini”
Ardi tak membalasnya, ia segera memasukan kembali ponselnya ke saku. Ardi mulai merenung dan berkata sendiri dalam hatinya “Ndah, aku bukannya gak mau cerita sama kamu. Aku gak mau kamu larut dalam kesedihan yang aku rasain sekarang.. Aku tau masalahku ini kecil buat kamu. Tapi jujur Ndah, aku gak kuat kalau harus kehilangan Ayahku dengan cara seperti ini, aku sekarang benci banget sama ayahku..Hati aku lagi gak karuan Ndah, aku takut kalau aku ketemu kamu, kamu bakal jadi korban dari sikap dari emosi aku yang lagi gak stabil.. Aku gak mau kamu sedih Ndah, aku gak mau kamu ikut masuk ke masalah aku, aku gak mau kamu ikut Ndah”
Ponsel Ardi kembali berbunyi, dan lagi-lagi sebuah pesan singkat dari Indah. “Kamu pergi gda kabar kaya gni, seenaknya. Kamu ini nganggap aku apa di?” Namun Ardi tetap tak membalasnya.
Suasana taman mulai ramai oleh anak-anak yang berlarian sambil bermain, Ardi mulai merasa terganggu dan tidak nyaman. Ia ingin sepi, ia ingin sepi. Ia berdiri dan bergegas meninggalkan taman itu dan melangkahkan kakinya entah kemana, ia ingin mencari tempat yang sepi bahkan jika itu ada di ujung dunia sekalipun.
Ia berjalan sambil menunduk dan tidak memperhatikan jalan yang ia lalui, hingga ia tak menyadari bahwa ternyata ia mulai mendekati jalan raya yang penuh dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Handphone Ardi kembali berbunyi, pesan singkat Indah kini wujudnya berbeda “SEMUANYA TERSERAH KAMU DEH, SMS AKU GAK PERNAH KAMU BALES..AKU KURANG APA SAMA KAMU? MULAI SEKARANG KAMU URUS HIDUP KAMU SENDIRI...KITA PUTUS, TERSERAH KAMU MAU NGAPAIN AJA...MAU MATI KE, MAU KETABRAK TRONTON KE..AKU BUKAN SIAPA2 KAMU KO”
Ia tak menggubrisnya, dan masih dengan tertunduk ternyata ia berjalan menyeberangi jalan raya hingga ia tersadar oleh suara deruman mesin mobil truk. Ia berusaha mencari sumber suara itu dengan menolehkan kepala ke kiri namun tak ada kendaraan apapun. Namun ketika ia menoleh ke kanan dengan tak sempat mengedipkan matanya, truk itu menyambar tubuh ringkiknya seketika dan membuatnya terlempar dan membentur aspal hitam jalan itu dengan sangat keras. Benturan itu menghasilkan aliran darah segar dari kepala Ardi yang seketika tewas dengan cara yang mengenaskan.
Rabu, 30 November 2011
Sedikit Sumbangsih " Karakter Bangsa; Kaya Dialektika, Miskin Tindak Nyata"
Sosial
Karakter Bangsa; Kaya Dialektika, Miskin Tindak Nyata
(Syarifsays.blogspot.com)
Rangkuman:
Karakter bangsa menjadi sebuah masalah yang menjadi jawaban bagi alasan keterpurukan kondisi bangsa saat ini, kondisi pelik yang dihadapi menyebabkan pemerintah bekerja keras dalam menemukan akar masalah yang sesungguhnya. Pemuda sebagai generasi penerus seolah menjadi objek yang mengalami dampak keterpurukan karakter bangsa, padahal ketika pejabat yang korupsi, terlibat narkoba, suap-menyuap, mereka seolah tidak dianggap sebagai pelaku kemerosotan karakter. Kondisi tersebut diperparah dengan paradigma yang berkembang bahwa masalah karakter bangsa ini seolah hanya menjadi ajang berdialektika teori serta konsep penyelesaian masalah, dan yang terlupakan oleh kita adalah karakter sangat berkaitan dengan tindakan bukan teori. Oleh karena itu, kita dapat mewujudkan perubahan karakter bangsa ketika kita mampu melakukan tindakan-tindakan yang baik dalam ruang lingkup yang kecil namun memancarkan kesamaan ucapan, tindakan, dan perbuatan.
Karakter bangsa dalam antropologi (khususnya masa lampau) dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat tersebut. Memang harus diakui bahwa bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis karakter, Indonesia seolah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang memiliki prinsip ideologi kebangsaan yang eksklusif, berkebudayaan tinggi, memiliki tata krama, sopan santun, toleransi, gotong royong, semangat juang, dan nasionalisme. Nilai-nilai luhur yang berakar dari pengkajian kebudayaan nenek moyang kita tersebut, saat ini telah mulai tergantikan oleh produk-produk perkembangan zaman yang memungkinkan masuknya pengaruh-pengaruh budaya asing yang secara tidak sadar sesungguhnya mulai menggeser eksistensi budaya bangsa Indonesia sebagai karakter di kalangan masyarakatnya sendiri. Kita harus menyadari bahwa karakter menjadi sangat penting bagi suatu bangsa karena ia adalah kombinasi dari kualitas-kualitas khusus masyarakatnya yang akan membuat bangsa tersebut berbeda dari bangsa-bangsa yang ada di dunia ini, apa jadinya suatu bangsa yang tidak memiliki karakter? Hal-hal yang mungkin terjadi, antara lain: hilangnya identitas nasional, mudah terombang-ambing dalam polemik yang bermuara pada konflik, memungkinkan retaknya semangat kesatuan bangsa, hilangnya semangat kecintaan serta kebanggaan terhadap bangsa, dan mudah dimasuki oleh tujuan-tujuan negatif dari negara-negara adikuasa.
Permasalahan karakter bangsa saat ini telah menjadi isu nasional, karena hal tersebutlah yang menjadi penyebab keterpurukan bangsa Indonesia di berbagai bidang kehidupan, sehingga memaksa pemerintah untuk melahirkan adanya kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa yang diwujudkan dengan dibentuknya sejumlah lembaga nasional seperti Badan Koordinasi Pembangunan Karakter Bangsa serta Satuan Kerja Pembangunan Karakter Bangsa dari tingkat pusat sampai daerah serta banyak dilaksanakan seminar-seminar yang mengangkat isu karakter bangsa sebagai tajuk utamanya. Efektifkah kegiatan-kegiatan tersebut?
Kita memang harus tetap mengapresiasi pencapaian dari program serta usaha-usaha pemerintah dan berbagai organisasi untuk berkontribusi dalam usaha rediscovery of our national character/identity. Namun, mari kita melihat menggunakan kacamata hati yang lebih jujur dalam menjustifikasi keefektivitasan metode penyelesaian masalah karakter bangsa ini. Seberapa seringkah kita melihat berita tentang penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, demonstrasi yang berakhir anarkis, bentrok antar suku, ricuh antar kelompok masyarakat, korupsi, suap-menyuap, kecurangan birokrasi, jual beli hukum, dan berbagai tindakan tercela yang sering menjadi headline di media massa saat ini. Kita tidak bisa menutup mata tentang masalah ini, inilah potret nyata merosotnya karakter bangsa yang mulai tergantikan oleh paradigma-paradigma anarkis dan keserakahan lymbic individualisme (pusat insting hewani manusia).
Sesungguhnya ada kegelisahan yang menyeruak tentang metode penemuan kembali karakter bangsa yang selama ini digunakan, yaitu :
1. Dewasa ini, karakter bangsa seolah hanya menjadi sebuah objek kajian dari para pakar berbagai cabang keilmuan yang kemudian disampaikan dalam seminar-seminar, namun tidak menyentuh inti permasalahan yang sebenarnya terjadi di kalangan masyarakat.
2. Seolah ada rumus baku dalam penamaan judul sebuah seminar, yaitu menempatkan “Karakter Bangsa” di akhir kalimat. Hal ini sebuah bentuk kesadaran diri bahwa kita ingin mengembalikan karakter bangsa kita yang hilang atau sebuah bukti bahwa karakter bangsa memang hanya menjadi objek dialektika.
3. Ada tendensi yang negatif ketika kemerosotan karakter bangsa selalu dihubungkan dengan kaum muda. Padahal jika karakter bangsa itu berkaitan dengan tindakan-tindakan yang baik, maka kita harus dengan besar hati mengatakan bahwa para pejabat yang menyalahgunakan wewenang, korupsi, menerima suap, terlibat penyalahgunaan narkoba, berdebat demi kepentingan golongan, mereka pun telah mengalami kemerosotan karakter. Oleh karena itu, sangat tidak fair jika ada yang mengatakan bahwa pemuda bangsa Indonesia telah kehilangan karakter bangsa, karena sesungguhnya penyakit itu telah menjangkit ke semua lapisan masyarakat dari segala usia.
4. Karakter itu berkaitan dengan moral, moral itu terlahir dari nilai-nilai yang baik, dan nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat adalah rembesan dari didikan para orangtua kita yang mengedepankan kebaikan dari hal-hal yang kita anggap kecil. Sadarlah bahwa kita tidak akan mampu mewujudkan perubahan karakter bangsa ketika kita justru melupakan hal-hal kecil yang sesungguhnya bernilai bak mutiara.
Sudah habis teori di gudang; demikian ungkapan Profesor Mahfud MD ketika menjawab pertanyaaan mahasiswanya tentang teori apa lagi yang bisa digunakan untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis (Kompas, 11 Oktober 2005). Inilah kelemahan bangsa kita, terlalu mengedepankan teori dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sesungguhnya lebih membutuhkan tindakan nyata daripada diskusi serta rumusan konsep yang hanya akan menjadi dokumen semata. Karakter bangsa tidak akan bisa diselesaikan hanya melulu melalui dialektika tentang konsep-konsep, ingatlah bahwa karakter seseorang itu akan dapat kita lihat dari tindakan yang dilakukannya, ketika yang dilakukannya baik maka kita akan dapat menilai bahwa karakternya baik. Begitupun dalam ruang lingkup kebangsaan, sebuah bangsa dapat dikatakan memiliki karakter yang baik, ketika masyarakatnya (bukan hanya pemuda) melakukan hal-hal yang baik. Janganlah menghabiskan waktu kita untuk berdialektika dalam polemik tentang karakter bangsa, karena hanya akan menjadi kenihilan jika tanpa aplikasi. Oleh karena itu, ayo kita bertindak!
Mari kita bersama-sama berkaca diri tentang apa yang telah kita lakukan sebagai wujud manifestasi internalisasi karakter bangsa dalam perilaku kita sehari-hari. Perubahan karakter bangsa harus berangkat dari tindakan nyata yang kita lakukan dalam mencapai sebuah bentuk karakter bangsa indonesia yang berasal dari nilai-nilai luhur kebudayaan yang sesungguhnya. Seperti yang saya tuliskan di atas, kesalahan terbesar kita yang menyebabkan mulai hilangnya karakter bangsa adalah terlupakannya nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan oleh orangtua kita semenjak kita dalam masa kanak-kanak, berawal dari melupakan hal-hal kecil tersebutlah berakibat pada penghalalan terhadap kesalahan besar yang dilakukan ketika kita mulai beranjak dewasa.
Kapan terakhir kali kita membuang sampah pada tempatnya? Kapan terakhir kali kita menyeberang jalan di jembatan penyeberangan? Sudah berapa kali kita berbohong? Kapan terakhir kali kita mengatakan “permisi” di depan kerumunan orang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sebuah sentilan yang mungkin kita anggap tidak ada substansinya dengan masalah karakter bangsa, namun perhatikanlah, jika kita telah begitu sering membuang sampah sembarangan, tidak menyeberang pada tempatnya, dan berjuta kali melakukan kebohongan, kemudian sangat jarang untuk mengatakan “permisi” di depan kerumunan orang, maka itulah fakta bahwa kita telah hidup dalam paradigma individualisme yang menyimpang dari karakter bangsa kita yang mengedepankan persatuan dan gotong royong. Kita begitu tidak peduli pada kondisi lingkungan, kita menyalahi aturan dan menjegal hak serta kenyamanan orang lain, dan dengan santainya melakukan berbagai jenis kebohongan untuk menutupi aib pribadi. Hal tersebutlah yang menyebabkan mulai hilangnya ikatan sosial antar masyarakat bangsa kita.
Aristoteles mengatakan bahwa seseorang yang baik tidak hanya mempunyai satu kebajikan, sikap dan tindak tanduk orang tersebut adalah panduan moralita dalam segala hal (Hersh, et.al., 2009). Seorang yang berkarakter harus mampu memancarkan kebajikan yang berasal dari kesamaan antara ucapan, sikap, dan perbuatan. Apa yang selama ini dilakukan oleh bangsa kita untuk menemukan kembali karakter bangsa yang berada pada titik nadir ini adalah baru pada tahap ucapan. Para teoritikus kita begitu asyik berdialektika dan berucap bahwa bangsa kita sedang terpuruk, namun secara tidak sadar sikap dan perbuatannya justru menyalahi teori-teori yang diucapkannya. Selama Indonesia hanya mampu mengucapkan “karakter bangsa” dan sulit untuk bersikap serta berbuat sesuai dengan apa yang diucapkan, maka selama itu pula Indonesia menjadi bangsa yang tidak berkarakter.
Hentikanlah segala angan-angan kita dalam dunia teori tentang karakter, bangun dan segera sadarlah untuk melakukan tindak nyata yang meskipun kecil akan mampu memberikan dampak yang signifikan dalam perubahan wajah bangsa di masa yang akan datang. Lebih jujurlah kepada hati nurani, ketika kita sedikit saja menyimpang dan melakukan hal-hal yang tidak baik, maka ketika itulah karakter bangsa yang kita miliki telah kita khianati. Bersegeralah merubah diri kita ke arah perbaikan, tanpa harus beretorika terlebih dahulu, mulailah dengan mengahargai sesama, menjaga ketertiban lingkungan, dan mematuhi hukum. Itulah karakter bangsa yang selama ini kita cari.
Syarifuddin
Karakter Bangsa; Kaya Dialektika, Miskin Tindak Nyata
(Syarifsays.blogspot.com)
Rangkuman:
Karakter bangsa menjadi sebuah masalah yang menjadi jawaban bagi alasan keterpurukan kondisi bangsa saat ini, kondisi pelik yang dihadapi menyebabkan pemerintah bekerja keras dalam menemukan akar masalah yang sesungguhnya. Pemuda sebagai generasi penerus seolah menjadi objek yang mengalami dampak keterpurukan karakter bangsa, padahal ketika pejabat yang korupsi, terlibat narkoba, suap-menyuap, mereka seolah tidak dianggap sebagai pelaku kemerosotan karakter. Kondisi tersebut diperparah dengan paradigma yang berkembang bahwa masalah karakter bangsa ini seolah hanya menjadi ajang berdialektika teori serta konsep penyelesaian masalah, dan yang terlupakan oleh kita adalah karakter sangat berkaitan dengan tindakan bukan teori. Oleh karena itu, kita dapat mewujudkan perubahan karakter bangsa ketika kita mampu melakukan tindakan-tindakan yang baik dalam ruang lingkup yang kecil namun memancarkan kesamaan ucapan, tindakan, dan perbuatan.
Karakter bangsa dalam antropologi (khususnya masa lampau) dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat tersebut. Memang harus diakui bahwa bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis karakter, Indonesia seolah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang memiliki prinsip ideologi kebangsaan yang eksklusif, berkebudayaan tinggi, memiliki tata krama, sopan santun, toleransi, gotong royong, semangat juang, dan nasionalisme. Nilai-nilai luhur yang berakar dari pengkajian kebudayaan nenek moyang kita tersebut, saat ini telah mulai tergantikan oleh produk-produk perkembangan zaman yang memungkinkan masuknya pengaruh-pengaruh budaya asing yang secara tidak sadar sesungguhnya mulai menggeser eksistensi budaya bangsa Indonesia sebagai karakter di kalangan masyarakatnya sendiri. Kita harus menyadari bahwa karakter menjadi sangat penting bagi suatu bangsa karena ia adalah kombinasi dari kualitas-kualitas khusus masyarakatnya yang akan membuat bangsa tersebut berbeda dari bangsa-bangsa yang ada di dunia ini, apa jadinya suatu bangsa yang tidak memiliki karakter? Hal-hal yang mungkin terjadi, antara lain: hilangnya identitas nasional, mudah terombang-ambing dalam polemik yang bermuara pada konflik, memungkinkan retaknya semangat kesatuan bangsa, hilangnya semangat kecintaan serta kebanggaan terhadap bangsa, dan mudah dimasuki oleh tujuan-tujuan negatif dari negara-negara adikuasa.
Permasalahan karakter bangsa saat ini telah menjadi isu nasional, karena hal tersebutlah yang menjadi penyebab keterpurukan bangsa Indonesia di berbagai bidang kehidupan, sehingga memaksa pemerintah untuk melahirkan adanya kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa yang diwujudkan dengan dibentuknya sejumlah lembaga nasional seperti Badan Koordinasi Pembangunan Karakter Bangsa serta Satuan Kerja Pembangunan Karakter Bangsa dari tingkat pusat sampai daerah serta banyak dilaksanakan seminar-seminar yang mengangkat isu karakter bangsa sebagai tajuk utamanya. Efektifkah kegiatan-kegiatan tersebut?
Kita memang harus tetap mengapresiasi pencapaian dari program serta usaha-usaha pemerintah dan berbagai organisasi untuk berkontribusi dalam usaha rediscovery of our national character/identity. Namun, mari kita melihat menggunakan kacamata hati yang lebih jujur dalam menjustifikasi keefektivitasan metode penyelesaian masalah karakter bangsa ini. Seberapa seringkah kita melihat berita tentang penyalahgunaan narkoba, tawuran pelajar, tawuran mahasiswa, demonstrasi yang berakhir anarkis, bentrok antar suku, ricuh antar kelompok masyarakat, korupsi, suap-menyuap, kecurangan birokrasi, jual beli hukum, dan berbagai tindakan tercela yang sering menjadi headline di media massa saat ini. Kita tidak bisa menutup mata tentang masalah ini, inilah potret nyata merosotnya karakter bangsa yang mulai tergantikan oleh paradigma-paradigma anarkis dan keserakahan lymbic individualisme (pusat insting hewani manusia).
Sesungguhnya ada kegelisahan yang menyeruak tentang metode penemuan kembali karakter bangsa yang selama ini digunakan, yaitu :
1. Dewasa ini, karakter bangsa seolah hanya menjadi sebuah objek kajian dari para pakar berbagai cabang keilmuan yang kemudian disampaikan dalam seminar-seminar, namun tidak menyentuh inti permasalahan yang sebenarnya terjadi di kalangan masyarakat.
2. Seolah ada rumus baku dalam penamaan judul sebuah seminar, yaitu menempatkan “Karakter Bangsa” di akhir kalimat. Hal ini sebuah bentuk kesadaran diri bahwa kita ingin mengembalikan karakter bangsa kita yang hilang atau sebuah bukti bahwa karakter bangsa memang hanya menjadi objek dialektika.
3. Ada tendensi yang negatif ketika kemerosotan karakter bangsa selalu dihubungkan dengan kaum muda. Padahal jika karakter bangsa itu berkaitan dengan tindakan-tindakan yang baik, maka kita harus dengan besar hati mengatakan bahwa para pejabat yang menyalahgunakan wewenang, korupsi, menerima suap, terlibat penyalahgunaan narkoba, berdebat demi kepentingan golongan, mereka pun telah mengalami kemerosotan karakter. Oleh karena itu, sangat tidak fair jika ada yang mengatakan bahwa pemuda bangsa Indonesia telah kehilangan karakter bangsa, karena sesungguhnya penyakit itu telah menjangkit ke semua lapisan masyarakat dari segala usia.
4. Karakter itu berkaitan dengan moral, moral itu terlahir dari nilai-nilai yang baik, dan nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat adalah rembesan dari didikan para orangtua kita yang mengedepankan kebaikan dari hal-hal yang kita anggap kecil. Sadarlah bahwa kita tidak akan mampu mewujudkan perubahan karakter bangsa ketika kita justru melupakan hal-hal kecil yang sesungguhnya bernilai bak mutiara.
Sudah habis teori di gudang; demikian ungkapan Profesor Mahfud MD ketika menjawab pertanyaaan mahasiswanya tentang teori apa lagi yang bisa digunakan untuk membawa bangsa ini keluar dari krisis (Kompas, 11 Oktober 2005). Inilah kelemahan bangsa kita, terlalu mengedepankan teori dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sesungguhnya lebih membutuhkan tindakan nyata daripada diskusi serta rumusan konsep yang hanya akan menjadi dokumen semata. Karakter bangsa tidak akan bisa diselesaikan hanya melulu melalui dialektika tentang konsep-konsep, ingatlah bahwa karakter seseorang itu akan dapat kita lihat dari tindakan yang dilakukannya, ketika yang dilakukannya baik maka kita akan dapat menilai bahwa karakternya baik. Begitupun dalam ruang lingkup kebangsaan, sebuah bangsa dapat dikatakan memiliki karakter yang baik, ketika masyarakatnya (bukan hanya pemuda) melakukan hal-hal yang baik. Janganlah menghabiskan waktu kita untuk berdialektika dalam polemik tentang karakter bangsa, karena hanya akan menjadi kenihilan jika tanpa aplikasi. Oleh karena itu, ayo kita bertindak!
Mari kita bersama-sama berkaca diri tentang apa yang telah kita lakukan sebagai wujud manifestasi internalisasi karakter bangsa dalam perilaku kita sehari-hari. Perubahan karakter bangsa harus berangkat dari tindakan nyata yang kita lakukan dalam mencapai sebuah bentuk karakter bangsa indonesia yang berasal dari nilai-nilai luhur kebudayaan yang sesungguhnya. Seperti yang saya tuliskan di atas, kesalahan terbesar kita yang menyebabkan mulai hilangnya karakter bangsa adalah terlupakannya nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan oleh orangtua kita semenjak kita dalam masa kanak-kanak, berawal dari melupakan hal-hal kecil tersebutlah berakibat pada penghalalan terhadap kesalahan besar yang dilakukan ketika kita mulai beranjak dewasa.
Kapan terakhir kali kita membuang sampah pada tempatnya? Kapan terakhir kali kita menyeberang jalan di jembatan penyeberangan? Sudah berapa kali kita berbohong? Kapan terakhir kali kita mengatakan “permisi” di depan kerumunan orang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sebuah sentilan yang mungkin kita anggap tidak ada substansinya dengan masalah karakter bangsa, namun perhatikanlah, jika kita telah begitu sering membuang sampah sembarangan, tidak menyeberang pada tempatnya, dan berjuta kali melakukan kebohongan, kemudian sangat jarang untuk mengatakan “permisi” di depan kerumunan orang, maka itulah fakta bahwa kita telah hidup dalam paradigma individualisme yang menyimpang dari karakter bangsa kita yang mengedepankan persatuan dan gotong royong. Kita begitu tidak peduli pada kondisi lingkungan, kita menyalahi aturan dan menjegal hak serta kenyamanan orang lain, dan dengan santainya melakukan berbagai jenis kebohongan untuk menutupi aib pribadi. Hal tersebutlah yang menyebabkan mulai hilangnya ikatan sosial antar masyarakat bangsa kita.
Aristoteles mengatakan bahwa seseorang yang baik tidak hanya mempunyai satu kebajikan, sikap dan tindak tanduk orang tersebut adalah panduan moralita dalam segala hal (Hersh, et.al., 2009). Seorang yang berkarakter harus mampu memancarkan kebajikan yang berasal dari kesamaan antara ucapan, sikap, dan perbuatan. Apa yang selama ini dilakukan oleh bangsa kita untuk menemukan kembali karakter bangsa yang berada pada titik nadir ini adalah baru pada tahap ucapan. Para teoritikus kita begitu asyik berdialektika dan berucap bahwa bangsa kita sedang terpuruk, namun secara tidak sadar sikap dan perbuatannya justru menyalahi teori-teori yang diucapkannya. Selama Indonesia hanya mampu mengucapkan “karakter bangsa” dan sulit untuk bersikap serta berbuat sesuai dengan apa yang diucapkan, maka selama itu pula Indonesia menjadi bangsa yang tidak berkarakter.
Hentikanlah segala angan-angan kita dalam dunia teori tentang karakter, bangun dan segera sadarlah untuk melakukan tindak nyata yang meskipun kecil akan mampu memberikan dampak yang signifikan dalam perubahan wajah bangsa di masa yang akan datang. Lebih jujurlah kepada hati nurani, ketika kita sedikit saja menyimpang dan melakukan hal-hal yang tidak baik, maka ketika itulah karakter bangsa yang kita miliki telah kita khianati. Bersegeralah merubah diri kita ke arah perbaikan, tanpa harus beretorika terlebih dahulu, mulailah dengan mengahargai sesama, menjaga ketertiban lingkungan, dan mematuhi hukum. Itulah karakter bangsa yang selama ini kita cari.
Syarifuddin
Jumat, 28 Oktober 2011
Pelajaran DariMu
Pelajaran DariMu
Kakiku bergetar tertiup derap serdadu angin
Kunang mata itu enggan terbang menuju kebahagiaan
PanggilanMu menuntun alunan simphoni tubuh dalam harmoni hati
Tanpa keluh yang meluruh
Peluh ini pun tak mampu mengeja setiap huruf dalam sesal
Bahkan mentari tak pernah iri melihat bulan bertahta dalam malam
Awan mendung pun berarak dalam kuasa angin
Bahagia dirimu dalam batinNya
Bukan kau yang meminta dibahagiakan
Bahkan ketika daun itu pun tertiup, ia tak marah pada angin
Dini hari, 241011
Kakiku bergetar tertiup derap serdadu angin
Kunang mata itu enggan terbang menuju kebahagiaan
PanggilanMu menuntun alunan simphoni tubuh dalam harmoni hati
Tanpa keluh yang meluruh
Peluh ini pun tak mampu mengeja setiap huruf dalam sesal
Bahkan mentari tak pernah iri melihat bulan bertahta dalam malam
Awan mendung pun berarak dalam kuasa angin
Bahagia dirimu dalam batinNya
Bukan kau yang meminta dibahagiakan
Bahkan ketika daun itu pun tertiup, ia tak marah pada angin
Dini hari, 241011
Nafas Gelap Untuk Benderang
Nafas Gelap Untuk Benderang
MencintaiMu tak pernah sama
Kadang berbalas senyum penuh makna
Bahagiakah? Sedihkah? Senangkah? MARAHkah?
Rasanya otak ini sudah lupa arti MARAH
Tubuh ini selalu gagal mendeskripsikan MARAH
Mulut ini tergagap mengucap MARAH
Hela nafasku memburu dan tak keliru
Aku tak terburu namun membelenggu
Hembusan angis laksana setan pelita amarah
Awan malam perlahan menutup pancaran purnama
Menyindir datang gulita yang mendekat pada bulan merah jambu
Namun, Ketulusan itu memudarkan gelap itu
TerangMu harus selalu benderang
Itu bagiku hutang
Maka...
Izinkan aku MARAH padaMu ketika waktu membiarkanku mampu mengucapkan MARAH
Waktu Isya, 271011
MencintaiMu tak pernah sama
Kadang berbalas senyum penuh makna
Bahagiakah? Sedihkah? Senangkah? MARAHkah?
Rasanya otak ini sudah lupa arti MARAH
Tubuh ini selalu gagal mendeskripsikan MARAH
Mulut ini tergagap mengucap MARAH
Hela nafasku memburu dan tak keliru
Aku tak terburu namun membelenggu
Hembusan angis laksana setan pelita amarah
Awan malam perlahan menutup pancaran purnama
Menyindir datang gulita yang mendekat pada bulan merah jambu
Namun, Ketulusan itu memudarkan gelap itu
TerangMu harus selalu benderang
Itu bagiku hutang
Maka...
Izinkan aku MARAH padaMu ketika waktu membiarkanku mampu mengucapkan MARAH
Waktu Isya, 271011
Cinta DariMu
Cinta DariMu
CintaMu tak indah dalam kata cinta
Tak seharum mawar pun, tak semanis anggur pun, tak seelok pelangi pun, tak sesegar mata air pun, tak sesejuk hawa gunung pun, tak seputih awan pun, tak sekokoh karang pun, itu cintaMu
Perihnya cintaMu tak layak berbalas sesal
Meskipun kadang termangu menggiring diri
Kau tepis setiap ragu dengan eloknya pancaran bias cinta dalam curahan kasihMu
Kemarin saat tertunduk, kau belai diriku untuk dapat mengangkat kepala ini seperti mereka
Tadi saat tengok keraguan berkecamuk, kau tunjukan arah itu
Kini saat ku hendak melangkah, kau mengiringi setiap pijakan hingga tempat bahagia menanti
Itu cintaMu
Dini hari, 241011
CintaMu tak indah dalam kata cinta
Tak seharum mawar pun, tak semanis anggur pun, tak seelok pelangi pun, tak sesegar mata air pun, tak sesejuk hawa gunung pun, tak seputih awan pun, tak sekokoh karang pun, itu cintaMu
Perihnya cintaMu tak layak berbalas sesal
Meskipun kadang termangu menggiring diri
Kau tepis setiap ragu dengan eloknya pancaran bias cinta dalam curahan kasihMu
Kemarin saat tertunduk, kau belai diriku untuk dapat mengangkat kepala ini seperti mereka
Tadi saat tengok keraguan berkecamuk, kau tunjukan arah itu
Kini saat ku hendak melangkah, kau mengiringi setiap pijakan hingga tempat bahagia menanti
Itu cintaMu
Dini hari, 241011
Selasa, 18 Oktober 2011
Have you been a good writer?
Have you been a good writer?
Writing is one of the important skills in English course, and at least we had got this course when we were in senior high school. We had been known that the common text in English are descriptive, recount, report, narrative, procedure and our teacher in senior high school had been informed about the definition, structure, purpose and language features that made the texts become different. But we have to aware of our ability that what we had got in senior high school still not sufficient to make a good writing paper, we still need more knowledge about writing skills to be a good writer.
In the University, especially for the newest students, they are going to get some language skill courses (listening, writing, reading, and speaking) in general communication. They are basic for us to communicate with other people in English. Especially for writing, it will make us know how to make a good writing and make us be a good writer.
When we study about writing in the university, we will face with another method of the lecturer. The lecturer will give us a lot of things that we never found when we were in senior high school. We will be forced to make the texts which are different and more challenging than before. For example: in senior high school, when we want to make descriptive text. We will make the description of the people who have been known, but now we have to make an interview and make description of the stranger people. Because of that, when we try to make the texts that we did not do when we were in senior high school, of course we will get a lot of new vocabularies. It is a very challenging task, can improve our writing skill and broke open our paradigm about the texts. The benefit of this method is the students can get an improvement score, because the students always give their best effort when they do the tasks which are felt as a new thing.
Besides, we are trained to be more sensitive with mechanical terms of writing. When we are writing, first step that we have to do is thinking. It means that we have to pay attention to the structure, idea and language that we use, make sure that the reader will not confuse with the purpose of the text.
Based on the fact and data mentioning above, what we had got all this time is not sufficient and we get more knowledge in this course. We get a lot of benefits from writing general communication course as our basic that can make us be a good writer in the future.
Writing is one of the important skills in English course, and at least we had got this course when we were in senior high school. We had been known that the common text in English are descriptive, recount, report, narrative, procedure and our teacher in senior high school had been informed about the definition, structure, purpose and language features that made the texts become different. But we have to aware of our ability that what we had got in senior high school still not sufficient to make a good writing paper, we still need more knowledge about writing skills to be a good writer.
In the University, especially for the newest students, they are going to get some language skill courses (listening, writing, reading, and speaking) in general communication. They are basic for us to communicate with other people in English. Especially for writing, it will make us know how to make a good writing and make us be a good writer.
When we study about writing in the university, we will face with another method of the lecturer. The lecturer will give us a lot of things that we never found when we were in senior high school. We will be forced to make the texts which are different and more challenging than before. For example: in senior high school, when we want to make descriptive text. We will make the description of the people who have been known, but now we have to make an interview and make description of the stranger people. Because of that, when we try to make the texts that we did not do when we were in senior high school, of course we will get a lot of new vocabularies. It is a very challenging task, can improve our writing skill and broke open our paradigm about the texts. The benefit of this method is the students can get an improvement score, because the students always give their best effort when they do the tasks which are felt as a new thing.
Besides, we are trained to be more sensitive with mechanical terms of writing. When we are writing, first step that we have to do is thinking. It means that we have to pay attention to the structure, idea and language that we use, make sure that the reader will not confuse with the purpose of the text.
Based on the fact and data mentioning above, what we had got all this time is not sufficient and we get more knowledge in this course. We get a lot of benefits from writing general communication course as our basic that can make us be a good writer in the future.
Redefining Multicultural Education
The article has title “Redefining Multicultural Education”, it is an interesting and informative article because the author has tried to show us the difficult problem that our country face nowadays in different way, he explains all things about pluralism as our power and the way to increase our sensitivity to cultural pluralism. The article talks about Indonesia are a multicultural, multilingual, and multi religious society, it would be a boomerang for us, and pluralistic society will have problems and conflicts. Education is a method to solve the problems and conflicts which happen now, we can be aware of our pluralistic society through the right education policy.
I think actually the content of the article is about the sins of Suharto’s regime that have destroyed all part of our life and make us forget our identity as a plural country. We were forced to submit to a higher authority and make all things are one, we did not respect to diversity (culture, opinion, etc). I am very interested in the statement of the author that said social justice for all Indonesians (one of the fifth principle of Pancasila) was not understood by the past government (Suharto’s regime). I think that is the reason of all problems that happen, there is no justice and make the citizen be antipathy each other. Education and politic are a central part of our government to increase the prosperity unfortunately have many complex problems. I am going to try to elaborate my opinion about these are as follows.
Education as a means to educate the citizen has many problems that can make the goal of education cannot be realized, let us see from the education policy “local content” as the government’s attempt to accommodate the tradition of the people but I think it will make us do not understand about cultural beliefs, values and attitudes of different ethnic groups in our country. Our pluralistic awareness will fade and probably can make us lose our identity as a nation that has catchword “unity in diversity”, that is why there are many conflicts inter ethnic groups. The problems can be solved through multicultural education because education has function as nurturing and practicing pluralistic thoughts.
Because of Suharto’s regime, I think the big destruction of national character has attacked violently on our bureaucracy and governance. Nowadays, there is degradation morality of our governance that would have been public mistrust of the government, and suspicion of the armed forces. The bureaucracy did not realize that people’s conscience, self esteem and pride were hurt, resulting in a loss of trust in the government, they just think about how they get a lot of money from the project of government. Multicultural education can use to change and come up their character, when multicultural education has been their mind. The government will think to realize the prosperity and respect each other, do not see from the cultural or ethnic background.
As said before, through the multicultural education we can change the condition of communicating and interacting each other and widely for the government can grow our awareness to respect to all Indonesians, we have to know that we are standing under one motherland “Indonesia” and pluralistic society is uniting the Indonesian’s differences.
I think actually the content of the article is about the sins of Suharto’s regime that have destroyed all part of our life and make us forget our identity as a plural country. We were forced to submit to a higher authority and make all things are one, we did not respect to diversity (culture, opinion, etc). I am very interested in the statement of the author that said social justice for all Indonesians (one of the fifth principle of Pancasila) was not understood by the past government (Suharto’s regime). I think that is the reason of all problems that happen, there is no justice and make the citizen be antipathy each other. Education and politic are a central part of our government to increase the prosperity unfortunately have many complex problems. I am going to try to elaborate my opinion about these are as follows.
Education as a means to educate the citizen has many problems that can make the goal of education cannot be realized, let us see from the education policy “local content” as the government’s attempt to accommodate the tradition of the people but I think it will make us do not understand about cultural beliefs, values and attitudes of different ethnic groups in our country. Our pluralistic awareness will fade and probably can make us lose our identity as a nation that has catchword “unity in diversity”, that is why there are many conflicts inter ethnic groups. The problems can be solved through multicultural education because education has function as nurturing and practicing pluralistic thoughts.
Because of Suharto’s regime, I think the big destruction of national character has attacked violently on our bureaucracy and governance. Nowadays, there is degradation morality of our governance that would have been public mistrust of the government, and suspicion of the armed forces. The bureaucracy did not realize that people’s conscience, self esteem and pride were hurt, resulting in a loss of trust in the government, they just think about how they get a lot of money from the project of government. Multicultural education can use to change and come up their character, when multicultural education has been their mind. The government will think to realize the prosperity and respect each other, do not see from the cultural or ethnic background.
As said before, through the multicultural education we can change the condition of communicating and interacting each other and widely for the government can grow our awareness to respect to all Indonesians, we have to know that we are standing under one motherland “Indonesia” and pluralistic society is uniting the Indonesian’s differences.
Education to Develop Social Awareness
The title of the article is “Education to Develop Social Awareness”, this article is an explanation about social problem that can be solved with education. When I read this article for the first time, I am very interested because the author try to combain the social problems of our country with the two theories beyond them that have contradiction among them but they can help the government to solve the problems. The theory which is explained is about the dichotomy of social sciences versus non-social sciences, and I do agree that be they social scientists or non-social scientists, have two kinds of responsibility, namely academic responsibility and social responsibility.
And after I read this article, I have different opinion with the author. Social problems such as corruption, collusion, nepotism, pornography, street children, and unemployment may have been our country’s face and they are never solved during 66 years after independence and 6 presidents can not alleviate them.
When our country has many social problems, we need to discover what the solution is. And the social scientists have capability to do that because they are agents to offer new principles built up through transparent discussions, polemics, open debate and dialogs, after that they can do academic analysis to solve and find new lenses to approach the problems which are anomalous, strange, or even nonsensical.
The scientists can make the public reconsider and reformulate their focus on the issues, and the public will have same paradigm with the scientists and may have different paradigm with the bureaucrats and even will be social chaos and upheavals among them.
Although the scientists have function to control natural phenomena but we have to know that the government has power that could directly control social problems in his way. All analysis, ideas, vision, and alternative solutions will collide with the government policy. There is nothing that we can do, and the alternative solutions that we offer will be a trash which is not needed and the fate of our country will never change and we will let the society struggle to the utmost for prosperity by them.
I think the bureaucrats and the intellectual critics are not wrong, even though a theory said that the conflicts between them are due to the fact that bureaucrats fail to share the body of knowledge essential for understanding the metaphors used by the critics. I see from the other side that the critics might not have capability to bring into reality what they say, because there are many factors and defiance’s which can make they change the prow, we now that there are many personage who are very audacious to oppose with the government but when he is in part of the government, what he said before can not be realized.
Because of that, I think social awareness is not the only one important thing to change our country but our awareness has to be gone along with our effort to realize, because success is not on your mind but in reality, no matter how good your solutions are, they will be unworthwhile if you do not do.
And after I read this article, I have different opinion with the author. Social problems such as corruption, collusion, nepotism, pornography, street children, and unemployment may have been our country’s face and they are never solved during 66 years after independence and 6 presidents can not alleviate them.
When our country has many social problems, we need to discover what the solution is. And the social scientists have capability to do that because they are agents to offer new principles built up through transparent discussions, polemics, open debate and dialogs, after that they can do academic analysis to solve and find new lenses to approach the problems which are anomalous, strange, or even nonsensical.
The scientists can make the public reconsider and reformulate their focus on the issues, and the public will have same paradigm with the scientists and may have different paradigm with the bureaucrats and even will be social chaos and upheavals among them.
Although the scientists have function to control natural phenomena but we have to know that the government has power that could directly control social problems in his way. All analysis, ideas, vision, and alternative solutions will collide with the government policy. There is nothing that we can do, and the alternative solutions that we offer will be a trash which is not needed and the fate of our country will never change and we will let the society struggle to the utmost for prosperity by them.
I think the bureaucrats and the intellectual critics are not wrong, even though a theory said that the conflicts between them are due to the fact that bureaucrats fail to share the body of knowledge essential for understanding the metaphors used by the critics. I see from the other side that the critics might not have capability to bring into reality what they say, because there are many factors and defiance’s which can make they change the prow, we now that there are many personage who are very audacious to oppose with the government but when he is in part of the government, what he said before can not be realized.
Because of that, I think social awareness is not the only one important thing to change our country but our awareness has to be gone along with our effort to realize, because success is not on your mind but in reality, no matter how good your solutions are, they will be unworthwhile if you do not do.
Does literacy have influence on literature?
Does literacy have influence on literature?
Basicaly, literature comes from a great comprehension and application of literacy skills. When somebody has capable to explore his/her skills, he/she will make a great literary text. As we know that almost literature is poured in text, so literacy skill has influence on literature.
Literature is writing valued as works of art, especialy novels, plays, and poems. The keyword of the definition are writing and works of art, writing is part of literacy skill and when we can use it in right way, we can make an art work.
Literature is made firstly as a record of real event. It recorded in a literary works, in the words with elaboration of literacy skills, literature can bring you to read the world in the word. Due to this statement, literacy is not only talked in reading and writing skills but also the ability to understand the world.
Reading the literature has tendency as read a work of art, where we have to enjoy the works. When somebody has felt interested in literary text, he/she will get easy to understand it and of course this can make a habit and develop his/her literacy level.
I conclude that there will never be literature without literacy skill, literacy skill is important to expand the literature product. Literacy has an important influence on literature, because literacy is a sinergetic collection of discrete skills, all those skills that give one automatic facility with the written word: reading, writing, spelling, grammar, vocabulary, and mechanics.
Basicaly, literature comes from a great comprehension and application of literacy skills. When somebody has capable to explore his/her skills, he/she will make a great literary text. As we know that almost literature is poured in text, so literacy skill has influence on literature.
Literature is writing valued as works of art, especialy novels, plays, and poems. The keyword of the definition are writing and works of art, writing is part of literacy skill and when we can use it in right way, we can make an art work.
Literature is made firstly as a record of real event. It recorded in a literary works, in the words with elaboration of literacy skills, literature can bring you to read the world in the word. Due to this statement, literacy is not only talked in reading and writing skills but also the ability to understand the world.
Reading the literature has tendency as read a work of art, where we have to enjoy the works. When somebody has felt interested in literary text, he/she will get easy to understand it and of course this can make a habit and develop his/her literacy level.
I conclude that there will never be literature without literacy skill, literacy skill is important to expand the literature product. Literacy has an important influence on literature, because literacy is a sinergetic collection of discrete skills, all those skills that give one automatic facility with the written word: reading, writing, spelling, grammar, vocabulary, and mechanics.
Kreativitas Intelektual Anak Bangsa
The title of the article is “Kreativitas Intelektual Anak Bangsa”. It is an informative article and gives the reader motivation to expand their creativity. The author explains many data to support his thesis and emphasize that creativity level of the Indonesian children who are 10 years old is low than other children with same age in different country -The Philippines, USA, England, Germany, India, People’s Republic of China, Cameroon, Zulu, Indonesia- (Jellen and Urban). Actually, the contents of the article tease us as mahasiswa by insinuation and allusion. He says that intellect refers to human’s ability to use their logical reasoning but practically it is often forgotten and not developed with the result that the existence is vague and make the people are not intellect (people who have critical thinking). Why I can say that the article teases us? In Indonesia, mahasiswa have high level in society and have many sobriquets say for example agent of change, young intellectual, etc but the condition of our country is same, still poor, irregularity, unemployment, careless, corrupt, unfair, etc. We can assume that we as a mahasiswa do not have intellectuality to produce the critical thinking to wake up our country into prosperity.
Mahasiswa have been forced to use their critical thinking when they write minithesis to obtain dokterandus degree and the result of this activity is mahasiswa can mix they critical thinking with creativity to produce a fresh concept of something. The methods to reach critical thinking are formulating an issue, looking for the reason, showing the exact source, relevant with main idea, looking for the alternative solving problem, having opened minded. The sixth are implicated in education life in university. The article focuses on creativity of mahasiswa in modern era because there are many accusations that say mahasiswa in this era are low creativity, and creativity in this context is creativity in literacy. Because, if we want to make Indonesia be an advance country, we have to increase our reading fondness and produce or publish book, newspaper, magazine, etc.
Regarding critical thinking and creativity in literacy, we can use writing as a means to train our critical thinking and creativity. Because when we are writing, we will be forced to make application of what our ideas are into connecting sentence structure in our writing. We used our critical thinking to see a problem and find out the problem solving and use our creativity to pour them into the text.
As a mahasiswa who have intellectuality, we have responsibility to ourselves to be queath our ideas about science, technology for the sake of prosperity. And if we do it, it is not less creative, monumental, heroic, and patriotic than proclamation. We have to prove that we have awareness to our country.
I do agree with the author’s argument in this article. Hopefully, this article can whip us as a young generation to be creative and productive especially in literacy in order to chase a way stupidity and poverty in Indonesia. Mahasiswa have to give their best effort into everything they do in their major and do not let your county down because the future of Indonesia depends on you “mahasiswa”, it depends on what your contribution to your country.
Mahasiswa have been forced to use their critical thinking when they write minithesis to obtain dokterandus degree and the result of this activity is mahasiswa can mix they critical thinking with creativity to produce a fresh concept of something. The methods to reach critical thinking are formulating an issue, looking for the reason, showing the exact source, relevant with main idea, looking for the alternative solving problem, having opened minded. The sixth are implicated in education life in university. The article focuses on creativity of mahasiswa in modern era because there are many accusations that say mahasiswa in this era are low creativity, and creativity in this context is creativity in literacy. Because, if we want to make Indonesia be an advance country, we have to increase our reading fondness and produce or publish book, newspaper, magazine, etc.
Regarding critical thinking and creativity in literacy, we can use writing as a means to train our critical thinking and creativity. Because when we are writing, we will be forced to make application of what our ideas are into connecting sentence structure in our writing. We used our critical thinking to see a problem and find out the problem solving and use our creativity to pour them into the text.
As a mahasiswa who have intellectuality, we have responsibility to ourselves to be queath our ideas about science, technology for the sake of prosperity. And if we do it, it is not less creative, monumental, heroic, and patriotic than proclamation. We have to prove that we have awareness to our country.
I do agree with the author’s argument in this article. Hopefully, this article can whip us as a young generation to be creative and productive especially in literacy in order to chase a way stupidity and poverty in Indonesia. Mahasiswa have to give their best effort into everything they do in their major and do not let your county down because the future of Indonesia depends on you “mahasiswa”, it depends on what your contribution to your country.
Intellectuals lack writing skills
“Intellectuals lack writing skills” is the title of the article that I have read. I think it is an informative and also enlightening article about how very dilapidated the education system is, they just give us receptive skills (listening and reading) and this system has consequence for the students with the result that do not have productive skills (speaking and writing). Ironically, in this country the people who have high academic title (masters, doctors, professors) are also good consumer, they just read many books which are written by foreigners in English as their bibliography in their own master’s thesis or doctoral dissertation. On the other hand, they should apply their ability to think and understand things, especially for the complicated ideas in their writing. I think there is a cause-effect connection in this case, intellectuals are not able to produce or publish their writing because of they are not equipped with writing skills when they were in school. Why I can say like that? My interpretation is going to be elaborated as follows.
Education as a means to educate people is a method to increase the standard intelligence of a nation, and it can influence on the way of the nation to take care of the citizenries and take along the nation to the bright future as a cultured or civilized nation. A nation can be called as a cultured or civilized nation when the citizenries have awareness to keep their civilization, and the history said that the present people are like now because of many texts that the past people had written; the texts are about ideas, dreams, curiosity, etc. The intellectuals wrote their esoteric knowledge based on their major education and everything in their mind which were not realized at that time, and the texts are the great legacy for us to develop our live into modernity right now.
Writing text is one of the important ways to keep the civilization, and when the author of the article says that the intellectuals of our country lack writing skill it means that the present education system in Indonesia has failed to provide students with writing skills and surely our civilization will face the blockage or perhaps it will stop. Indonesia has been renowned as a consumptive country, we import a large number of cars, motorcycles, hand phones, televisions from another country, and now we are also consumptive in textbook writing, and so what can we produce? From the article we know that in Indonesia, textbook writing is not a lucrative endeavour, it is the publisher and the bookstores rather than the writer that benefit financially.
We are going to see this problem from education system first, every single one of us has ever done national examination or another examination and we will always see the questions are multiple choice or filling in the blanks, it is quite common to see the questions which are like that. Indirectly, the students have been restricted because of that. They are only forced to find what the right is and actually they can find out the right answer there. They are not accustomed to expand their perspective or argument about anything because the important thing is the right question not the comprehension, but actually the case is important as a basic of writing. It will be taken along as long as they are in school, they will be hard to answer non multiple choice question even thought they have many ideas in their mind but they cannot put forward them into their answer or writing.
Like I say before that writing is a method to keep the civilization, so we have to grow up our awareness to write everything for the first time and try to write based on our major education. When we write, we can get many things such as improving our mind, giving information for people, and changing our status from consumptive into productive.
I am with the author’s point of view to see this problem; all of us are pioneer of innovation. And to do innovation, we have to change our academic system to make the students can have critical and creative thinking which is fundamental to developing an academic culture and we have to keep our awareness as an Indonesian, we have to put our best effort into everything we do to change Indonesia and make our nation be cultured, and one of the method is writing.
Education as a means to educate people is a method to increase the standard intelligence of a nation, and it can influence on the way of the nation to take care of the citizenries and take along the nation to the bright future as a cultured or civilized nation. A nation can be called as a cultured or civilized nation when the citizenries have awareness to keep their civilization, and the history said that the present people are like now because of many texts that the past people had written; the texts are about ideas, dreams, curiosity, etc. The intellectuals wrote their esoteric knowledge based on their major education and everything in their mind which were not realized at that time, and the texts are the great legacy for us to develop our live into modernity right now.
Writing text is one of the important ways to keep the civilization, and when the author of the article says that the intellectuals of our country lack writing skill it means that the present education system in Indonesia has failed to provide students with writing skills and surely our civilization will face the blockage or perhaps it will stop. Indonesia has been renowned as a consumptive country, we import a large number of cars, motorcycles, hand phones, televisions from another country, and now we are also consumptive in textbook writing, and so what can we produce? From the article we know that in Indonesia, textbook writing is not a lucrative endeavour, it is the publisher and the bookstores rather than the writer that benefit financially.
We are going to see this problem from education system first, every single one of us has ever done national examination or another examination and we will always see the questions are multiple choice or filling in the blanks, it is quite common to see the questions which are like that. Indirectly, the students have been restricted because of that. They are only forced to find what the right is and actually they can find out the right answer there. They are not accustomed to expand their perspective or argument about anything because the important thing is the right question not the comprehension, but actually the case is important as a basic of writing. It will be taken along as long as they are in school, they will be hard to answer non multiple choice question even thought they have many ideas in their mind but they cannot put forward them into their answer or writing.
Like I say before that writing is a method to keep the civilization, so we have to grow up our awareness to write everything for the first time and try to write based on our major education. When we write, we can get many things such as improving our mind, giving information for people, and changing our status from consumptive into productive.
I am with the author’s point of view to see this problem; all of us are pioneer of innovation. And to do innovation, we have to change our academic system to make the students can have critical and creative thinking which is fundamental to developing an academic culture and we have to keep our awareness as an Indonesian, we have to put our best effort into everything we do to change Indonesia and make our nation be cultured, and one of the method is writing.
Corpus Planning
The title of the article is “Rekayasa Bahasa dan Perubahan Sosial Budaya”. This article gives us an analysis about how language can change many things, such as social, culture, and perhaps language would be a thing that can be used to promote our country in global era. When I read this article for the first time, I think it is hard to understand what the purpose is because the author uses very scientific language to identify and elaborate the terms and I think that is on purpose because the target of this article are academicians, linguists, and all people who want to know about language more deeply.
Based on my reading and my interpretation about every term that I have read, I am very interested in some of terms of the article and of course I do agree because I think these are the important issue and the terms have connection with all problems that we face nowadays. The terms are corpus planning can change our way to see a problem because it makes the meaning of the words be vaguely and when Bahasa Indonesia wants to go international as a preparation when all things of other countries come to Indonesia.
Corpus planning (Euphemism) actually does not change the meaning of the world, but I think it can change our way to approach and catch the meaning of the word directly. According to Cambridge Learner’s Dictionary, it said that euphemism is a word or phrase used to avoid saying an unpleasant or offensive word. When the meaning of the word is vaguely, we will be forced to have many interpretations of the word and I have strong belief that it will change our perspective to see a problem. For examples, in Bahasa Indonesia “Corruption” or Korupsi (Bahasa Indonesia) has changed to “Komersialisasi Jabatan” and “Starvation” or Kelaparan (Bahasa Indonesia) has changed to “Rawan Pangan”. We are going to see the alteration meaning of these words:
1. Corruption Korupsi Komersialisasi Jabatan
In the past, when we heard “corruption”, our mind will fly to all kind of irregularity in the accounts and all people can do that. Now when corruption has changed to “Komersialisasi Jabatan”, we will think that corruption happens only in government because they have strategic position to do that. Yes, I concede the point but I think all people can do corruption for everything and everywhere. Say for example; when we join in such a regular social gathering whose members contribute to and take turns at winning an aggregate sum of money (Arisan) but suddenly the management flee with all members’ money without confirmation, should we say it as corruption or not?.
2. Starvation Kelaparan Rawan Pangan
Starvation is a big calamity. When it happens, it means that our country has failed to serve prosperity for the citizen, as we know that prosperity is a prime goal when our country was built and it had put in our constitution by the founding father of this country. And now, it has changed to “rawan” that means we
just have to prepare and try to avoid the starvation, so when it has been happening, can we still call it as “rawan pangan”? I think two examples above are the examples of using euphemism which is over and out of control.
In global era, language is very important thing to communicate with other people from overseas. We have known that English is international language which is used to communicate with all people in the world, but most of people in Indonesia cannot speak English and it will be a big problem for our country to compete with other country in global era in all sectors. The way that can we use is making Bahasa Indonesia becomes a global language, we know that there are more 15 countries which enter bahasa Indonesia in curriculum of their school, and definitely we are proud of this achievement. And when we want to make bahasa Indonesia be universal, we have to use it in right way and have capability to keep and to perpetuate the language as our culture or identity and has to be gone along with the attitude when we use it, in order to there is no misunderstanding there and the people from other country will be respect.
So, through this content, I consider that all kind of language planning has influenced social, culture and our perspective to see a meaning beyond the words but it has been over and out of control now and we have to solve this problem in order to make bahasa Indonesia go international. Over all, I agree with these terms of the article.
Based on my reading and my interpretation about every term that I have read, I am very interested in some of terms of the article and of course I do agree because I think these are the important issue and the terms have connection with all problems that we face nowadays. The terms are corpus planning can change our way to see a problem because it makes the meaning of the words be vaguely and when Bahasa Indonesia wants to go international as a preparation when all things of other countries come to Indonesia.
Corpus planning (Euphemism) actually does not change the meaning of the world, but I think it can change our way to approach and catch the meaning of the word directly. According to Cambridge Learner’s Dictionary, it said that euphemism is a word or phrase used to avoid saying an unpleasant or offensive word. When the meaning of the word is vaguely, we will be forced to have many interpretations of the word and I have strong belief that it will change our perspective to see a problem. For examples, in Bahasa Indonesia “Corruption” or Korupsi (Bahasa Indonesia) has changed to “Komersialisasi Jabatan” and “Starvation” or Kelaparan (Bahasa Indonesia) has changed to “Rawan Pangan”. We are going to see the alteration meaning of these words:
1. Corruption Korupsi Komersialisasi Jabatan
In the past, when we heard “corruption”, our mind will fly to all kind of irregularity in the accounts and all people can do that. Now when corruption has changed to “Komersialisasi Jabatan”, we will think that corruption happens only in government because they have strategic position to do that. Yes, I concede the point but I think all people can do corruption for everything and everywhere. Say for example; when we join in such a regular social gathering whose members contribute to and take turns at winning an aggregate sum of money (Arisan) but suddenly the management flee with all members’ money without confirmation, should we say it as corruption or not?.
2. Starvation Kelaparan Rawan Pangan
Starvation is a big calamity. When it happens, it means that our country has failed to serve prosperity for the citizen, as we know that prosperity is a prime goal when our country was built and it had put in our constitution by the founding father of this country. And now, it has changed to “rawan” that means we
just have to prepare and try to avoid the starvation, so when it has been happening, can we still call it as “rawan pangan”? I think two examples above are the examples of using euphemism which is over and out of control.
In global era, language is very important thing to communicate with other people from overseas. We have known that English is international language which is used to communicate with all people in the world, but most of people in Indonesia cannot speak English and it will be a big problem for our country to compete with other country in global era in all sectors. The way that can we use is making Bahasa Indonesia becomes a global language, we know that there are more 15 countries which enter bahasa Indonesia in curriculum of their school, and definitely we are proud of this achievement. And when we want to make bahasa Indonesia be universal, we have to use it in right way and have capability to keep and to perpetuate the language as our culture or identity and has to be gone along with the attitude when we use it, in order to there is no misunderstanding there and the people from other country will be respect.
So, through this content, I consider that all kind of language planning has influenced social, culture and our perspective to see a meaning beyond the words but it has been over and out of control now and we have to solve this problem in order to make bahasa Indonesia go international. Over all, I agree with these terms of the article.
Should the use of internet be limited?
Should the use of internet be limited?
Internet has developed rapidly; the user of it has been multiplied every time. At this time, access for internet is very easy. There are many providers for internet that can make us be easy to connect with internet by cable or noncable and almost all handphones which are sold now, have application to connect with internet in easy way. In this era, internet is not only to find out information but there are many websites to make social network such as facebook, twitter, friendster, my space, etc. Because of that, internet has been life style for modern people. Their activities always use internet in long time (to get information, to build social network, etc), and internet has bad influence on the users behaviour especially for adolescents if they use internet too much and too long and it can be solved with the use of internet be limited.
Internet has many bad impacts for us, if we use it too much we are in jeopardy. Pornography is popular issue when we are talking about internet because pornography has been the first popular business in the internet. When we want to get access for pornography website, it is not hard to do. Moreover, the websites of pornography can come to your PC, laptop, and handphone by e-mail or pop-up screen unexpectedly. What will happen when the user is a kid or adolescent? When they open the website for the first time, it can destroy their brain nerve and make them do that again and again. They know that what they do is wrong but they are afraid to say it. In quite apprehensive condition, it can rack their brains 2.5 times faster than normally. Because of that, their brains can be shrunken physically with the result that their brains fail to well-develop. The situation like that can deprave their future and can destroy their mind, because their memory have full of bad picture and it is hard to be lost in long time.
Besides that, internet can be like drug. The user can be addicted to browsing, playing game, chatting, building social network, etc. When somebody is addicted to internet, he/she will lean to unwilling to communicate with other people and will be an introvert and reclusive. Those facts can make the user has trouble to build socialization in real life. Will we have the next leader of our nation is like that? The impacts of internet will broke the future of the user, the user will never know at this time but he/she will regret in the end.
Internet has to be limited if we don’t want to shatter the future of our nation. The future of our nation is too precious to exchange with contentment of entertainment from the internet. There are many problems of our nation that have been vague because of the internet, the adolescents never put their best effort into everything they do to change our nation, and they are only busy to look for happiness in the internet. So, when the use of internet is limited, we have limited the destruction of our nation.
Internet has developed rapidly; the user of it has been multiplied every time. At this time, access for internet is very easy. There are many providers for internet that can make us be easy to connect with internet by cable or noncable and almost all handphones which are sold now, have application to connect with internet in easy way. In this era, internet is not only to find out information but there are many websites to make social network such as facebook, twitter, friendster, my space, etc. Because of that, internet has been life style for modern people. Their activities always use internet in long time (to get information, to build social network, etc), and internet has bad influence on the users behaviour especially for adolescents if they use internet too much and too long and it can be solved with the use of internet be limited.
Internet has many bad impacts for us, if we use it too much we are in jeopardy. Pornography is popular issue when we are talking about internet because pornography has been the first popular business in the internet. When we want to get access for pornography website, it is not hard to do. Moreover, the websites of pornography can come to your PC, laptop, and handphone by e-mail or pop-up screen unexpectedly. What will happen when the user is a kid or adolescent? When they open the website for the first time, it can destroy their brain nerve and make them do that again and again. They know that what they do is wrong but they are afraid to say it. In quite apprehensive condition, it can rack their brains 2.5 times faster than normally. Because of that, their brains can be shrunken physically with the result that their brains fail to well-develop. The situation like that can deprave their future and can destroy their mind, because their memory have full of bad picture and it is hard to be lost in long time.
Besides that, internet can be like drug. The user can be addicted to browsing, playing game, chatting, building social network, etc. When somebody is addicted to internet, he/she will lean to unwilling to communicate with other people and will be an introvert and reclusive. Those facts can make the user has trouble to build socialization in real life. Will we have the next leader of our nation is like that? The impacts of internet will broke the future of the user, the user will never know at this time but he/she will regret in the end.
Internet has to be limited if we don’t want to shatter the future of our nation. The future of our nation is too precious to exchange with contentment of entertainment from the internet. There are many problems of our nation that have been vague because of the internet, the adolescents never put their best effort into everything they do to change our nation, and they are only busy to look for happiness in the internet. So, when the use of internet is limited, we have limited the destruction of our nation.
Should plagiarists be put behind the bar?
Should plagiarists be put behind the bar?
Plagiarism happens when somebody or an author uses another person’s work without declare owe a debt of gratitude to somebody. Plagiarism can be intentional or not (because he/she doesn’t understand about the rule). Plagiarism is the same as robbery. Both plagiarism and robbery are criminal, because the plagiarist has taken idea, work, words, and etc from another person without permission. As we know that everything which is related to criminal has rewards, they are money paid as a punishment for breaking the law and be put behind the bar. Because of it, plagiarists be put behind the bar is reasonable.
Why plagiarism is criminal? Based on oxford advanced learner’s dictionary, plagiarism is a noun form of plagiarize that means, “Copy another person’s work, words, ideas, etc and pretend that they are your own”. If we see from Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 4th Edition, the meaning of plagiarism is “Copy another person’s work which break the Laws of Copyright”. The keywords of two definitions are copy another person’s work and break the laws of copyright. Regarding break the laws of copyright, our government has had many regulations about that. One of them is law of the Republic of Indonesia no. 20, 2003 about punishment for plagiarists. The regulation said that university graduates who are his/her academic writing is used to get academic title, profession, or vocation which is known the result of plagiarism, it has consequences are:
1. The academic title will be lost (article 25 clauses 2).
2. Will be put behind the bar at least two years and/or have to pay 200 millions rupiah (article 70).
Plagiarism gives many bad impacts for the doer, but the doer don’t realize of them. Because, when somebody do plagiarism for the first time, he/she will not realize that his/her brain nerve has been destroyed with opinion that what he/she has done is commonplace now and there is no wrong. But actually the case is not simple like that, there are law consequences behind. Besides that, other bad impacts of plagiarism are lazy, not creative, and rely on other people. As a student, we always have assignment to make an academic writing, and in this era we always use internet as our primary source. There is no bad thing from internet as our primary source but our way is wrong. We usually take the whole article in the internet and say it as our work, and we don’t realize that what we always do is part of plagiarism and we have broken the law.
If we see from the impact in the future, we can imagine what will happen if the student who will be the leader of nation have been accustomed to do plagiarism. The leader will not have ability to compose a good program for prosperity or give dedication to society because they always take other person’s idea as them when they were a student in elementary until university. It’s an example for us that plagiarism is serious thing.
The regulations have arranged very clear that all of type of plagiarism will get punishment. So, there is no question for us. Jail is the right place for plagiarist, before our next leader are destroyed with instant ways to get something, we have to make the plagiarists cure of their habit with put them behind the bar.
Plagiarism happens when somebody or an author uses another person’s work without declare owe a debt of gratitude to somebody. Plagiarism can be intentional or not (because he/she doesn’t understand about the rule). Plagiarism is the same as robbery. Both plagiarism and robbery are criminal, because the plagiarist has taken idea, work, words, and etc from another person without permission. As we know that everything which is related to criminal has rewards, they are money paid as a punishment for breaking the law and be put behind the bar. Because of it, plagiarists be put behind the bar is reasonable.
Why plagiarism is criminal? Based on oxford advanced learner’s dictionary, plagiarism is a noun form of plagiarize that means, “Copy another person’s work, words, ideas, etc and pretend that they are your own”. If we see from Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 4th Edition, the meaning of plagiarism is “Copy another person’s work which break the Laws of Copyright”. The keywords of two definitions are copy another person’s work and break the laws of copyright. Regarding break the laws of copyright, our government has had many regulations about that. One of them is law of the Republic of Indonesia no. 20, 2003 about punishment for plagiarists. The regulation said that university graduates who are his/her academic writing is used to get academic title, profession, or vocation which is known the result of plagiarism, it has consequences are:
1. The academic title will be lost (article 25 clauses 2).
2. Will be put behind the bar at least two years and/or have to pay 200 millions rupiah (article 70).
Plagiarism gives many bad impacts for the doer, but the doer don’t realize of them. Because, when somebody do plagiarism for the first time, he/she will not realize that his/her brain nerve has been destroyed with opinion that what he/she has done is commonplace now and there is no wrong. But actually the case is not simple like that, there are law consequences behind. Besides that, other bad impacts of plagiarism are lazy, not creative, and rely on other people. As a student, we always have assignment to make an academic writing, and in this era we always use internet as our primary source. There is no bad thing from internet as our primary source but our way is wrong. We usually take the whole article in the internet and say it as our work, and we don’t realize that what we always do is part of plagiarism and we have broken the law.
If we see from the impact in the future, we can imagine what will happen if the student who will be the leader of nation have been accustomed to do plagiarism. The leader will not have ability to compose a good program for prosperity or give dedication to society because they always take other person’s idea as them when they were a student in elementary until university. It’s an example for us that plagiarism is serious thing.
The regulations have arranged very clear that all of type of plagiarism will get punishment. So, there is no question for us. Jail is the right place for plagiarist, before our next leader are destroyed with instant ways to get something, we have to make the plagiarists cure of their habit with put them behind the bar.
Selasa, 27 September 2011
Curhat..
Premanisme Dalam Alunan Musik
Tulisan ini merupakan sebuah bentuk kegelisahan serta kekecewaan saya terhadap bergesernya karakter bangsa kita yang katanya ramah, sopan, santun, kekeluargaan, beradab. Karakter bangsa kita saat ini telah tergadaikan oleh urusan perut yang selalu menuntut untuk diisi tiga kali dalam sehari. Kegagalan pemerintah kah? (semoga kita tetap optimis bahwa pemerintah kita selalu bekerja dengan sepenuh hati demi perbaikan keadaan bangsa).
Sebuah kisah pribadi yang saya alami ketika beberapa bulan yang lalu (bukan ketika musim mudik lebaran) saya pulang ke Cirebon, pengalaman yang saya rasa biasa namun akhir-akhir ini mengusik ketentraman nurani. Saya mencoba menuangkan pengalaman ini berdasarkan kronologis kejadian sesungguhnya dan narasi yang sedikit figurativ agar dapat terdeskripsikan dengan jelas.
Inilah kisahnya !
Cirebon, ............ 2011
Pukul 13.00, Bhineka Sangkuriang berwarna merah itu memasuki gerbang Terminal Harjamukti Cirebon. Terlihat pantulan matahari yang begitu menyengat di luar sana, sangat kontradiktif dengan keadaan di dalam yang sejuk oleh semilir lembut hembusan angin dari AC yang terletak tepat di atas kepala. Penumpang yang tersisa saat itu tidak lebih dari sepuluh orang, namun suasana sangat ramai oleh tangisan seorang bayi kecil yang merengek meminta sang ayah untuk menggendongnya.
Bunyi rem berdenyit, diikuti oleh suara khas sang kondektur “Terminal abis, terminal abis!”. Satu persatu penumpang turun, namun saya tidak terburu-buru untuk turun karena sibuk oleh bungkus tahu sumedang yang berserakan di kursi saya dan tentu saja harus saya bereskan terlebih dahulu. Setelah selesai, saya berdiri kemudian menggendong tas hitam yang entah berapa kilogram beratnya saat itu namun yang pasti sangat terlihat berisi, saya berjalan di belakang seorang ibu yang saya terka usianya berkisar 50 tahun an. Ketika si ibu itu berada tepat di samping sang supir, si ibu dengan lembut mengatakan “Terimakasih pak...” kepada sang supir diiringi dengan senyuman kemudian mengatakan “Bismillah” seraya menginjakan kakinya ke tanah. Jiwa saya saat itu seolah tertiup hembusan energi batiniah yang secara luar biasa ditiupkan dengan halus oleh Tuhan melalui kejadian yang sangat sederhana, sang ibu begitu berterimakasih kepada sang supir yang dengan ikhlas mengemudikan sebongkah besi bermesin ini selama kurang lebih 5 jam perjalanan (manusia tidak akan mungkin hidup seorang diri, sang ibu bisa sampai tempat tujuan karena Tuhan memberikan kekuatan bagi sang supir untuk selalu terjaga dan mengemudikan kendaraan ini dengan baik), sang ibu begitu menyadari bahwa Tuhan memiliki kuasa atas hal terkecil di dunia ini, ketika akan menurunkan kakinya yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari tanah, ia masih menyebut nama Tuhan (sebuah pengakuan diri bahwa manusia tidak akan pernah mampu mengatur durasi hidupnya sendiri, meskipun hanya berjarak beberapa sentimeter saja, belum tentu kita masih mampu menghembuskan nafas ketika kaki kita telah menyentuh tanah).
Kesejukan batin yang saya rasakan ketika mencoba menghayati kejadian tersebut sesaat kemudian tersadarkan oleh bau khas suasana Cirebon, semilir angin AC segera digantikan oleh teriknya matahari siang itu. Panas, begitulah satu-satunya kata yang dapat mendeskripsikan daerah pesisir pantai utara ini (teman-teman saya selalu berkata begitu).
Langkah pertama saya ketika turun dari bus diikuti oleh beberapa tukang becak yang menawarkan jasanya, namun wajah mereka menunjukan kekecewaan ketika saya dengan terpaksa harus menolak jasa yang mereka tawarkan karena memang tempat yang akan saya tuju sangat tidak mungkin untuk ditempuh menggunakan becak. Ketika semakin mendekati pintu gerbang terminal, para kondektur mobil elf seolah berlomba menawarkan trayek yang mereka miliki “Babakan, Ciledug, Kuningan, Sindang” sehingga seolah nama-nama trayek itu berjejal masuk ke dalam telinga saya. Saya menganggukan kepala ketika seorang kondektur elf menawarkan trayeknya “Babakan bos?” Wajah sumringah dari kondektur paruh baya itu tidak bisa ditutupi, dengan seksama ia mengantarkan saya ke sebuah elf dengan warna oranye yang cukup menyala. Hanya empat orang saja yang berada di dalam elf itu, “Pantas si kondektur begitu senang ketika saya mengatakan tempat yang ingin saya tuju, penumpangnya masih sedikit” (Pikir saya dalam hati)
Bersambung....
Tulisan ini merupakan sebuah bentuk kegelisahan serta kekecewaan saya terhadap bergesernya karakter bangsa kita yang katanya ramah, sopan, santun, kekeluargaan, beradab. Karakter bangsa kita saat ini telah tergadaikan oleh urusan perut yang selalu menuntut untuk diisi tiga kali dalam sehari. Kegagalan pemerintah kah? (semoga kita tetap optimis bahwa pemerintah kita selalu bekerja dengan sepenuh hati demi perbaikan keadaan bangsa).
Sebuah kisah pribadi yang saya alami ketika beberapa bulan yang lalu (bukan ketika musim mudik lebaran) saya pulang ke Cirebon, pengalaman yang saya rasa biasa namun akhir-akhir ini mengusik ketentraman nurani. Saya mencoba menuangkan pengalaman ini berdasarkan kronologis kejadian sesungguhnya dan narasi yang sedikit figurativ agar dapat terdeskripsikan dengan jelas.
Inilah kisahnya !
Cirebon, ............ 2011
Pukul 13.00, Bhineka Sangkuriang berwarna merah itu memasuki gerbang Terminal Harjamukti Cirebon. Terlihat pantulan matahari yang begitu menyengat di luar sana, sangat kontradiktif dengan keadaan di dalam yang sejuk oleh semilir lembut hembusan angin dari AC yang terletak tepat di atas kepala. Penumpang yang tersisa saat itu tidak lebih dari sepuluh orang, namun suasana sangat ramai oleh tangisan seorang bayi kecil yang merengek meminta sang ayah untuk menggendongnya.
Bunyi rem berdenyit, diikuti oleh suara khas sang kondektur “Terminal abis, terminal abis!”. Satu persatu penumpang turun, namun saya tidak terburu-buru untuk turun karena sibuk oleh bungkus tahu sumedang yang berserakan di kursi saya dan tentu saja harus saya bereskan terlebih dahulu. Setelah selesai, saya berdiri kemudian menggendong tas hitam yang entah berapa kilogram beratnya saat itu namun yang pasti sangat terlihat berisi, saya berjalan di belakang seorang ibu yang saya terka usianya berkisar 50 tahun an. Ketika si ibu itu berada tepat di samping sang supir, si ibu dengan lembut mengatakan “Terimakasih pak...” kepada sang supir diiringi dengan senyuman kemudian mengatakan “Bismillah” seraya menginjakan kakinya ke tanah. Jiwa saya saat itu seolah tertiup hembusan energi batiniah yang secara luar biasa ditiupkan dengan halus oleh Tuhan melalui kejadian yang sangat sederhana, sang ibu begitu berterimakasih kepada sang supir yang dengan ikhlas mengemudikan sebongkah besi bermesin ini selama kurang lebih 5 jam perjalanan (manusia tidak akan mungkin hidup seorang diri, sang ibu bisa sampai tempat tujuan karena Tuhan memberikan kekuatan bagi sang supir untuk selalu terjaga dan mengemudikan kendaraan ini dengan baik), sang ibu begitu menyadari bahwa Tuhan memiliki kuasa atas hal terkecil di dunia ini, ketika akan menurunkan kakinya yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari tanah, ia masih menyebut nama Tuhan (sebuah pengakuan diri bahwa manusia tidak akan pernah mampu mengatur durasi hidupnya sendiri, meskipun hanya berjarak beberapa sentimeter saja, belum tentu kita masih mampu menghembuskan nafas ketika kaki kita telah menyentuh tanah).
Kesejukan batin yang saya rasakan ketika mencoba menghayati kejadian tersebut sesaat kemudian tersadarkan oleh bau khas suasana Cirebon, semilir angin AC segera digantikan oleh teriknya matahari siang itu. Panas, begitulah satu-satunya kata yang dapat mendeskripsikan daerah pesisir pantai utara ini (teman-teman saya selalu berkata begitu).
Langkah pertama saya ketika turun dari bus diikuti oleh beberapa tukang becak yang menawarkan jasanya, namun wajah mereka menunjukan kekecewaan ketika saya dengan terpaksa harus menolak jasa yang mereka tawarkan karena memang tempat yang akan saya tuju sangat tidak mungkin untuk ditempuh menggunakan becak. Ketika semakin mendekati pintu gerbang terminal, para kondektur mobil elf seolah berlomba menawarkan trayek yang mereka miliki “Babakan, Ciledug, Kuningan, Sindang” sehingga seolah nama-nama trayek itu berjejal masuk ke dalam telinga saya. Saya menganggukan kepala ketika seorang kondektur elf menawarkan trayeknya “Babakan bos?” Wajah sumringah dari kondektur paruh baya itu tidak bisa ditutupi, dengan seksama ia mengantarkan saya ke sebuah elf dengan warna oranye yang cukup menyala. Hanya empat orang saja yang berada di dalam elf itu, “Pantas si kondektur begitu senang ketika saya mengatakan tempat yang ingin saya tuju, penumpangnya masih sedikit” (Pikir saya dalam hati)
Bersambung....
Rabu, 21 September 2011
Gelap
Ketika matahari tertutup awan mendung...
Ketika gerhana menyelimuti gelap malam...
Ketika bintang seolah enggan menampakan elok rupanya...
Dunia hilang!
Hembus angin meniup lembut kemesraan dunia...
Tuhan turun bersama tetesan keringat dunia, menegur umatnya dengan gemuruh...
Dunia itu pasti kembali...
Seelok lantunan doa pagi..
Seriang celoteh bayi..
Matahari itu pun muncul..
Menyinari setiap sinar-sinar yg sempat tidak nampak bersinar..
Kehidupan...
Ketika gerhana menyelimuti gelap malam...
Ketika bintang seolah enggan menampakan elok rupanya...
Dunia hilang!
Hembus angin meniup lembut kemesraan dunia...
Tuhan turun bersama tetesan keringat dunia, menegur umatnya dengan gemuruh...
Dunia itu pasti kembali...
Seelok lantunan doa pagi..
Seriang celoteh bayi..
Matahari itu pun muncul..
Menyinari setiap sinar-sinar yg sempat tidak nampak bersinar..
Kehidupan...
Minggu, 14 Agustus 2011
Ilustrasi Para Birokrat
Mulla Nasruddin didatangi Komisi Pencari Fakta untuk kasus hilangnya para anggota parlemen: “Bis-bis yang mengangkut mereka melewati rumahmu Mulla, kau pasti melihat mereka”.
Mulla agak kesal... justru karena tidak mau diganggu, ia pindah ke desa, jauh dari keramaian kota, ternyata kota tetap mendatanginya juga.
“Ya, ya, saya melihat mereka. Mereka semua mati,” jawab Mulla masih dengan nada kesal.
“Mati, mati, Mulla? Dari mana kau tahu, mana mayat-mayat mereka?” Tanya ketua Komisi yang dulu pernah menjadi Ketua sebuah komisi lain di parlemen yang karena dianggap berperilaku “baik” – setorannya kepada “............” dianggap cukup – maka dipercaya lagi dengan tugas baru.
“Mati, ya mati. Semua orang tahu kalau mati itu seperti apa”. Terasa Mulla enggan membahas “kasus” itu.
Sang Ketua Komisi penasaran, ia mulai menaruh rasa curiga terhadap Mulla. Dari dulu, Mulla memang selalu vokal, tidak disukai banyak orang. “Apa maksudmu Mulla? Bila kau tidak membantu, terpaksa harus kita laporkan kepada pihak yang berwajib”.
“Berwajib? Siapa lagi yang berwajib? Bukankan ente berada di atas mereka semua? Pihak berwajib pun takut sama ente,” tanggap Mulla santai.
Ketua Komisi tersinggung, tapi bahagia juga. Ia mendapatkan pengakuan atas keberhasilan dirinya dan para koleganya menaklukan pihak berwajib. Komisi-komisi di parlemen memang sudah lebih berkuasa dari “pihak berwajib tempo doeloe”. “Sudah, sudah Mulla, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Darimana kau tahu mereka semua mati?”
“Aku melihatnya sendiri. Bis-bis yang mereka tumpangi itu masuk ke dalam jurang. Mereka semua mati, aku sendiri yang menguburkan mereka.”
“Kau menguburkan mereka? Waaduuh, waaduuh, waaduuh, tanpa pemeriksaan dokter, tanpa melaporkannya kepada pihak ber...., eh, setidaknya kepada kami?” Sang Ketua mulai mempercayai dirinya berada di atas pihak-pihak yang pernah disebut “berwajib”.
“Ya, mereka sudah mati. Mau lapor juga tidak akan menghidupkan kembali mereka kan?”
“Tetapi, saat menguburkan mereka apa kau pasti dan yakin bahwa semuanya sudah mati? Mulla, jumlah mereka lebih dari 200, empat bis penuh, dengan cara apa kau memastikan bahwa semuanya mati?”
“Mati, ya, mati..... Pakai cara apa saja, kan sama,” jawab Mulla lugu.
“Aduuuuh Mulla, terpaksa aku harus melaporkan kamu. Di penjara itu nggak enak loh. Jawablah pertanyanku, saat kau menguburkan mereka, apakah tidak seorang pun yang menjerit, meminta bantuan, semuanya mati?”
“Ya, yang menjerit sih banyak, minta bantuan pun banyak. Tapi, pikir saya, anggota parlemen kan selalu berbohong, saat itu pun pasti bohong. Maka, saya tegur mereka supaya tidak berbohong, ‘Kalian semua sudah mati, janganlah berbohong dan berpura-pura masih hidup! Aku kenal baik sifat kalian. Sepanjang hidup berbohong , saat kematian pun tetap berbohong. Insyaflah, sadarlah!’
“Mereka semua sungguh sudah mati, aku tinggal menguburkan saja!”
...... Anan Khrisna
Mulla agak kesal... justru karena tidak mau diganggu, ia pindah ke desa, jauh dari keramaian kota, ternyata kota tetap mendatanginya juga.
“Ya, ya, saya melihat mereka. Mereka semua mati,” jawab Mulla masih dengan nada kesal.
“Mati, mati, Mulla? Dari mana kau tahu, mana mayat-mayat mereka?” Tanya ketua Komisi yang dulu pernah menjadi Ketua sebuah komisi lain di parlemen yang karena dianggap berperilaku “baik” – setorannya kepada “............” dianggap cukup – maka dipercaya lagi dengan tugas baru.
“Mati, ya mati. Semua orang tahu kalau mati itu seperti apa”. Terasa Mulla enggan membahas “kasus” itu.
Sang Ketua Komisi penasaran, ia mulai menaruh rasa curiga terhadap Mulla. Dari dulu, Mulla memang selalu vokal, tidak disukai banyak orang. “Apa maksudmu Mulla? Bila kau tidak membantu, terpaksa harus kita laporkan kepada pihak yang berwajib”.
“Berwajib? Siapa lagi yang berwajib? Bukankan ente berada di atas mereka semua? Pihak berwajib pun takut sama ente,” tanggap Mulla santai.
Ketua Komisi tersinggung, tapi bahagia juga. Ia mendapatkan pengakuan atas keberhasilan dirinya dan para koleganya menaklukan pihak berwajib. Komisi-komisi di parlemen memang sudah lebih berkuasa dari “pihak berwajib tempo doeloe”. “Sudah, sudah Mulla, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Darimana kau tahu mereka semua mati?”
“Aku melihatnya sendiri. Bis-bis yang mereka tumpangi itu masuk ke dalam jurang. Mereka semua mati, aku sendiri yang menguburkan mereka.”
“Kau menguburkan mereka? Waaduuh, waaduuh, waaduuh, tanpa pemeriksaan dokter, tanpa melaporkannya kepada pihak ber...., eh, setidaknya kepada kami?” Sang Ketua mulai mempercayai dirinya berada di atas pihak-pihak yang pernah disebut “berwajib”.
“Ya, mereka sudah mati. Mau lapor juga tidak akan menghidupkan kembali mereka kan?”
“Tetapi, saat menguburkan mereka apa kau pasti dan yakin bahwa semuanya sudah mati? Mulla, jumlah mereka lebih dari 200, empat bis penuh, dengan cara apa kau memastikan bahwa semuanya mati?”
“Mati, ya, mati..... Pakai cara apa saja, kan sama,” jawab Mulla lugu.
“Aduuuuh Mulla, terpaksa aku harus melaporkan kamu. Di penjara itu nggak enak loh. Jawablah pertanyanku, saat kau menguburkan mereka, apakah tidak seorang pun yang menjerit, meminta bantuan, semuanya mati?”
“Ya, yang menjerit sih banyak, minta bantuan pun banyak. Tapi, pikir saya, anggota parlemen kan selalu berbohong, saat itu pun pasti bohong. Maka, saya tegur mereka supaya tidak berbohong, ‘Kalian semua sudah mati, janganlah berbohong dan berpura-pura masih hidup! Aku kenal baik sifat kalian. Sepanjang hidup berbohong , saat kematian pun tetap berbohong. Insyaflah, sadarlah!’
“Mereka semua sungguh sudah mati, aku tinggal menguburkan saja!”
...... Anan Khrisna
NII ; Bukti pancasila belum diterima oleh bangsanya?
NII ; Bukti pancasila belum diterima oleh bangsanya?
Sangat lucu memang ketika kasus gerakan separatis semacam NII (Negara Islam Indonesia) kembali mencuat ke permukaan dan menggegerkan masyarakat dari berbagai lapisan. Mengapa lucu? Karena Indonesia yang telah memilih pancasila sebagai ideologi bangsanya seharusnya tidak pantas mengalami kejadian seperti itu, pancasila sebagai ideologi yang diambil dan dikaji dari jati diri bangsa Indonesia, ketika kita berbicara jati diri seharusnya hal tersebut menjadi penghimpun dan komitmen bagi persatuan bangsa dan jangan sampai terbersit sedikitpun untuk mengubah dasar negara tersebut, karena jika kita merubahnya maka kita telah mencederai jati diri dan kehormatan kita yang telah dijaga berpuluh-puluh tahun tersebut. Saya akan mencoba mengkaji hal-hal yang menyebabkan pancasila seolah kehilangan kekuatan untuk menghimpun seluruh rakyat Indonesia dan mungkin saja pancasila belum diterima sepenuhnya oleh bangsanya sendiri, ada beberapa hal yang mugkin melatarbelakangi kemunduran kekuatan pancasila, hal tersebut antara lain:
1. Pancasila seharusnya hukum Islam
Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran pergerakan kaum muslim garis keras di Indonesia, mereka menginginkan perubahan dasar negara yang berlandaskan pancasila untuk digantikan dengan penegakan hukum islam dengan alasan bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia.
Namun kita harus ingat, Indonesia memang negara dengan mayoritas muslim terbesar tetapi bukan negara islam. Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang plural, berbagai kebudayaan, bahasa dan agama telah bercampur dan dipersatukan oleh pancasila. Saya pernah mendengar sebuah diskusi di salah satu stasiun televisi swasta yang mengadakan diskusi tentang permasalahan NII, kemudian salah satu narasumber mengatakan bahwa “Jika kita ingin membuat sebuah negara dengan berlandaskan agama, hal itu dapat dilakukan di negara yang memiliki satu kebudayaan besar (mayoritas). Indonesia tidak akan pernah mampu menjadi negara yang berlandaskan agama karena masyarakat kita memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya”. Jika Indonesia menjadi negara yang berlandaskan islam, hal itupun akan mengundang masalah baru karena konsep keislaman kitapun berbeda-beda setiap daerah tergantung kebudayaan dari masing-masing daerah tersebut. Indonesia adalah negara plural dan kepluralitasannya sesungguhnya telah terwakili dan diikat dalam saktinya pancasila.
2. Pancasila hanya jargon
Pancasila saat ini seolah hanya menjadi jargon politik, sebagai pemanis dalam pidato-pidato kenegaraan, sebagai penarik massa ketika berlangsungnya kampanye. Kesaktian pancasila digunakan serta dimanfaatkan bukan untuk menjadikannya sebagai pemersatu dan kekuatan dalam membangun serta memperbaiki kondisi bangsa yang terpuruk namun justru digunakan untuk mewujudkan ambisi pribadi dengan menggunakannya sebagai perisai dalam membentengi kendaraan politik yang busuk untuk mencapai kekuasaan.
Kita coba mengambil contoh pemerintahan era orde baru yang muncul sebagai sebuah gerakan kekecewaan terhadap era orde lama pimpinan Soekarno yang dianggap telah mengotak-atik kemurnian pancasila dan UUD 1945 sehingga menyebabkan berbagai penyimpangan dalam menjalankan sistem kekuasaan dalam pemerintah. Orde Baru hadir dengan cita-cita menjalankan pancasila semurni-murninya dalam segala kehidupan berbangsa dan bernegara, keinginan tersebut mendapat banyak dukungan karena rakyat telah terlanjur kecewa dengan gaya kepemimpinan Orde Lama yang seenaknya dalam menafsirkan pancasila.
Namun dalam pelaksanannya justru Orde Baru lebih jauh melenceng, mencederai dan menodai nilai-nilai kepancasilaan yang selalu digembor-gemborkan oleh mereka. Pancasila benar-benar menjadi jargon dan alat untuk berlindung serta menutupi kebusukan watak birokrasi kita pada waktu itu, para penjahat dapat dengan nyamannya melaksanakan kejahatan mereka. Kita dapat melihat betapa saktinya pancasila di negara ini, Pancasila dapat menjadi kekuatan pembangunan namun juga dapat menjadi tabir yang mampu menutupi kejahatan sebesar apapun.
3. Pancasila = sulit diamalkan
Setiap sila yang terkandung dalam pancasila memang terdengar begitu sangat mewakili setiap aspek kehidupan kebangsaan yang dijalani oleh rakyat Indonesia, namun masing-masing sila tersebut belum terlihat mampu diaplikasikan dalam kehidupan masyarakatnya di negara yang telah kurang lebih 66 tahun mengecap kemerdekaan dan bebas dari kolonialisme ini. Pancasila tidak hanya harus dilaksanakan oleh para pemegang kekuasaan namun sesungguhnya menjadi tanggungjawab seluruh masyarakat Indonesia, pancasila harus direpresentasikan dalam setiap tindak tanduk kehidupannya. Mari kita lihat paparan berikut ini;
1. Ketuhanan yang maha esa
Sila ke-1 ini menjadi fondasi kebangsaan, masalah ketuhanan atau dalam kata lain hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan dalam memeluk agama memiliki peran dan posisi yang begitu penting. Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa, dan setiap masyarakatnya bebas menentukan keyakinannya dalam memilih agama asalkan tidak melecehkan dan menistakan agama lain atau melanggar aturan yang diatur dalam undang-undang ataupun hukum agamanya masing-masing.
Sila inipun menjadi sangat krusial ketika timbul banyak aliran-aliran agama yang berhaluan sesat namun tidak menganggap dirinya sesat, mereka menganggap bahwa Tuhan mereka tetap satu, namun mereka tidak sadar sesungguhnya telah menistakan agamanya sendiri dengan mengubah keyakinan dalam konsep ritual keagamannya. Inilah wajah masyarakat bangsa kita, pancasila mengatakan “Ketuhanan yang maha esa” tidak hanya menyatakan bahwa setiap agama memiliki satu tuhan saja namun juga berarti bahwa penganut agama tersebut harus mematuhi aturan-aturan agama yang telah ditentukan oleh Tuhannya, dan saya yakin setiap agama mengatur setiap penganutnya untuk selalu berbuat baik dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Hal tersebut nampaknya sangat sulit diamalkan.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai sebuah sikap kebangsaan yang didasarkan pada potensi budi dan nurani manusia dalam hubungannya dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya. Setiap manusia memiliki hak untuk mempunyai ataupun memiliki kedudukan yang sama dan dijunjung martabatnya secara adil (objektif) dan tidak sewenang-wenang berdasarkan pada adab atau nilai budaya yang dianut oleh masyarakat. Namun dalam prakteknya, kita akan sangat sulit memperoleh keadilan di negara demokrasi ini.
3. Persatuan Indonesia
Persatuan yang ingin kita capai selama ini belum terlihat dalam kehidupan nyata kita sebagai sebuah bangsa, bangsa kita begitu mudah tersulut emosinya oleh isu-isu sensitif tentang suku ataupun ras. Padahal jika kita telah merasa satu, tentunya hal tersebut seharusnya tidak boleh terjadi. Contoh kecilnya adalah fanatisme yang diwujudkan secara berlebihan oleh para pendukung sepakbola, yang saat ini seolah berkembang menjadi sebuah kumpulan yang memiliki eksklusifitas kedaerahan yang begitu kental sehingga seolah ketika bertemu dengan kumpulan dari daerah lain, maka akan dianggap sebagai musuh. Inilah contoh penurunan rasa persatuan kebangsaan yang telah terjadi dalam realita kehidupan bangsa kita dan sesungguhnya secara tidak sadar kita telah menodai semangat pancasila dan menghancurkan salah satu pilar bagi tegaknya NKRI.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Kedaulatan bangsa kita berada ditangan rakyat, namun kedaulatan tersebut diwakilkan kepada para wakil rakyat yang mengemban sebuah amanah besar.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Hukum sebagai sebuah instrumen dalam konstitusi sebagai tempat pemberi keputusan yang diharapkan adil, saat ini tidak lebih hanyalah sebuah ladang emas bagi terlaksananya komersialisasi, politisasi dan jual beli kepentingan bagi kaum-kaum borjuis. Keadilan saat ini hanya mampu diberikan kepada orang-orang berduit, dan akan sangat sulit dijangkau oleh penuntut keadilan dari kelas rendah.
Bangsa kita tidak akan pernah bisa menjadi negara hukum ketika hukum dan para aparat penegaknya masih tunduk kepada kekuasaan, hukum hanya menjadi mainan bagi penguasa dan akan sangat sulit menyentuh mereka. Keadilan akan dapat dicapai ketika kita menghargai hukum sebagai sebuah komitmen dan jati diri kita, bukan sebagai sebuah aturan yang mengekang kebebasan kita.
Sangat lucu memang ketika kasus gerakan separatis semacam NII (Negara Islam Indonesia) kembali mencuat ke permukaan dan menggegerkan masyarakat dari berbagai lapisan. Mengapa lucu? Karena Indonesia yang telah memilih pancasila sebagai ideologi bangsanya seharusnya tidak pantas mengalami kejadian seperti itu, pancasila sebagai ideologi yang diambil dan dikaji dari jati diri bangsa Indonesia, ketika kita berbicara jati diri seharusnya hal tersebut menjadi penghimpun dan komitmen bagi persatuan bangsa dan jangan sampai terbersit sedikitpun untuk mengubah dasar negara tersebut, karena jika kita merubahnya maka kita telah mencederai jati diri dan kehormatan kita yang telah dijaga berpuluh-puluh tahun tersebut. Saya akan mencoba mengkaji hal-hal yang menyebabkan pancasila seolah kehilangan kekuatan untuk menghimpun seluruh rakyat Indonesia dan mungkin saja pancasila belum diterima sepenuhnya oleh bangsanya sendiri, ada beberapa hal yang mugkin melatarbelakangi kemunduran kekuatan pancasila, hal tersebut antara lain:
1. Pancasila seharusnya hukum Islam
Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran pergerakan kaum muslim garis keras di Indonesia, mereka menginginkan perubahan dasar negara yang berlandaskan pancasila untuk digantikan dengan penegakan hukum islam dengan alasan bahwa Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia.
Namun kita harus ingat, Indonesia memang negara dengan mayoritas muslim terbesar tetapi bukan negara islam. Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang plural, berbagai kebudayaan, bahasa dan agama telah bercampur dan dipersatukan oleh pancasila. Saya pernah mendengar sebuah diskusi di salah satu stasiun televisi swasta yang mengadakan diskusi tentang permasalahan NII, kemudian salah satu narasumber mengatakan bahwa “Jika kita ingin membuat sebuah negara dengan berlandaskan agama, hal itu dapat dilakukan di negara yang memiliki satu kebudayaan besar (mayoritas). Indonesia tidak akan pernah mampu menjadi negara yang berlandaskan agama karena masyarakat kita memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya”. Jika Indonesia menjadi negara yang berlandaskan islam, hal itupun akan mengundang masalah baru karena konsep keislaman kitapun berbeda-beda setiap daerah tergantung kebudayaan dari masing-masing daerah tersebut. Indonesia adalah negara plural dan kepluralitasannya sesungguhnya telah terwakili dan diikat dalam saktinya pancasila.
2. Pancasila hanya jargon
Pancasila saat ini seolah hanya menjadi jargon politik, sebagai pemanis dalam pidato-pidato kenegaraan, sebagai penarik massa ketika berlangsungnya kampanye. Kesaktian pancasila digunakan serta dimanfaatkan bukan untuk menjadikannya sebagai pemersatu dan kekuatan dalam membangun serta memperbaiki kondisi bangsa yang terpuruk namun justru digunakan untuk mewujudkan ambisi pribadi dengan menggunakannya sebagai perisai dalam membentengi kendaraan politik yang busuk untuk mencapai kekuasaan.
Kita coba mengambil contoh pemerintahan era orde baru yang muncul sebagai sebuah gerakan kekecewaan terhadap era orde lama pimpinan Soekarno yang dianggap telah mengotak-atik kemurnian pancasila dan UUD 1945 sehingga menyebabkan berbagai penyimpangan dalam menjalankan sistem kekuasaan dalam pemerintah. Orde Baru hadir dengan cita-cita menjalankan pancasila semurni-murninya dalam segala kehidupan berbangsa dan bernegara, keinginan tersebut mendapat banyak dukungan karena rakyat telah terlanjur kecewa dengan gaya kepemimpinan Orde Lama yang seenaknya dalam menafsirkan pancasila.
Namun dalam pelaksanannya justru Orde Baru lebih jauh melenceng, mencederai dan menodai nilai-nilai kepancasilaan yang selalu digembor-gemborkan oleh mereka. Pancasila benar-benar menjadi jargon dan alat untuk berlindung serta menutupi kebusukan watak birokrasi kita pada waktu itu, para penjahat dapat dengan nyamannya melaksanakan kejahatan mereka. Kita dapat melihat betapa saktinya pancasila di negara ini, Pancasila dapat menjadi kekuatan pembangunan namun juga dapat menjadi tabir yang mampu menutupi kejahatan sebesar apapun.
3. Pancasila = sulit diamalkan
Setiap sila yang terkandung dalam pancasila memang terdengar begitu sangat mewakili setiap aspek kehidupan kebangsaan yang dijalani oleh rakyat Indonesia, namun masing-masing sila tersebut belum terlihat mampu diaplikasikan dalam kehidupan masyarakatnya di negara yang telah kurang lebih 66 tahun mengecap kemerdekaan dan bebas dari kolonialisme ini. Pancasila tidak hanya harus dilaksanakan oleh para pemegang kekuasaan namun sesungguhnya menjadi tanggungjawab seluruh masyarakat Indonesia, pancasila harus direpresentasikan dalam setiap tindak tanduk kehidupannya. Mari kita lihat paparan berikut ini;
1. Ketuhanan yang maha esa
Sila ke-1 ini menjadi fondasi kebangsaan, masalah ketuhanan atau dalam kata lain hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan dalam memeluk agama memiliki peran dan posisi yang begitu penting. Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai suku bangsa, dan setiap masyarakatnya bebas menentukan keyakinannya dalam memilih agama asalkan tidak melecehkan dan menistakan agama lain atau melanggar aturan yang diatur dalam undang-undang ataupun hukum agamanya masing-masing.
Sila inipun menjadi sangat krusial ketika timbul banyak aliran-aliran agama yang berhaluan sesat namun tidak menganggap dirinya sesat, mereka menganggap bahwa Tuhan mereka tetap satu, namun mereka tidak sadar sesungguhnya telah menistakan agamanya sendiri dengan mengubah keyakinan dalam konsep ritual keagamannya. Inilah wajah masyarakat bangsa kita, pancasila mengatakan “Ketuhanan yang maha esa” tidak hanya menyatakan bahwa setiap agama memiliki satu tuhan saja namun juga berarti bahwa penganut agama tersebut harus mematuhi aturan-aturan agama yang telah ditentukan oleh Tuhannya, dan saya yakin setiap agama mengatur setiap penganutnya untuk selalu berbuat baik dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Hal tersebut nampaknya sangat sulit diamalkan.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai sebuah sikap kebangsaan yang didasarkan pada potensi budi dan nurani manusia dalam hubungannya dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya. Setiap manusia memiliki hak untuk mempunyai ataupun memiliki kedudukan yang sama dan dijunjung martabatnya secara adil (objektif) dan tidak sewenang-wenang berdasarkan pada adab atau nilai budaya yang dianut oleh masyarakat. Namun dalam prakteknya, kita akan sangat sulit memperoleh keadilan di negara demokrasi ini.
3. Persatuan Indonesia
Persatuan yang ingin kita capai selama ini belum terlihat dalam kehidupan nyata kita sebagai sebuah bangsa, bangsa kita begitu mudah tersulut emosinya oleh isu-isu sensitif tentang suku ataupun ras. Padahal jika kita telah merasa satu, tentunya hal tersebut seharusnya tidak boleh terjadi. Contoh kecilnya adalah fanatisme yang diwujudkan secara berlebihan oleh para pendukung sepakbola, yang saat ini seolah berkembang menjadi sebuah kumpulan yang memiliki eksklusifitas kedaerahan yang begitu kental sehingga seolah ketika bertemu dengan kumpulan dari daerah lain, maka akan dianggap sebagai musuh. Inilah contoh penurunan rasa persatuan kebangsaan yang telah terjadi dalam realita kehidupan bangsa kita dan sesungguhnya secara tidak sadar kita telah menodai semangat pancasila dan menghancurkan salah satu pilar bagi tegaknya NKRI.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Kedaulatan bangsa kita berada ditangan rakyat, namun kedaulatan tersebut diwakilkan kepada para wakil rakyat yang mengemban sebuah amanah besar.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Hukum sebagai sebuah instrumen dalam konstitusi sebagai tempat pemberi keputusan yang diharapkan adil, saat ini tidak lebih hanyalah sebuah ladang emas bagi terlaksananya komersialisasi, politisasi dan jual beli kepentingan bagi kaum-kaum borjuis. Keadilan saat ini hanya mampu diberikan kepada orang-orang berduit, dan akan sangat sulit dijangkau oleh penuntut keadilan dari kelas rendah.
Bangsa kita tidak akan pernah bisa menjadi negara hukum ketika hukum dan para aparat penegaknya masih tunduk kepada kekuasaan, hukum hanya menjadi mainan bagi penguasa dan akan sangat sulit menyentuh mereka. Keadilan akan dapat dicapai ketika kita menghargai hukum sebagai sebuah komitmen dan jati diri kita, bukan sebagai sebuah aturan yang mengekang kebebasan kita.
Pelajaran di Jalan
Pelajaran di Jalan
Tuhan memang memiliki kekuatan yang sangat besar yang tentunya kekuatan tersebut tidak akan pernah mampu dimiliki oleh makhluk-makhluknya, Tuhan mempunyai cara-cara yang tidak pernah kita fikirkan untuk menunjukan kebesaranNya melalui kejadian-kejadian yang terkadang kita anggap tidak penting atau luput dari perhatian kita. Sesungguhnya kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu itu dengan sia-sia, Tuhan selalu menjadikannya sebagai media bagi kita untuk memaksimalkan kualitas serta potensi terbaik kita untuk beranjak dari kondisi kehidupan kita sekarang menjadi manusia yang selalu berubah menjadi manusia yang baik. Sebuah kejadian sederhana yang beberapa hari lalu saya alami namun mampu membuat saya menjadi kesal, marah dan begitu merasa ironis menyaksikan potret asli masyarakat Indonesia saat ini. Mengapa saya berani menyebutkan kejadian tersebut sebagai potret asli masyarakat Indonesia? Kejadian tersebut saya anggap sebagai sebuah indikasi perubahan watak dan karakter bangsa yang cenderung menjadi individualis dan tidak peka terhadap kondisi sesamanya. Ungkapan bahwa seluruh masyarakat Indonesia laksana satu tubuh yang berarti ketika salah satu anggota tubuhnya mengalami luka, maka anggota tubuh yang lain merasakannya, tampaknya telah semakin memudar. Kejadian tersebut sebagai berikut:
Minggu, 19 Juni 2011. Hari minggu, hari yang selalu dinantikan oleh setiap insan yang selama satu minggu telah bergelut dengan berbagai aktivitas dan selalu ingin memanfaatkan hari tersebut untuk beristirahat ataupun melakukan kegiatan di luar aktivitas sehari-harinya dengan tujuan ingin memperoleh ketenangan secara batin dan menghilangkan penat. Sebuah hari yang cerah dan menyenangkan bagi seorang mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kewajibannya yaitu menempuh UAS (Ujian Akhir Semester) selama satu minggu dan ingin memanfaatkannya untuk berlibur. Hari itu saya putuskan untuk pergi ke Gasibu-an (sebuah kegiatan pasar mingguan yang menawarkan wisata belanja murah meriah yang berlangsung di Lapangan Gasibu) dengan harapan dapat menemukan barang yang ingin saya beli dan tentu saja dengan harga yang cocok dengan kantong saya sebagai mahasiswa dari kelas menengah.
Perjalanan dimulai dengan menaiki angkot jurusan Cicaheum – Ledeng yang berangkat dari Terminal Ledeng, angkot yang saya naiki cukup ramai oleh penumpang dari berbagai kalangan yaitu mahasiswa dengan tas besar (mungkin akan pulang kampung), ibu beserta anaknya, seorang wanita setengah baya dengan pakaian formal, dll. Meskipun penumpangnya cukup banyak, namun suasananya sepi karena semua penumpang diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing serta tidak ada komunikasi yang berarti diantaranya. Suasana mulai berubah ketika empat orang wanita yang saya pikir sebaya dengan saya menghentikan laju angkot di depan sebuah kampus universitas swasta yang berada di Jalan Dr. Setiabudhi. Keempat wanita tersebut menaiki angkot tersebut dan segera mengisi kursi yang masih tersedia, saya yakin bahwa mereka adalah seorang mahasiswi karena obrolan mereka pada waktu itu membicarakan masalah UAS yang telah mereka laksanakan dengan berbagai serba-serbi di dalamnya yang tentu saja membahas masalah dosen, pengawas dan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan. Mereka berbicara dengan volume suara yang saya pikir sangat tinggi sehingga setiap orang di dalam angkot tersebut dapat mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas.
“ Masa gue dapet B dong buat mata kuliah dia, gak bangetlah”
“Iya..udah mah ngajarnya gitu, gk jelas..gimana bisa ngerti materinya, eh nilainya susah”
Kurang lebih begitulah percakapan diantara mereka, secara pribadi saya cukup terganggu dengan cara berkomunikasi mereka karena suaranya yang cukup keras namun saya sadar bahwa ini adalah angkutan umum dan tentu saja kondisi tersebut adalah sesuatu yang wajar. Meskipun seharusnya ketika menggunakan fasilitas umum, kitapun harus memikirkan kenyamanan para pengguna yang lain. Obrolan dari keempat wanita tersebut masih berjalan normal dan masih membicarakan seputar kegiatan perkuliahan yang mereka jalani hingga entah bagaimana awalnya mereka menceritakan kegiatan liburan mereka masing-masing.
“Gue waktu ke Sumatera tujuh hari dong di jalannya aja, kan lewat darat tuh, gue senagaja biar nyantai”
“Serem bangetlah waktu di Aceh masih rame-ramenya GAM, tiap malem rumah-rumah pada diketokin, terus mayat-mayat tuh pada berjejer di jalanan kayak yang kejadian di Sampit tuh”
“Gue udah ngedatengin semua tempat wisata di Sumatera tapi gue belum pernah ke Danau Toba..haha”
“Tapi jujur, gue lebih suka Pulau Sumatera daripada Jawa, tempatnya lebih bagus-bagus”
“Iya, Sumatera tuh lebih nyaman”
Itulah sebagian percakapan mereka yang masih saya ingat, dan pada waktu itu saya semakin merasa tidak nyaman karena mereka berbicara seolah-olah semakin meninggikan suara mereka yang tentu saja sebenarnya ketidaknyamanan itu dirasakan oleh penumpang lain yang dapat saya lihat dari ekspresi wajah mereka dan bahasa tubuh yang mereka tunjukan. Sejujurnya saya masih memaklumi tingkah laku mereka yang berbicara dengan teman-temannya tanpa menghiraukan kenyamanan para penumpang lain, namun hal yang membuat saya semakin sedih dan sejujurnya sakit hati adalah ketika mereka dengan begitu santainya menceritakan kegiatan travelling mereka ke Singapura yang diiringi dengan kegiatan-kegiatan lain sebagai pengisi liburan mereka di sana.
“Waktu di Singapur, jam 8 itu masih gelap ya, pas gue turun dari hotel gue kaget lah kok masih kaya jam 6 pagi di Indonesia, pantesan orang singapur males-males”
“Gue waktu ribut sama nyokap, langsung aja gue cabut ke Soekarno-Hatta terus ke Singapur, bodo amat nyokap gue telpon terus-terusan. Gue angkat telponnya waktu gue udah nyampe di sana aja, eh dia malah katanya nitip beli piring-piringan gitu, yaudah gue beliin aja oleh-oleh dulu buat dia”
“Waktu gue ke Universal Studio tuh, kan di depannya banyak yang jual coklat ya, gue beli aja di situ, murah-murah banget lah, tapi adik gue gak suka yang manis-manis, jadi gue belinya sedikit deh”
“Yang tempat perlindungan hewan-hewan langka itu loh, bagus banget, lo pernah kesana gak?”
“pernah, tapi yang paling asyik yang waktu ke kampung chinanya itu loh, gue gak ngerti mereka ngmong apaan, haha...”
Mengapa saya sakit hati? Mengapa saya sedih? Dan apa hubungannya dengan indikasi perubahan watak dan karakter bangsa yang saya katakan di awal tulisan ini. Inilah yang mendasari pemikiran saya.
Bercerita tentang kegiatan bersenang-senang yang dilakukan oleh seseorang merupakan hak dan sesuatu yang lumrah dilakukan dan bisa jadi itu menambah referensi kegiatan yang dapat memberikan kesenangan dan mengisi waktu liburan yang kita miliki dengan kegiatan yang dapat memberikan kepuasan batin dan dapat menghilangkan kepenatan yang kita alami. Hal tersebut diwujudkan dengan baik dalam ilustrasi yang coba saya gambarkan melalui penggalan-penggalan percakapan di atas, mereka saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman tentang liburan mereka ke Sumatera dan Singapura, tempat-tempat yang memiliki pemandangan cantik, wahana permainan yang mengasyikan, dan tempat membeli souvenir-souvenir dengan berbagai variasi bentuk dan harga. Semua hal tersebut diceritakan dengan begitu detail oleh mereka di atas angkot dengan suara tinggi dan seolah-olah ingin didengar oleh penumpang lain.
Saya menganggap itu sebuah masalah dan bukti telah berubahnya watak masyarakat Indonesia yang menjadi acuh tak acuh terhadap sesamanya. Keempat wanita tersebut seolah tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka perbincangkan itu didengar oleh semua penumpang angkot yang terdiri dari berbagai macam latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi. Mungkin saja ada diantara penumpang angkot tersebut yang memiliki latar belakang ekonomi yang lemah, untuk makan hari ini saja masih harus menunggu ayah ataupun suami yang membawa uang hasil bekerja sebagai pedagang, buruh tani, dll. Sedangkan yang saya rasakan pada waktu itu adalah sakit hati karena saya belum pernah merasakan segala yang mereka ceritakan, jangankan untuk berlibur ke luar negeri, hanya untuk membeli sesuatu yang ingin saya beli saja saya harus menyisihkan sebagian rupiah yang saya miliki sebagai biaya makan saya sehari-hari, barulah saya dapat membeli barang yang saya inginkan. Saya menyadari bahwa itulah dinamika hidup, ada yang kaya tentu ada yang miskin, namun yang ingin saya soroti adalah sudah tidak mampukah kita menjaga perasaan kita satu sama lain, ketika yang kaya sebisa mungkin jangan dengan sengaja menonjolkan kekayaan yang mereka miliki dihadapan orang-orang yang secara strata ekonomi berada di bawah mereka, karena tentu saja tidak bermanfaat. Cobalah untuk sedikit memikirkan perasaan rakyat-rakyat yang hidup menggelandang di luar sana, yang mengais-ngais sisa makanan di tempat sampah yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi namun menjadi hidangan istimewa bagi mereka sebagai pengganjal perut dan mampu membuat mereka bertahan hidup minimal sampai mentari esok hari terbit.
Saya menganggap bahwa sikap seperti yang disebutkan di atas adalah elemen dasar dalam perubahan watak bangsa kita saat ini, watak yang akan terbawa dalam segala aspek kehidupan bangsa saat ini. Para birokrat yang memegang kekuasaan di pemerintahan saat ini mungkin akan sangat bangga ketika mereka menggunakan mobil-mobil mewah yang mereka miliki serta fasilitas hidup lainnya yang sudah begitu terjamin. Padahal sesungguhnya di luar tembok rumah mereka, pemulung sedang mengais-ngais sampah dan berharap ada sedikit rezeki di dalamnya. Kita tentu ingat pernyataan dari Ketua DPR Marzuki Ali yang begitu kontroversial tentang bersikukuhnya anggota DPR untuk membangun gedung baru bagi mereka, karena kita tentu tahu bahwa anggaran pembangunan itu sangat fantastis sedangkan disisi lain kondisi ekonomi masyarakat begitu morat-marit. Beliau mengatakan bahwa kebutuhan para anggota dewan jangan disamakan dengan kebutuhan rakyat biasa, sebuah pernyataan yang menjadi bukti bahwa saat ini masyarakat Indonesia hanya memikirkan kepentingan pribadinya saja, kita satu bangsa namun tidak satu tujuan.
Manusia memang memiliki kehidupannya masing-masing, namun yang ingin coba saya sampaikan disini adalah minimal kita memberikan perhatian kepada orang-orang yang nasibnya tidak seberuntung kita dengan cara menjaga perasaan mereka. Tidak menunjukan apa yang kita miliki, kelebihan harta, serta mempertontonkan otoritas kekuasaan kita dihadapan orang-orang yang tidak memiliki nasib yang sama, karena bisa jadi hal tersebut hanya akan menggoreskan sembilu di hati orang-orang yang sedang begitu tertekan untuk hidup di negara kaya namun miskin ini.
Sesuatu yang besar berawal dari munculnya sesuatu yang kecil dan sederhana, begitu pula sebuah kebiasaan serta karakter kepemimpinan bangsa dapat dibentuk. Ketika kita sebagai rakyat saja tidak mampu menjaga perasaan orang-orang di sekitar kita, maka tidak aneh ketika nantinya kita diberi amanah untuk memimpin bangsa ini hal lumrah yang kita lakukan adalah korupsi, pemerasan dan suap akan menjadi keseharian dalam sistem birokrasi bangsa ini, karena kita telah terlatih untuk tidak memikirkan perasaan serta nasib orang lain yang akan menanggung akibat dari perilaku kita. Pada awalnya kita tidak sadar telah menyakiti orang lain, namun seiring berjalannya waktu kita akan dengan sadar melakukan hal tersebut demi tercapainya keinginan pribadi.
Mental-mental seperti inilah yang harus dicegah oleh para calon penerus bangsa saat ini, tumbuhkan sikap simpati kita terhadap masalah-masalah sensitif yang ada di masyarakat. Tentu saja tidak dengan melalui jalan anarkis, namun akan lebih bijaksana ketika kita mengupayakan kebaikan bagi diri sendiri terlebih dahulu sehingga nantinya kita akan secara otomatis selalu berupaya memberikan kebaikan bagi orang lain melalui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, yaitu menjaga perasaan.
29 Juni 2011
Syarifuddin
Syarifuddin23@gmail.com
Tuhan memang memiliki kekuatan yang sangat besar yang tentunya kekuatan tersebut tidak akan pernah mampu dimiliki oleh makhluk-makhluknya, Tuhan mempunyai cara-cara yang tidak pernah kita fikirkan untuk menunjukan kebesaranNya melalui kejadian-kejadian yang terkadang kita anggap tidak penting atau luput dari perhatian kita. Sesungguhnya kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu itu dengan sia-sia, Tuhan selalu menjadikannya sebagai media bagi kita untuk memaksimalkan kualitas serta potensi terbaik kita untuk beranjak dari kondisi kehidupan kita sekarang menjadi manusia yang selalu berubah menjadi manusia yang baik. Sebuah kejadian sederhana yang beberapa hari lalu saya alami namun mampu membuat saya menjadi kesal, marah dan begitu merasa ironis menyaksikan potret asli masyarakat Indonesia saat ini. Mengapa saya berani menyebutkan kejadian tersebut sebagai potret asli masyarakat Indonesia? Kejadian tersebut saya anggap sebagai sebuah indikasi perubahan watak dan karakter bangsa yang cenderung menjadi individualis dan tidak peka terhadap kondisi sesamanya. Ungkapan bahwa seluruh masyarakat Indonesia laksana satu tubuh yang berarti ketika salah satu anggota tubuhnya mengalami luka, maka anggota tubuh yang lain merasakannya, tampaknya telah semakin memudar. Kejadian tersebut sebagai berikut:
Minggu, 19 Juni 2011. Hari minggu, hari yang selalu dinantikan oleh setiap insan yang selama satu minggu telah bergelut dengan berbagai aktivitas dan selalu ingin memanfaatkan hari tersebut untuk beristirahat ataupun melakukan kegiatan di luar aktivitas sehari-harinya dengan tujuan ingin memperoleh ketenangan secara batin dan menghilangkan penat. Sebuah hari yang cerah dan menyenangkan bagi seorang mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kewajibannya yaitu menempuh UAS (Ujian Akhir Semester) selama satu minggu dan ingin memanfaatkannya untuk berlibur. Hari itu saya putuskan untuk pergi ke Gasibu-an (sebuah kegiatan pasar mingguan yang menawarkan wisata belanja murah meriah yang berlangsung di Lapangan Gasibu) dengan harapan dapat menemukan barang yang ingin saya beli dan tentu saja dengan harga yang cocok dengan kantong saya sebagai mahasiswa dari kelas menengah.
Perjalanan dimulai dengan menaiki angkot jurusan Cicaheum – Ledeng yang berangkat dari Terminal Ledeng, angkot yang saya naiki cukup ramai oleh penumpang dari berbagai kalangan yaitu mahasiswa dengan tas besar (mungkin akan pulang kampung), ibu beserta anaknya, seorang wanita setengah baya dengan pakaian formal, dll. Meskipun penumpangnya cukup banyak, namun suasananya sepi karena semua penumpang diam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing serta tidak ada komunikasi yang berarti diantaranya. Suasana mulai berubah ketika empat orang wanita yang saya pikir sebaya dengan saya menghentikan laju angkot di depan sebuah kampus universitas swasta yang berada di Jalan Dr. Setiabudhi. Keempat wanita tersebut menaiki angkot tersebut dan segera mengisi kursi yang masih tersedia, saya yakin bahwa mereka adalah seorang mahasiswi karena obrolan mereka pada waktu itu membicarakan masalah UAS yang telah mereka laksanakan dengan berbagai serba-serbi di dalamnya yang tentu saja membahas masalah dosen, pengawas dan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan. Mereka berbicara dengan volume suara yang saya pikir sangat tinggi sehingga setiap orang di dalam angkot tersebut dapat mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas.
“ Masa gue dapet B dong buat mata kuliah dia, gak bangetlah”
“Iya..udah mah ngajarnya gitu, gk jelas..gimana bisa ngerti materinya, eh nilainya susah”
Kurang lebih begitulah percakapan diantara mereka, secara pribadi saya cukup terganggu dengan cara berkomunikasi mereka karena suaranya yang cukup keras namun saya sadar bahwa ini adalah angkutan umum dan tentu saja kondisi tersebut adalah sesuatu yang wajar. Meskipun seharusnya ketika menggunakan fasilitas umum, kitapun harus memikirkan kenyamanan para pengguna yang lain. Obrolan dari keempat wanita tersebut masih berjalan normal dan masih membicarakan seputar kegiatan perkuliahan yang mereka jalani hingga entah bagaimana awalnya mereka menceritakan kegiatan liburan mereka masing-masing.
“Gue waktu ke Sumatera tujuh hari dong di jalannya aja, kan lewat darat tuh, gue senagaja biar nyantai”
“Serem bangetlah waktu di Aceh masih rame-ramenya GAM, tiap malem rumah-rumah pada diketokin, terus mayat-mayat tuh pada berjejer di jalanan kayak yang kejadian di Sampit tuh”
“Gue udah ngedatengin semua tempat wisata di Sumatera tapi gue belum pernah ke Danau Toba..haha”
“Tapi jujur, gue lebih suka Pulau Sumatera daripada Jawa, tempatnya lebih bagus-bagus”
“Iya, Sumatera tuh lebih nyaman”
Itulah sebagian percakapan mereka yang masih saya ingat, dan pada waktu itu saya semakin merasa tidak nyaman karena mereka berbicara seolah-olah semakin meninggikan suara mereka yang tentu saja sebenarnya ketidaknyamanan itu dirasakan oleh penumpang lain yang dapat saya lihat dari ekspresi wajah mereka dan bahasa tubuh yang mereka tunjukan. Sejujurnya saya masih memaklumi tingkah laku mereka yang berbicara dengan teman-temannya tanpa menghiraukan kenyamanan para penumpang lain, namun hal yang membuat saya semakin sedih dan sejujurnya sakit hati adalah ketika mereka dengan begitu santainya menceritakan kegiatan travelling mereka ke Singapura yang diiringi dengan kegiatan-kegiatan lain sebagai pengisi liburan mereka di sana.
“Waktu di Singapur, jam 8 itu masih gelap ya, pas gue turun dari hotel gue kaget lah kok masih kaya jam 6 pagi di Indonesia, pantesan orang singapur males-males”
“Gue waktu ribut sama nyokap, langsung aja gue cabut ke Soekarno-Hatta terus ke Singapur, bodo amat nyokap gue telpon terus-terusan. Gue angkat telponnya waktu gue udah nyampe di sana aja, eh dia malah katanya nitip beli piring-piringan gitu, yaudah gue beliin aja oleh-oleh dulu buat dia”
“Waktu gue ke Universal Studio tuh, kan di depannya banyak yang jual coklat ya, gue beli aja di situ, murah-murah banget lah, tapi adik gue gak suka yang manis-manis, jadi gue belinya sedikit deh”
“Yang tempat perlindungan hewan-hewan langka itu loh, bagus banget, lo pernah kesana gak?”
“pernah, tapi yang paling asyik yang waktu ke kampung chinanya itu loh, gue gak ngerti mereka ngmong apaan, haha...”
Mengapa saya sakit hati? Mengapa saya sedih? Dan apa hubungannya dengan indikasi perubahan watak dan karakter bangsa yang saya katakan di awal tulisan ini. Inilah yang mendasari pemikiran saya.
Bercerita tentang kegiatan bersenang-senang yang dilakukan oleh seseorang merupakan hak dan sesuatu yang lumrah dilakukan dan bisa jadi itu menambah referensi kegiatan yang dapat memberikan kesenangan dan mengisi waktu liburan yang kita miliki dengan kegiatan yang dapat memberikan kepuasan batin dan dapat menghilangkan kepenatan yang kita alami. Hal tersebut diwujudkan dengan baik dalam ilustrasi yang coba saya gambarkan melalui penggalan-penggalan percakapan di atas, mereka saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman tentang liburan mereka ke Sumatera dan Singapura, tempat-tempat yang memiliki pemandangan cantik, wahana permainan yang mengasyikan, dan tempat membeli souvenir-souvenir dengan berbagai variasi bentuk dan harga. Semua hal tersebut diceritakan dengan begitu detail oleh mereka di atas angkot dengan suara tinggi dan seolah-olah ingin didengar oleh penumpang lain.
Saya menganggap itu sebuah masalah dan bukti telah berubahnya watak masyarakat Indonesia yang menjadi acuh tak acuh terhadap sesamanya. Keempat wanita tersebut seolah tidak menyadari bahwa apa yang sedang mereka perbincangkan itu didengar oleh semua penumpang angkot yang terdiri dari berbagai macam latar belakang pendidikan, sosial dan ekonomi. Mungkin saja ada diantara penumpang angkot tersebut yang memiliki latar belakang ekonomi yang lemah, untuk makan hari ini saja masih harus menunggu ayah ataupun suami yang membawa uang hasil bekerja sebagai pedagang, buruh tani, dll. Sedangkan yang saya rasakan pada waktu itu adalah sakit hati karena saya belum pernah merasakan segala yang mereka ceritakan, jangankan untuk berlibur ke luar negeri, hanya untuk membeli sesuatu yang ingin saya beli saja saya harus menyisihkan sebagian rupiah yang saya miliki sebagai biaya makan saya sehari-hari, barulah saya dapat membeli barang yang saya inginkan. Saya menyadari bahwa itulah dinamika hidup, ada yang kaya tentu ada yang miskin, namun yang ingin saya soroti adalah sudah tidak mampukah kita menjaga perasaan kita satu sama lain, ketika yang kaya sebisa mungkin jangan dengan sengaja menonjolkan kekayaan yang mereka miliki dihadapan orang-orang yang secara strata ekonomi berada di bawah mereka, karena tentu saja tidak bermanfaat. Cobalah untuk sedikit memikirkan perasaan rakyat-rakyat yang hidup menggelandang di luar sana, yang mengais-ngais sisa makanan di tempat sampah yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi namun menjadi hidangan istimewa bagi mereka sebagai pengganjal perut dan mampu membuat mereka bertahan hidup minimal sampai mentari esok hari terbit.
Saya menganggap bahwa sikap seperti yang disebutkan di atas adalah elemen dasar dalam perubahan watak bangsa kita saat ini, watak yang akan terbawa dalam segala aspek kehidupan bangsa saat ini. Para birokrat yang memegang kekuasaan di pemerintahan saat ini mungkin akan sangat bangga ketika mereka menggunakan mobil-mobil mewah yang mereka miliki serta fasilitas hidup lainnya yang sudah begitu terjamin. Padahal sesungguhnya di luar tembok rumah mereka, pemulung sedang mengais-ngais sampah dan berharap ada sedikit rezeki di dalamnya. Kita tentu ingat pernyataan dari Ketua DPR Marzuki Ali yang begitu kontroversial tentang bersikukuhnya anggota DPR untuk membangun gedung baru bagi mereka, karena kita tentu tahu bahwa anggaran pembangunan itu sangat fantastis sedangkan disisi lain kondisi ekonomi masyarakat begitu morat-marit. Beliau mengatakan bahwa kebutuhan para anggota dewan jangan disamakan dengan kebutuhan rakyat biasa, sebuah pernyataan yang menjadi bukti bahwa saat ini masyarakat Indonesia hanya memikirkan kepentingan pribadinya saja, kita satu bangsa namun tidak satu tujuan.
Manusia memang memiliki kehidupannya masing-masing, namun yang ingin coba saya sampaikan disini adalah minimal kita memberikan perhatian kepada orang-orang yang nasibnya tidak seberuntung kita dengan cara menjaga perasaan mereka. Tidak menunjukan apa yang kita miliki, kelebihan harta, serta mempertontonkan otoritas kekuasaan kita dihadapan orang-orang yang tidak memiliki nasib yang sama, karena bisa jadi hal tersebut hanya akan menggoreskan sembilu di hati orang-orang yang sedang begitu tertekan untuk hidup di negara kaya namun miskin ini.
Sesuatu yang besar berawal dari munculnya sesuatu yang kecil dan sederhana, begitu pula sebuah kebiasaan serta karakter kepemimpinan bangsa dapat dibentuk. Ketika kita sebagai rakyat saja tidak mampu menjaga perasaan orang-orang di sekitar kita, maka tidak aneh ketika nantinya kita diberi amanah untuk memimpin bangsa ini hal lumrah yang kita lakukan adalah korupsi, pemerasan dan suap akan menjadi keseharian dalam sistem birokrasi bangsa ini, karena kita telah terlatih untuk tidak memikirkan perasaan serta nasib orang lain yang akan menanggung akibat dari perilaku kita. Pada awalnya kita tidak sadar telah menyakiti orang lain, namun seiring berjalannya waktu kita akan dengan sadar melakukan hal tersebut demi tercapainya keinginan pribadi.
Mental-mental seperti inilah yang harus dicegah oleh para calon penerus bangsa saat ini, tumbuhkan sikap simpati kita terhadap masalah-masalah sensitif yang ada di masyarakat. Tentu saja tidak dengan melalui jalan anarkis, namun akan lebih bijaksana ketika kita mengupayakan kebaikan bagi diri sendiri terlebih dahulu sehingga nantinya kita akan secara otomatis selalu berupaya memberikan kebaikan bagi orang lain melalui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, yaitu menjaga perasaan.
29 Juni 2011
Syarifuddin
Syarifuddin23@gmail.com
Sabtu, 02 Juli 2011
Momentum pengembalian kesucian politik
Dalam teori klasik, Aristoteles mendefinisikan politik sebagai usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Hal tersebutlah yang dilakukan oleh para pendahulu kita ketika Indische Vereeninging yang merupakan wadah refleksi sikap kritis mahasiswa berubah nama pada tahun 1922 menjadi Indonesische Vereeninging yang berorientasi politik dan memiliki tujuan perjuangan bangsa dan setelah itu, sebagai bentuk penegasan identitas nasionalisme pada tahun 1925 organisasi ini kembali berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Pada waktu itu, berbagai elemen masyarakat bersama-sama membangun kegiatan politik sebagai wahana alternatif untuk memperjuangkan dan mewujudkan kemerdekaan bangsa.
Kemerdekaan yang telah kita raih saat ini adalah sebuah akhir dari episode panjang perjuangan heroik putra-putra terbaik bangsa yang harus merelakan jiwa, raga serta linangan air mata darah demi sebuah kebebasan dari tirani kekuasaan kolonial yang berabad-abad mengoyak ketentraman dan kemasyhuran nusantara. Kemerdekaan bangsa begitu gigih diperjuangkan oleh para pejuang melalui berbagai cara (perang, diplomasi, politik) dengan harapan yang besar bahwa ketika telah merdeka, kondisi Indonesia akan berubah menjadi lebih baik dan tentunya kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan. Namun apa yang terjadi saat ini, kesejahteraan bangsa hanya menjadi konsep indah di atas kertas namun begitu buruk dalam pelaksanaannya. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan seolah telah lupa terhadap tupoksinya untuk menyejahterakan rakyat, karena saat ini kursi pemerintahan tidak lebih hanya menjadi ajang berbagi kekuasaan para elit politik belaka. Sistem politik bangsa kita saat ini telah sangat rusak karena tujuan berpolitik bukan lagi untuk kepentingan bersama (bangsa) namun menjadi tempat meraih kekuasaan pribadi, golongan dan antek-anteknya. Orientasi para elit politik bukan lagi kesejahteraan para konstituennya, namun lebih cenderung oportunis terhadap pemanfaatan sektor-sektor strategis kehidupan masyarakat untuk melakukan politisasi dan komersialisasi bagi keuntungan pribadi.
Indonesia memiliki sistem politik yang sangat berbeda dengan negara demokratis lain; Indonesia memiliki MPR (ciri khas dari kearifan lokal Indonesia), MK (mengadili sengketa hasil pemilu), bentuk negara kesatuan yang menerapkan prinsip-prinsip federalisme yaitu dengan adanya DPD, Indonesia menganut sistem multipartai berbatas (adanya ambang batas suara bagi partai untuk menanempatkan anggotanya di DPR). Hal tersebutlah yang seharusnya menjadi kekuatan bagi elit politik sebagai karakter dan cara pandang mereka dalam berpolitik karena sistem politik Indonesia pasti berakar dari pancasila, ketika sistem tersebut ditafsirkan dengan cara yang salah maka mereka tidak menghargai nilai-nilai luhur pancasila.
Di era demokrasi saat ini seolah tidak ada hal yang mampu lepas dari jerat politisasi. Pendidikan, hukum, ekonomi, olahraga dan sosial semuanya akan selalu berkaitan dengan praktek-praktek politik yang cenderung kotor dan di dalamnya tentu terdapat aliran uang haram yang bermuara kepada kantong penguasa yang menjadi aktor intelektual di belakang pelaksanaan praktek tersebut. Kita dapat melihat berbagai kasus pelanggaran hukum yang terjadi sekarang selalu berbau politik, entah pelakunya yang seorang kader partai politik ataupun penyelesaian kasusnya yang melalui keputusan politik, dll. Inikah fungsi politik dan partai politik di Indonesia? Hanya menjadi tempat mengumbar janji-janji kesejahteraan masyarakat untuk memuluskan langkah mereka meraih kekuasaan dan ketika kekuasaan itu didapat, rakyat jangan berharap para wakilnya merealisasikan janji tersebut, untuk mengingat janji yang telah diucapkan saja mungkin sulit. Rakyat saat ini seolah sudah jengah dengan tingkah laku para politisi yang mengakibatkan ketidakpercayaan terhadap fungsi politik, ketika mendengar kata ‘politik’ maka yang terlintas dalam pikiran masyarakat saat ini hanyalah korupsi, kekuasaan, suap, dan hal negatif lainnya.
Politik seolah hanya menyebabkan timbulnya ‘sepsis’ bagi rakyat, meskipun konteksnya berbeda namun memiliki kesamaan. Rakyat saat ini seolah menjadi korban keracunan yang disebabkan oleh hasil pembusukan sistem politik, rakyat diracuni dengan berbagai janji manis yang ditawarkan politik namun sesungguhnya dalam proses pengelolaan sistem politiknya mengalami pembusukan moral, norma dan nilai-nilai sosial yang dilakukan oleh oknum-oknum penyelenggara politiknya sendiri.
Jika untuk masuk surga harus lewat partai politik, aku lebih baik tidak masuk surga (Thomas Jafferson). Politik memang menawarkan kekuasaan dan pencapaian harta yang instant, namun ketika hal itu yang selalu diaplikasikan maka apa jadinya bangsa ini? Indonesia akan hancur oleh praktek-praktek politik kotor yang dilakukan oleh putra-putrinya sendiri dan kesejahteraan yang dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan telah mereka khianati, tumpah darah serta ide briliant tentang konsep dan pengelolaan negara yang berorientasi pada kesejahteraan hanya menjadi catatan sejarah yang tak berarti.
Kecintaan terhadap bangsa dan semangat untuk memperbaiki kondisi bangsa bukanlah laksana bejana yang harus diisi, namun merupakan api yang harus selalu dinyalakan. Inilah solusi untuk terhindar dari jerat politik praktis, kemerdekaan yang telah 66 tahun kita rasakan seharusnya mampu mempertebal kecintaan kita dan semakin menyalakan api semangat perbaikan untuk mencapai kesejahteraan bangsa yang dahulu begitu dicita-citakan melalui kemerdekaan dari penjajahan kolonial. Hari kemerdekaan ini harus dijadikan sebagai momentum pelurusan sendi-sendi politik yang sempat dibengkokan untuk kembali kepada tujuan bersama yaitu kesejahteraan bangsa.
Senin, 06 Juni 2011
Mengkritik Para Pengkritik
Mengkritik Para Pengkritik
Tulisan ini terinspirasi atau bahkan mungkin terilhami dari sebuah buku kecil yang cukup sederhana yang baru-baru ini saya baca, buku tersebut berjudul “Orde Para Bandit” yang ditulis oleh Benny Susetyo, Pr. Bagian dari buku tersebut yang mampu mengundang ketertarikan dan menggugah pemikiran saya adalah pengantar buku tersebut yang dipaparkan oleh Ulil Abshar-Abdalla yang merupakan salah seorang tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) . Pada bagian pengantar tersebut, ada kalimat dari Ulil Abshar-Abdalla yang begitu menarik bagi saya, yaitu Dalam jangka panjang, demokrasi memang akan “membunuh” kegembiraan dalam tindakan politik sebagai vokasi dan panggilan, untuk digantikan dengan semacam kerutinan sinisme dan kritik yang terus menerus akan “menghancurkan” bentuk-bentuk yang hendak (tapi tidak sempat) dimapankan. (Ulil Abshar-Abdalla, Pengantar Orde Para Bandit- XIX). Kalimat tersebut begitu inspiratif dan mengingatkan saya tentang segala kejadian yang sering terjadi di segala bidang kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara yang kita jalani dan pasti kita lihat selama ini yaitu kritik. Saya mencoba mengelaborasi interpretasi serta pemahaman saya dan mencoba membuat relasi antara isu tersebut dengan fakta yang terjadi saat ini dan menjadi wajah bangsa kita di era yang katanya demokrasi ini.
Kritik atau criticize (bahasa Inggris) secara umum dapat didefinisikan sebagai – to express disapproval of someone or something (Cambridge Advanced Learner’s Dictionary). Dari definisi tersebut kita dapat menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa sebuah kritik akan bisa hadir atau timbul ketika kita merasa bahwa seseorang atau sesuatu itu jelek atau salah. Kritik telah menjadi instrumen yang sangat penting dalam segala sektor kehidupan masyarakat saat ini seperti politik, sosial, ekonomi maupun organisasi karena kritik dapat berfungsi sebagai sebuah pengontrol dan sinyal peringatan bagi bergesernya atau berpindahnya lintasan lokomotif yang membawa gerbong berisi niat baik, program, kebaikan serta tujuan kemaslahatan umat dari rel yang seharusnya dilalui. Pergeseran atau perpindahan lintasan tersebut dapat menyebabkan terjadinya dua hal, yaitu tidak tersampaikannya segala hal yang hendak dibawa ke tujuan atau terguling serta hancurnya kereta. Kritik sebagai sebuah pengontrol dan pengingat bagi pemegang kekuasaan memang begitu bermanfaat dan dapat tetap menjaga konsistensi birokrasi dalam mengemban amanah yang diberikan, namun kritik saat ini seolah-olah hanya menjadi bumbu ketika terjadi pemisahan dua kubu, penyedap bagi terlaksananya debat dan sarana untuk menilai dan mempersalahkan orang lain yang sesungguhnya belum tentu kita mampu melaksanakan segala hal yang kita katakan ketika mengkritik tingkah laku orang lain ataupun kebijakan pemerintah. Terkadang kita terjebak oleh konsep serta pemahaman terhadap kritik, kita akan begitu berani mengkritik terhadap sebuah keburukan namun terkadang kita salah ketika melakukan penyampaiannya dan yang lebih ekstrim adalah ketika kita justru melakukan hal yang telah kita kritik secara nyata dan terbuka sebelumnya.
Kritik saat ini telah berkembang bukan sebagai pengontrol namun seolah-olah hanya menjadi sebuah kerutinan sinisme, ketika ada sesuatu kebijakan yang begitu berpotensi untuk terjadinya perbedaan pendapat maka sang pengemban amanah (pemerintah) harus siap memperoleh kritik dari berbagai pihak khususnya dari pihak oposisi ataupun kelompok-kelompok lain yang bertentangan dengan pemerintah. Sebenarnya hal tersebut begitu wajar, namun saat ini rakyat telah bosan dengan segala macam kritik dan seolah-olah telah menganggap kritik tidak sebagai instrumen penting dalam kontrol politik namun hanya menjadi sebuah kerutinan dan menjadi ajang adu kekuatan argumen dan hanya mencari siapa yang benar dan siapa yang salah tanpa berusaha menemukan solusi konkrit dari permasalahan yang dihadapi. Setiap manusia Indonesia saat ini sudah memiliki kecerdasan yang relatif sama dalam memandang sebuah isu, semuanya sudah mampu menilai mana kebijakan yang baik dan bermanfaat serta kebijakan yang hanya menjadi ajang bagi-bagi upeti dalam sistem birokrasi pemerintahan. Kritik begitu mudah terlontar dari mulut masyarakat yang berasal dari berbagai kalangan ketika misalnya pemerintah menaikan harga BBM atau mengurangi subsidi, setiap orang akan berkomentar dengan cara dan latar belakang sosial ataupun pendidikannya masing-masing dan akan terang-terangan mengkritik bahwa pemerintah tidak berpihak kepada rakyat. Ketika yang berbicara adalah kaum menengah ke bawah, mereka akan berkomentar kemudian mengkritik dan secara langsung akan menghubungkannya dengan urusan perut mereka sebagai sebuah efek domino ketika harga BBM meningkat. Sedangkan dari kalangan para pakar serta pengamat biasanya akan melakukan kritik dengan sangat straight to the point, dalam arti menyalahkan pemerintah dengan berlandaskan pada analisa dan pengkajian disiplin ilmu tertentu, biasanya berbagai analisa tersebut akan diiringi dengan tawaran solusi-solusi yang menurut mereka jitu, dan yang menjadi pertanyaannya adalah sejauh mana realisasi terhadap solusi yang ditawarkan tersebut untuk menjadi sebuah keberhasilan? Lebih banyak kritik atau perubahan yang kita rasakan saat ini? Yang ingin saya coba katakan disini adalah kita harus berfikir bahwa pemerintah sebagai pengambil kebijakan pun tentu memiliki analisa dan pengkajian yang matang terhadap segala apapun yang menjadi kebijakannya, dan mungkin saja kebijakan tersebut telah diperhitungkan dengan baik mampu berangsur-angsur mengatasi permasalahan bangsa secara global namun sulit diwujudkan atau gagal diwujudkan karena banyaknya kritik yang terlanjur menjudge negatif terhadap kebijakan tersebut. Kemudian, solusi dari kritik tersebut pun akan sulit diwujudkan karena solusi tersebut pun belum tentu diterima oleh semua pihak dan justru akan menambah permasalahan karena bisa saja menjadi lahan baru untuk dikritik.
Bingung, diam, melamun, mengangguk-angguk sambil mencoba mengingat apa yang sering saya lihat dalam realita kehidupan politik bangsa saat ini, hingga pada akhirnya saya memperoleh Bingo Moment. Itulah ekspresi serta tahapan yang saya lakukan ketika begitu tertariknya saya dengan penggalan kalimat dari Ulil Abshar-Abdalla yaitu kritik yang terus menerus akan “menghancurkan” bentuk-bentuk yang hendak (tapi tidak sempat) dimapankan. Kritik dapat menjadi pengontrol namun dapat menjadi salah dan tidak bermanfaat ketika hanya menjadi ajang penilaian subjektif terhadap sebuah masalah, menganggap sesuatu jelek dan tidak akan berhasil padahal dengan begitu sama saja kita telah mendahului kehendak Tuhan.
Dengan kritik, segala konsep serta rencana yang dibuat dengan sangat matang dan berusaha untuk diwujudkan hanya akan menjadi sebuah rencana karena kita tidak sempat untuk segera mewujudkannya, kita telah terlalu terfokus untuk segera menentang rencana tersebut dengan analisa dan emosi sesaat serta perspektif negatif terhadap pengambil kebijakan. Bagi pengambil kebijakan, merekapun akan terlalu sibuk untuk menanggapi dan menjawab berbagai kritik yang diarahkan kepada mereka, hingga secara tidak sadar telah lupa untuk mewujudkan segala ide-ide briliant yang dimilikinya. Hal tersebut akan menjadi sebuah perputaran kejadian yang sangat menjemukan dan tidak memberikan kemajuan bagi pola pikir bangsa kita yang menurut saya sangat menganut pola pikir primitif, pola pikir yang saling tidak mempercayai satu sama lain dan menganggap kehidupan ini sebagai lahan untuk berperang, tentu konsep berperang disini tidak mengangkat senjata namun dengan kekuatan berargumen tetapi esensinya tetap saja untuk bertarung satu sama lain dan mengalahkan lawan sehingga dirinyalah yang diakui sebagai pemenang, pihak yang benar dan yang kalah harus tunduk terhadap yang menang. Sedangkan pihak yang kalah akan menyimpan dendam dan terus mencoba mencari celah kelemahan atau mejebak agar pihak yang menang melakukan tindakan yang akan menjadikan mereka lemah. Dalam hati kecil, saya berkata itulah wajah bangsa kita saat ini, segala aspek kehidupan bangsa ini telah menjadi ajang berperang meraih kedigjayaan pribadi, saling sikut serta tikam menjadi budaya kita dalam meraih ambisi pribadi dan hal itu seolah telah menjadi sebuah kewajaran.
Saya akan mengambil sebuah masalah yang dapat menjadi studi kasus dan membuka pandangan rekan-rekan, memang kasus ini terjadi dalam institusi atau lembaga pendidikan bukan dalam ranah politik namun kita tidak bisa menutup mata bahwa tidak ada bidang yang tidak dibumbui unsur politik dalam pelaksanaanya. Semoga tidak hanya saya yang beranggapan seperti ini. Kasusnya sebagai berikut:
Kampus tempat saya menempuh pendidikan saat ini sempat diguncang oleh berbagai aksi penolakan (demonstrasi dan propaganda) terhadap sebuah kebijakan dari pihak rektorat tentang pembaharuan sistem parkir kendaraan, dan yang menjadi sorotan adalah tentang point terakhir dalam SK Rektor tersebut tentang pembebanan biaya parkir terhadap mahasiswa. Pihak rektorat berdalih biaya tersebut akan digunakan untuk peremajaan lahan parkir, modernisasi sistem perparkiran, serta peningkatan fasilitas.
Ketika SK tersebut sampai di tangan para mahasiswa, hal tersebut mengundang berbagai tanggapan dan reaksi dari para tokoh kampus. Konsolidasi serta diskusi-diskusi dilaksanakan untuk menentukan sikap terhadap kebijakan tersebut dengan dikompor-kompori oleh berbagai jenis propaganda yang mengatakan bahwa kebijakan tersebut hanya semakin mempertegas adanya praktek komersialisasi pendidikan di istitusi tersebut dan semakin menempatkan mahasiswa sebagai objek kebijakan yang seolah-olah menjadi sapi perah untuk menggendutkan kantong-kantong para birokrat kampus. Berbagai diskusi tersebut akhirnya sampai kepada titik kulminasi sikap yang dipilih yaitu menolak kebijakan tersebut dengan bermuara kepada dilaksanakannya demonstrasi terhadap pihak rektorat yang mampu menarik massa dari berbagai lapisan insan mahasiswa dari berbagai fakultas. Demonstrasi dilaksanakan dengan diawali berkeliling kampus untuk menarik simpati dan mengajak mahasiswa lain untuk ikut serta dalam aksi penolakan tersebut dan berakhir di tempat yang menjadi tujuan akhir yaitu gedung rektorat, di sana para pendemo menyampaikan pernyataan sikap dari masing-masing perwakilan dan dilanjutkan dengan orasi menggebu-gebu, bernyanyi-nyanyi memanggil dewan rektorat untuk menemuinya dan mendengarkan segala aspirasi yang diklaim merupakan aspirasi seluruh mahasiswa. Sebuah aksi yang begitu heroik namun saya melihat aksi tersebut semakin mempertegas bahwa kita telah terjebak oleh paradigma salah tentang kritik, hal tersebut terlihat jelas di kehidupan kampus. Sudah menjadi rahasia umum ketika pihak rektorat dan semua ormawa tidak akan pernah memiliki satu pemahaman tentang konsep pengelolaan dan penentuan kebijakan kampus, ketika pihak rektorat membuat sebuah kebijakan maka sikap dari ormawa mungkin namun pasti akan berada pada sisi yang berlawan, menolak dan memandang negatif segala kebijakan rektorat.
Mari kita coba membawa masalah tersebut ke ranah kesadaran kita terhadap tanggungjawab dalam posisi kita masing-masing. Saya akan mencoba memetakan masalah tersebut seperti di bawah ini;
Alasan rektorat mengeluarkan kebijakan tersebut;
Pihak rektorat sebagai pemegang amanah untuk mengelola administrasi kampus telah melaksanakan tugasnya dengan baik yaitu menyusun program pembangunan dan mengeluarkan kebijakan dengan dasar kebaikan bagi kampus. Apabila program tersebut mampu berjalan tentu yang akan menikmatinya adalah seluruh warga kampus tersebut.
Ketika masalah pembayaran parkir yang dipermasalahkan karena membebani mahasiswa, apa salahnya membayar untuk terciptanya keamanan dan ketertiban serta peningkatan fasilitas, kita harus sadar ketika kita berada pada tempat yang kita anggap sebagai rumah kita, segala isi serta perawatan berbagai benda dan fasilitas di dalamnya dalah tanggungjawab kita. Memang sebagai mahasiswa yang bukan berasal dari kalangan berada. Sayapun merasa berat ketika harus membayar. Namun apabila kita mengembalikannya kepada rasa tanggungjawab dan rasa memiliki kepada kampus kita, tentunya kita akan bahagia ketika kampus kita menjadi lebih sedap dipandang karena ketertiban dan kenyamanan serta fasilitas yang modern karena uang yang kita keluarkan
Saya tidak bermaksud membela ataupun memenangkan salah satu pihak sehingga membenarkan tindakan yang dilakukannya, saya mencoba membawa masalah ini untuk kita bicarakan dengan bahasan otak dan hati. “Permasalahan Tuhan dan agama harus dibahas dengan menggunakan bahasan otak, bukan hati. Karena jika dibahas dengan hati, hasilnya pasti nisbi atau relatif. Jika ingin menemukan kebenaran mutlak, maka kajilah keberadaan Tuhan dan agama dengan menggunakan bahasan otak” (Ust. K.H Arifin Ilham –Rasionalitas Al-Qur’an). Begitulah kurang lebih kalimat yang saya dengan dari ceramah Ust. K.H Arifin Ilham yang bertema rasionalitas Al-Qur’an, alasan saya menjadikan kalimat tersebut sebagai dasar pemikiran saya adalah masalah yang berkaitan dengan manusia, semuanya relatif dalam arti manusia tidak mempunyai kapabilitas untuk membuat sebuah kebenaran mutlak sendiri. Manusia sesungguhnya tidak mampu menyatakan bahwa orang lain salah atau benar, manusia mampu menilai atas dasar aturan yang dibuat oleh manusianya sendiri padahal manusia adalah makhluk yang terkadang mudah terbawa nafsu, dan nafsu itu semuanya jika berlebihan akan membawa kepada keburukan.
Ketika kita menyatakan orang lain salah dalam bertindak atau menentukan sebuah kebijakan, apakah kita pun tidak pernah melakukan kesalahan. Ketika kita mengkritik seseorang seharusnya itu dijadikan pula sebagai kritik kepada diri sendiri (hati kecil Anda pasti merasakan hal itu), apabila yang kita kritik itu adalah manusia, tentu ia sama dengan kita yang juga manusia, sehingga kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan kesalahan yang sama dan memperoleh kritikan yang sama atau mungkin lebih. Ketika kita ingin mengkritik seseorang dengan berlandaskan kepada analisa ataupun data statistik yang paling akurat untuk meyakinkan bahwa kita adalah benar dan menganggap lawan kita salah (bahasan otak), mari kita mencoba berfikir bahwa bagaimana jika kita suatu saat nanti melakukan kesalahan yang sama dan dikritik dengan cara yang sama (bahasan hati), apakah kita akan menanggapinya dengan beradu argumen dan saling menganggap bahwa pihak kita yang benar? Jika itu yang dilakukan, itulah bukti bahwa kritik hanya menjadi sebuah kerutinan sinisme, menjadi sebuah kegiatan yang hanya berputar-putar bagai roda pedati yang tak kunjung berhenti, setiap pihak sibuk untuk mencari kebenaran mutlak diantara kebenaran relatif yang mereka miliki hingga melupakan tujuan yang seharusnya dicapai yaitu realisasi.
Masalah diatas hanyalah contoh kecil yang mungkin tidak mampu menjabarkan pemahaman saya tentang kritik yang sesungguhnya, namun saya ingin coba menyimpulkan bahwa kita harus menyadari posisi dan tupoksi kita masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita berposisi sebagai pemberi amanah kepada pemerintah (rakyat biasa), laksanakanlah tugas kita dengan baik sebagai masyarakat seperti melaksanakan aturan pemerintah, bekerja dengan giat, dll. Ketika kita berposisi sebagai penerima amanah (pemerintah/pemimpin) laksanakanlah tugas dengan berpatokan kepada pelaksanaan amanah demi terciptanya kesejateraan masyarakat. Kesadaran akan hal itulah yang telah hilang dalam karakter bangsa kita, itulah yang menyebabkan rakyat tidak mempercayai pemerintah yang sesungguhnya dipilih oleh mayoritas suara rakyat sendiri sehingga menimbulkan timbulnya banyak kritik yang sesungguhnya lebih banyak hanya menjadi penghancur bagi bentuk yang hendak (tapi tidak sempat) dimapankan, jika ini berlangsung terus menerus maka kemakmuran dan kemajuan bangsa kita seolah-olah hanya menjadi impian indah yang mampu meninabobokan kita dan ketika kita terbangun kembali hanya keadaan menyedihkanlah yang kita miliki.
Kritik sebagai pengontrol memang sangat vital bagi terciptanya reformasi dan demokrasi yang menjadi keinginan luhur bangsa kita, namun ketika hanya menjadi ajang peperangan antar pemegang kekuasaan dan pemberi amanah tentu menjadi tidak sehat bagi kedewasaan bangsa kita. Kritik harus menjadi senjata terakhir sebagai gerakan penuntutan pertanggungjawaban terhadap sebuah masalah, tumbuhkanlah rasa tanggungjawab terhadap posisi dan tupoksi kita, laksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya tanpa harus sibuk menilai kinerja orang lain. Selain itu, tumbuhkanlah rasa percaya kepada pemegang amanah yang telah kita pilih dengan suara mayoritas, bahwa pemegang amanah tersebut akan bertanggungjawab dan membawa kita kepada kebaikan. Tanggungjawab harus dimiliki oleh semua pihak, ketika semuanya bertanggungjawab maka kritik tidak akan hanya menjadi ajang peperangan primitif di era yang modern.
1 Juni 2011
Syarifuddin
Syarifuddin23@gmail.com
Tulisan ini terinspirasi atau bahkan mungkin terilhami dari sebuah buku kecil yang cukup sederhana yang baru-baru ini saya baca, buku tersebut berjudul “Orde Para Bandit” yang ditulis oleh Benny Susetyo, Pr. Bagian dari buku tersebut yang mampu mengundang ketertarikan dan menggugah pemikiran saya adalah pengantar buku tersebut yang dipaparkan oleh Ulil Abshar-Abdalla yang merupakan salah seorang tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) . Pada bagian pengantar tersebut, ada kalimat dari Ulil Abshar-Abdalla yang begitu menarik bagi saya, yaitu Dalam jangka panjang, demokrasi memang akan “membunuh” kegembiraan dalam tindakan politik sebagai vokasi dan panggilan, untuk digantikan dengan semacam kerutinan sinisme dan kritik yang terus menerus akan “menghancurkan” bentuk-bentuk yang hendak (tapi tidak sempat) dimapankan. (Ulil Abshar-Abdalla, Pengantar Orde Para Bandit- XIX). Kalimat tersebut begitu inspiratif dan mengingatkan saya tentang segala kejadian yang sering terjadi di segala bidang kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara yang kita jalani dan pasti kita lihat selama ini yaitu kritik. Saya mencoba mengelaborasi interpretasi serta pemahaman saya dan mencoba membuat relasi antara isu tersebut dengan fakta yang terjadi saat ini dan menjadi wajah bangsa kita di era yang katanya demokrasi ini.
Kritik atau criticize (bahasa Inggris) secara umum dapat didefinisikan sebagai – to express disapproval of someone or something (Cambridge Advanced Learner’s Dictionary). Dari definisi tersebut kita dapat menarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa sebuah kritik akan bisa hadir atau timbul ketika kita merasa bahwa seseorang atau sesuatu itu jelek atau salah. Kritik telah menjadi instrumen yang sangat penting dalam segala sektor kehidupan masyarakat saat ini seperti politik, sosial, ekonomi maupun organisasi karena kritik dapat berfungsi sebagai sebuah pengontrol dan sinyal peringatan bagi bergesernya atau berpindahnya lintasan lokomotif yang membawa gerbong berisi niat baik, program, kebaikan serta tujuan kemaslahatan umat dari rel yang seharusnya dilalui. Pergeseran atau perpindahan lintasan tersebut dapat menyebabkan terjadinya dua hal, yaitu tidak tersampaikannya segala hal yang hendak dibawa ke tujuan atau terguling serta hancurnya kereta. Kritik sebagai sebuah pengontrol dan pengingat bagi pemegang kekuasaan memang begitu bermanfaat dan dapat tetap menjaga konsistensi birokrasi dalam mengemban amanah yang diberikan, namun kritik saat ini seolah-olah hanya menjadi bumbu ketika terjadi pemisahan dua kubu, penyedap bagi terlaksananya debat dan sarana untuk menilai dan mempersalahkan orang lain yang sesungguhnya belum tentu kita mampu melaksanakan segala hal yang kita katakan ketika mengkritik tingkah laku orang lain ataupun kebijakan pemerintah. Terkadang kita terjebak oleh konsep serta pemahaman terhadap kritik, kita akan begitu berani mengkritik terhadap sebuah keburukan namun terkadang kita salah ketika melakukan penyampaiannya dan yang lebih ekstrim adalah ketika kita justru melakukan hal yang telah kita kritik secara nyata dan terbuka sebelumnya.
Kritik saat ini telah berkembang bukan sebagai pengontrol namun seolah-olah hanya menjadi sebuah kerutinan sinisme, ketika ada sesuatu kebijakan yang begitu berpotensi untuk terjadinya perbedaan pendapat maka sang pengemban amanah (pemerintah) harus siap memperoleh kritik dari berbagai pihak khususnya dari pihak oposisi ataupun kelompok-kelompok lain yang bertentangan dengan pemerintah. Sebenarnya hal tersebut begitu wajar, namun saat ini rakyat telah bosan dengan segala macam kritik dan seolah-olah telah menganggap kritik tidak sebagai instrumen penting dalam kontrol politik namun hanya menjadi sebuah kerutinan dan menjadi ajang adu kekuatan argumen dan hanya mencari siapa yang benar dan siapa yang salah tanpa berusaha menemukan solusi konkrit dari permasalahan yang dihadapi. Setiap manusia Indonesia saat ini sudah memiliki kecerdasan yang relatif sama dalam memandang sebuah isu, semuanya sudah mampu menilai mana kebijakan yang baik dan bermanfaat serta kebijakan yang hanya menjadi ajang bagi-bagi upeti dalam sistem birokrasi pemerintahan. Kritik begitu mudah terlontar dari mulut masyarakat yang berasal dari berbagai kalangan ketika misalnya pemerintah menaikan harga BBM atau mengurangi subsidi, setiap orang akan berkomentar dengan cara dan latar belakang sosial ataupun pendidikannya masing-masing dan akan terang-terangan mengkritik bahwa pemerintah tidak berpihak kepada rakyat. Ketika yang berbicara adalah kaum menengah ke bawah, mereka akan berkomentar kemudian mengkritik dan secara langsung akan menghubungkannya dengan urusan perut mereka sebagai sebuah efek domino ketika harga BBM meningkat. Sedangkan dari kalangan para pakar serta pengamat biasanya akan melakukan kritik dengan sangat straight to the point, dalam arti menyalahkan pemerintah dengan berlandaskan pada analisa dan pengkajian disiplin ilmu tertentu, biasanya berbagai analisa tersebut akan diiringi dengan tawaran solusi-solusi yang menurut mereka jitu, dan yang menjadi pertanyaannya adalah sejauh mana realisasi terhadap solusi yang ditawarkan tersebut untuk menjadi sebuah keberhasilan? Lebih banyak kritik atau perubahan yang kita rasakan saat ini? Yang ingin saya coba katakan disini adalah kita harus berfikir bahwa pemerintah sebagai pengambil kebijakan pun tentu memiliki analisa dan pengkajian yang matang terhadap segala apapun yang menjadi kebijakannya, dan mungkin saja kebijakan tersebut telah diperhitungkan dengan baik mampu berangsur-angsur mengatasi permasalahan bangsa secara global namun sulit diwujudkan atau gagal diwujudkan karena banyaknya kritik yang terlanjur menjudge negatif terhadap kebijakan tersebut. Kemudian, solusi dari kritik tersebut pun akan sulit diwujudkan karena solusi tersebut pun belum tentu diterima oleh semua pihak dan justru akan menambah permasalahan karena bisa saja menjadi lahan baru untuk dikritik.
Bingung, diam, melamun, mengangguk-angguk sambil mencoba mengingat apa yang sering saya lihat dalam realita kehidupan politik bangsa saat ini, hingga pada akhirnya saya memperoleh Bingo Moment. Itulah ekspresi serta tahapan yang saya lakukan ketika begitu tertariknya saya dengan penggalan kalimat dari Ulil Abshar-Abdalla yaitu kritik yang terus menerus akan “menghancurkan” bentuk-bentuk yang hendak (tapi tidak sempat) dimapankan. Kritik dapat menjadi pengontrol namun dapat menjadi salah dan tidak bermanfaat ketika hanya menjadi ajang penilaian subjektif terhadap sebuah masalah, menganggap sesuatu jelek dan tidak akan berhasil padahal dengan begitu sama saja kita telah mendahului kehendak Tuhan.
Dengan kritik, segala konsep serta rencana yang dibuat dengan sangat matang dan berusaha untuk diwujudkan hanya akan menjadi sebuah rencana karena kita tidak sempat untuk segera mewujudkannya, kita telah terlalu terfokus untuk segera menentang rencana tersebut dengan analisa dan emosi sesaat serta perspektif negatif terhadap pengambil kebijakan. Bagi pengambil kebijakan, merekapun akan terlalu sibuk untuk menanggapi dan menjawab berbagai kritik yang diarahkan kepada mereka, hingga secara tidak sadar telah lupa untuk mewujudkan segala ide-ide briliant yang dimilikinya. Hal tersebut akan menjadi sebuah perputaran kejadian yang sangat menjemukan dan tidak memberikan kemajuan bagi pola pikir bangsa kita yang menurut saya sangat menganut pola pikir primitif, pola pikir yang saling tidak mempercayai satu sama lain dan menganggap kehidupan ini sebagai lahan untuk berperang, tentu konsep berperang disini tidak mengangkat senjata namun dengan kekuatan berargumen tetapi esensinya tetap saja untuk bertarung satu sama lain dan mengalahkan lawan sehingga dirinyalah yang diakui sebagai pemenang, pihak yang benar dan yang kalah harus tunduk terhadap yang menang. Sedangkan pihak yang kalah akan menyimpan dendam dan terus mencoba mencari celah kelemahan atau mejebak agar pihak yang menang melakukan tindakan yang akan menjadikan mereka lemah. Dalam hati kecil, saya berkata itulah wajah bangsa kita saat ini, segala aspek kehidupan bangsa ini telah menjadi ajang berperang meraih kedigjayaan pribadi, saling sikut serta tikam menjadi budaya kita dalam meraih ambisi pribadi dan hal itu seolah telah menjadi sebuah kewajaran.
Saya akan mengambil sebuah masalah yang dapat menjadi studi kasus dan membuka pandangan rekan-rekan, memang kasus ini terjadi dalam institusi atau lembaga pendidikan bukan dalam ranah politik namun kita tidak bisa menutup mata bahwa tidak ada bidang yang tidak dibumbui unsur politik dalam pelaksanaanya. Semoga tidak hanya saya yang beranggapan seperti ini. Kasusnya sebagai berikut:
Kampus tempat saya menempuh pendidikan saat ini sempat diguncang oleh berbagai aksi penolakan (demonstrasi dan propaganda) terhadap sebuah kebijakan dari pihak rektorat tentang pembaharuan sistem parkir kendaraan, dan yang menjadi sorotan adalah tentang point terakhir dalam SK Rektor tersebut tentang pembebanan biaya parkir terhadap mahasiswa. Pihak rektorat berdalih biaya tersebut akan digunakan untuk peremajaan lahan parkir, modernisasi sistem perparkiran, serta peningkatan fasilitas.
Ketika SK tersebut sampai di tangan para mahasiswa, hal tersebut mengundang berbagai tanggapan dan reaksi dari para tokoh kampus. Konsolidasi serta diskusi-diskusi dilaksanakan untuk menentukan sikap terhadap kebijakan tersebut dengan dikompor-kompori oleh berbagai jenis propaganda yang mengatakan bahwa kebijakan tersebut hanya semakin mempertegas adanya praktek komersialisasi pendidikan di istitusi tersebut dan semakin menempatkan mahasiswa sebagai objek kebijakan yang seolah-olah menjadi sapi perah untuk menggendutkan kantong-kantong para birokrat kampus. Berbagai diskusi tersebut akhirnya sampai kepada titik kulminasi sikap yang dipilih yaitu menolak kebijakan tersebut dengan bermuara kepada dilaksanakannya demonstrasi terhadap pihak rektorat yang mampu menarik massa dari berbagai lapisan insan mahasiswa dari berbagai fakultas. Demonstrasi dilaksanakan dengan diawali berkeliling kampus untuk menarik simpati dan mengajak mahasiswa lain untuk ikut serta dalam aksi penolakan tersebut dan berakhir di tempat yang menjadi tujuan akhir yaitu gedung rektorat, di sana para pendemo menyampaikan pernyataan sikap dari masing-masing perwakilan dan dilanjutkan dengan orasi menggebu-gebu, bernyanyi-nyanyi memanggil dewan rektorat untuk menemuinya dan mendengarkan segala aspirasi yang diklaim merupakan aspirasi seluruh mahasiswa. Sebuah aksi yang begitu heroik namun saya melihat aksi tersebut semakin mempertegas bahwa kita telah terjebak oleh paradigma salah tentang kritik, hal tersebut terlihat jelas di kehidupan kampus. Sudah menjadi rahasia umum ketika pihak rektorat dan semua ormawa tidak akan pernah memiliki satu pemahaman tentang konsep pengelolaan dan penentuan kebijakan kampus, ketika pihak rektorat membuat sebuah kebijakan maka sikap dari ormawa mungkin namun pasti akan berada pada sisi yang berlawan, menolak dan memandang negatif segala kebijakan rektorat.
Mari kita coba membawa masalah tersebut ke ranah kesadaran kita terhadap tanggungjawab dalam posisi kita masing-masing. Saya akan mencoba memetakan masalah tersebut seperti di bawah ini;
Alasan rektorat mengeluarkan kebijakan tersebut;
- Sebagai bentuk pelaksanaan program modernisasi kampus
- Peningkatan ketertiban dan keamanan kendaraan yang masuk ke wilayah kampus
- Peningkatan fasilitas
- Modernisasi fasilitas belajar lebih baik diutamakan, jangan ke masalah parkir dulu
- Ketertiban dan keamanan sudah menjadi tanggungjawab pihak keamanan kampus, karena mereka digaji memang untuk itu. Apabila masih harus membayar uang parkir, apa bedanya pihak keamanan kampus dengan tukang parkir di pinggir jalan.
- Ketika mahasiswa melakukan registrasi ulang dengan menyerahkan sejumlah uang yang telah ditentukan, terdapat rincian keuangan yang tertera salah satunya untuk peningkatan fasilitas, jadi seharusnya uang itulah yang digunakan karena jumlah mahasiswa yang banyak tentu saja memungkinkan terkumpulnya dana yang banyak pula sehingga sangat mencukupi untuk terlaksananya penyediaan fasillitas kampus yang modern serta tertata dengan baik.
Pihak rektorat sebagai pemegang amanah untuk mengelola administrasi kampus telah melaksanakan tugasnya dengan baik yaitu menyusun program pembangunan dan mengeluarkan kebijakan dengan dasar kebaikan bagi kampus. Apabila program tersebut mampu berjalan tentu yang akan menikmatinya adalah seluruh warga kampus tersebut.
Ketika masalah pembayaran parkir yang dipermasalahkan karena membebani mahasiswa, apa salahnya membayar untuk terciptanya keamanan dan ketertiban serta peningkatan fasilitas, kita harus sadar ketika kita berada pada tempat yang kita anggap sebagai rumah kita, segala isi serta perawatan berbagai benda dan fasilitas di dalamnya dalah tanggungjawab kita. Memang sebagai mahasiswa yang bukan berasal dari kalangan berada. Sayapun merasa berat ketika harus membayar. Namun apabila kita mengembalikannya kepada rasa tanggungjawab dan rasa memiliki kepada kampus kita, tentunya kita akan bahagia ketika kampus kita menjadi lebih sedap dipandang karena ketertiban dan kenyamanan serta fasilitas yang modern karena uang yang kita keluarkan
Saya tidak bermaksud membela ataupun memenangkan salah satu pihak sehingga membenarkan tindakan yang dilakukannya, saya mencoba membawa masalah ini untuk kita bicarakan dengan bahasan otak dan hati. “Permasalahan Tuhan dan agama harus dibahas dengan menggunakan bahasan otak, bukan hati. Karena jika dibahas dengan hati, hasilnya pasti nisbi atau relatif. Jika ingin menemukan kebenaran mutlak, maka kajilah keberadaan Tuhan dan agama dengan menggunakan bahasan otak” (Ust. K.H Arifin Ilham –Rasionalitas Al-Qur’an). Begitulah kurang lebih kalimat yang saya dengan dari ceramah Ust. K.H Arifin Ilham yang bertema rasionalitas Al-Qur’an, alasan saya menjadikan kalimat tersebut sebagai dasar pemikiran saya adalah masalah yang berkaitan dengan manusia, semuanya relatif dalam arti manusia tidak mempunyai kapabilitas untuk membuat sebuah kebenaran mutlak sendiri. Manusia sesungguhnya tidak mampu menyatakan bahwa orang lain salah atau benar, manusia mampu menilai atas dasar aturan yang dibuat oleh manusianya sendiri padahal manusia adalah makhluk yang terkadang mudah terbawa nafsu, dan nafsu itu semuanya jika berlebihan akan membawa kepada keburukan.
Ketika kita menyatakan orang lain salah dalam bertindak atau menentukan sebuah kebijakan, apakah kita pun tidak pernah melakukan kesalahan. Ketika kita mengkritik seseorang seharusnya itu dijadikan pula sebagai kritik kepada diri sendiri (hati kecil Anda pasti merasakan hal itu), apabila yang kita kritik itu adalah manusia, tentu ia sama dengan kita yang juga manusia, sehingga kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan kesalahan yang sama dan memperoleh kritikan yang sama atau mungkin lebih. Ketika kita ingin mengkritik seseorang dengan berlandaskan kepada analisa ataupun data statistik yang paling akurat untuk meyakinkan bahwa kita adalah benar dan menganggap lawan kita salah (bahasan otak), mari kita mencoba berfikir bahwa bagaimana jika kita suatu saat nanti melakukan kesalahan yang sama dan dikritik dengan cara yang sama (bahasan hati), apakah kita akan menanggapinya dengan beradu argumen dan saling menganggap bahwa pihak kita yang benar? Jika itu yang dilakukan, itulah bukti bahwa kritik hanya menjadi sebuah kerutinan sinisme, menjadi sebuah kegiatan yang hanya berputar-putar bagai roda pedati yang tak kunjung berhenti, setiap pihak sibuk untuk mencari kebenaran mutlak diantara kebenaran relatif yang mereka miliki hingga melupakan tujuan yang seharusnya dicapai yaitu realisasi.
Masalah diatas hanyalah contoh kecil yang mungkin tidak mampu menjabarkan pemahaman saya tentang kritik yang sesungguhnya, namun saya ingin coba menyimpulkan bahwa kita harus menyadari posisi dan tupoksi kita masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita berposisi sebagai pemberi amanah kepada pemerintah (rakyat biasa), laksanakanlah tugas kita dengan baik sebagai masyarakat seperti melaksanakan aturan pemerintah, bekerja dengan giat, dll. Ketika kita berposisi sebagai penerima amanah (pemerintah/pemimpin) laksanakanlah tugas dengan berpatokan kepada pelaksanaan amanah demi terciptanya kesejateraan masyarakat. Kesadaran akan hal itulah yang telah hilang dalam karakter bangsa kita, itulah yang menyebabkan rakyat tidak mempercayai pemerintah yang sesungguhnya dipilih oleh mayoritas suara rakyat sendiri sehingga menimbulkan timbulnya banyak kritik yang sesungguhnya lebih banyak hanya menjadi penghancur bagi bentuk yang hendak (tapi tidak sempat) dimapankan, jika ini berlangsung terus menerus maka kemakmuran dan kemajuan bangsa kita seolah-olah hanya menjadi impian indah yang mampu meninabobokan kita dan ketika kita terbangun kembali hanya keadaan menyedihkanlah yang kita miliki.
Kritik sebagai pengontrol memang sangat vital bagi terciptanya reformasi dan demokrasi yang menjadi keinginan luhur bangsa kita, namun ketika hanya menjadi ajang peperangan antar pemegang kekuasaan dan pemberi amanah tentu menjadi tidak sehat bagi kedewasaan bangsa kita. Kritik harus menjadi senjata terakhir sebagai gerakan penuntutan pertanggungjawaban terhadap sebuah masalah, tumbuhkanlah rasa tanggungjawab terhadap posisi dan tupoksi kita, laksanakan tugas kita dengan sebaik-baiknya tanpa harus sibuk menilai kinerja orang lain. Selain itu, tumbuhkanlah rasa percaya kepada pemegang amanah yang telah kita pilih dengan suara mayoritas, bahwa pemegang amanah tersebut akan bertanggungjawab dan membawa kita kepada kebaikan. Tanggungjawab harus dimiliki oleh semua pihak, ketika semuanya bertanggungjawab maka kritik tidak akan hanya menjadi ajang peperangan primitif di era yang modern.
1 Juni 2011
Syarifuddin
Syarifuddin23@gmail.com
Langganan:
Komentar (Atom)